Meniti Wisata Sejarah Benteng Pendem Peninggalan Belanda

Meniti Wisata Sejarah Benteng Pendem Peninggalan Belanda

Benteng Van Den Bosch © travellingyuk.com

Indonesia pernah dijajah oleh beberapa negara. Di antara negara yang menjajah Indonesia, Belanda adalah negara yang pernah menjajah Indonesia dengan waktu paling lama yaitu mencapai 346 tahun.

Dalam kurun waktu tersebut, Belanda berhasil menguasai wilayah Indonesia mencakup pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Papua.

Ketika penjajahan selesai, banyak jejak-jejak dan peninggalan Belanda yang tertinggal di nusantara, salah satunya Benteng Van Den Bosch.

Potret Benteng Van Den Bosch dari atas | Foto: wartanasional.com

Benteng Van den Bosch atau lebih dikenal dengan Benteng Pendem merupakan sebuah benteng yang terletak di Jalan Untung Suropati, Kelurahan Palem, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur dengan memiliki luas tanah 15 Hektare.

Untuk dapat menuju ke sana, lokasinya sangat strategis dan mudah dijangkau kendaraan karena berada di sudut pertemuan sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun.

Benteng ini disebut dengan benteng pendem karena bangunannya yang sengaja dibuat lebih rendah dari tanah sekitar dengan dikelilingi oleh tanah tinggi sehingga terlihat dari luar terpendam.

Tanah yang tinggi tersebut memiliki tujuan sebagai tanggul yang menghalau luapan air Bengawan Solo sekaligus untuk menghalau lawan.

Pada abad ke-19, Ngawi menjadi salah satu pusat perdagangan dan pelayaran di Jawa Timur dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda di wilayah Madiun dan sekitarnya dalam Perang Diponegoro tahun 1825-1830.

Dalam perlawanan melawan Belanda, daerah setempat dipimpin oleh kepala daerah. Madiun dipimpin oleh Bupati Kerto Dirjo, Ngawi dipimpin oleh Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo, dan salah satu pengikut Pangeran Diponegoro bernama Wirotani.

Pada tahun 1825, daerah Ngawi berhasil direbut dan diduduki oleh Belanda. Untuk mempertahankan kedudukan dan fungsi strategis Ngawi serta menguasai jalur perdagangan, Pemerintah Hindia Belanda membangun benteng yang diselesaikan pada tahun 1845, yakni Benteng Van Den Bosch.

Di Benteng Van Den Bosch terdapat banyak ruang, seperti Koloseum di Roma. Asrama tentara terletak di lantai dua bangunan tersebut sedangkan bangunan bawah tanah digunakan sebagai penjara tahanan untuk penduduk lokal yang melawan Belanda.

Potret Jenderal Johannes Van Den Bosch | Foto: matakota.id

Benteng tersebut dihuni oleh 250 orang tentara Belanda bersenjatakan bedil, enam meriam api dan 60 orang kavaleri atau berkuda dengan dipimpin oleh Jenderal Johannes Van Den Bosch.

Seperti yang sudah Kawan GNFI ketahui, Jenderal Johannes Van Den Bosch adalah orang yang membuat ide sistem tanam paksa di Indonesia dan membangun benteng tersebut dengan namanya untuk dijadikan tempat menyusun dalam menyusun rencana-rencananya.

Benteng dengan bangunan bergaya Eropa dan Romawi ini juga menjadi saksi sejarah dari perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap Belanda karena tidak terima jika Ngawi dikuasai oleh Belanda.

Pada bagian dalam benteng, sebelah selatan bangunan kantor umum, terdapat dua buah sumur yang konon saat dahulu dijadikan sebagai kuburan massal dan sebagai tempat pembuangan jenazah tahanan, serta para pekerja rodi, dengan kedalaman 100 sampai 200 meter.

Sumur yang berada di dalam benteng | Foto: dakatour.com

Jika Kawan GNFI melihat secara langsung bangunan Benteng Van Den Bosch, ada beberapa bagian yang sudah setengah hancur. Hal itu bukan karena termakan zaman melainkan pada tahun 1942 hingga 1943, Benteng Van Den Bosch pernah dibom tentara Jepang di era Perang Dunia Kedua.

Hingga kini bangunan yang terkena bom sudah ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan dan dibiarkan sebagai saksi atas sejarah Indonesia silam.

Tak hanya bangunan benteng, di kawasan benteng tersebut juga terdapat makam K.H. Muhammad Nursalim yang merupakan salah satu pengikut Pangeran Diponegoro. Dahulu, K.H. Muhammad Nursalim pernah ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke Benteng bekas peninggalan Belanda itu.

Makam K.H. Muhammad Nursalim yang berada di dalam benteng | Foto: Sastro Blog

K.H. Muhammad Nursalim juga disebut sebagai orang yang pertama yang menyebarkan agama Islam di Ngawi dan menyulut semangat perlawanan di daerah sekitar.

Dalam melakukan perlawanan, K.H. Muhammad Nursalim dan pasukannya membuat Belanda ketar-ketir sebab mereka tahu bahwa Kyai memiliki kekuatan tidak mempan terhadap peluru dan arit.

Oleh karena itu, Belanda melakukan siasat dengan mengubur Kyai hidup-hidup dekat Benteng Van Den Bosch. Hingga kini makam K.H Muhammad Nursalim menjadi bukti kekejaman Belanda.

Jika berkunjung ke benteng ini, Kawan GNFI tidak hanya akan mendapatkan pengetahuan tentang ilmu sejarah dari benteng tapi juga dapat menikmati berbagai spot yang menarik untuk diabadikan.

Referensi: Wikipedia | idntimes

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kilas Balik Sejarah Televisi Indonesia Sebelummnya

Kilas Balik Sejarah Televisi Indonesia

3 Tips Public Speaking Agar Anak Anda Makin Percaya Diri Selanjutnya

3 Tips Public Speaking Agar Anak Anda Makin Percaya Diri

Dessy Astuti
@desstutt

Dessy Astuti

Literasi-kata.blogspot.com

Si penyuka buku, bakso, dan kucing.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.