Menyingkap Sejarah Candi Kedulan yang Hilang Ribuan Tahun

Menyingkap Sejarah Candi Kedulan yang Hilang Ribuan Tahun
info gambar utama

Candi Kedulan merupakan situs purbakala yang bercorak agama Hindu. Situs bersejarah ini terletak di Dusun Kedulan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurut catatan sejarah, candi ini dibangun sekitar abad ke-8 Masehi dan ke-9 Masehi pada saat zaman Mataram Kuno. Namun dalam ribuan tahun, candi ini kemudian menghilang dan baru kembali ditemukan pada tanggal 24 September 1993

Bedasarkan paparan Kebudayaan.Kemdikbud, Rabu (27/10/2021), Candi Kedulan ini ditemukan oleh para pekerja yang sedang menggali pasir. Pada saat itu mereka menemukan susunan blok-blok pada kedalaman tiga meter.

Salah satu pekerja bernama Sriyanto lalu menghubungi hasil temuan tersebut kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan kegiatan ekskavasi penyelamatan.

Bedasarkan hasil kajian stratigrafi, kemungkinan besar candi ini telah tertimbun lahar Gunung Merapi yang diduga kuat meletus pada Abad ke 11 Masehi. Saat itu diduga, letusannya berlangsung secara besar-besaran, sehingga menutup candi dengan lahar setebal 8 meter yang tersusun atas 15 lapisan sendimen.

Pada tanggal 15 sampai dengan 24 November 1993, ekskavasi candi ini langsung dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta yang bekerja sama dengan jurusan arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan aset arkeologi yang sudah mulai mengalami kerusakan dan mencegah kepunahan akibat adanya aktivitas manusia di wilayah setempat. Selain itu juga, ekskavasi dilakukan bertujuan agar bisa menemukan data arkeologi yang masih terpendam di dalam tanah.

Candi Panataran Masa Akhir Majapahit, Bertahan Tanpa Bantuan Penguasa

Menurut hasil ekskavasi, ditemukan beberapa hal menarik seperti Candi Kedulan merupakan bangunan berlatar belakang Hindu. Pasalnya ditemukan beberapa benda berupa lingga, arca Durga Mahisasuramardini dan arca Ganesa yang merupakan panteon agama Hindu.

Sementara itu Candi Kedulan secara vertikal terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki candi, tubuh candi, dan atap candi. Situs ini memiliki bagian kaki yang berdenah persegi berukuran, 12,05 x 12,05 meter dan tinggi 2,72 meter dengan penampil di sisi timur yang berfungsi sebagai tangga masuk.

Kalau dilihat dari bagian pipi akan terdapat bagian makara. Sementara itu bagian kaki candi juga memiliki selasar yang dikelilingi pagar langkan.Terdapat juga relung pada setiap sisi pada setiap tubuh candi, kecuali pada sisi timur yang merupakan pintu masuk ke dalam bilik.

Arca Durga terdapat pada relung sisi utara dan pada bagian bawah relung ada lubang yang berfungsi sebagai saluran air menuju selasar. Pada relung sisi barat berisi arca Ganesa, Sedangkan relung sisi selatan belum ditemukan arca yang mengisinya.

Bagian atas relung berhiaskan kala tanpa rahang bawah, di kanan kiri relung berhiaskan pilaster dengan motif dedaunan dan makara. Selain itu, Candi Kedulan juga memiliki pagar halaman I dan halaman II, namun yang baru ditemukan berupa pagar halaman I sisi utara dan selatan.

Sejarah pembangunan Candi Kedulan

Hingga sekarang belum ditemukan bukti yang tertulis tentang tujuan pembangunan Candi Kedulan. Sumber tertulis yang terkait dengan situs ini, terdapat pada prasasti Sumuņdul dan prasasti Pananggaran ditemukan pada 2002.

Kedua prasasti ini berhasil dibaca oleh Cahyono Prasodjo dan Riboet Darmosutopo dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Isinya menceritakan tentang adanya sebuah bendungan yang digunakan oleh masyarakat dari dua desa yakni Pananggaran dan Parhyangan, serta adanya kewajiban membayar pajak untuk pengelolaan bendungan tersebut.

Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu sudah mengenal manajemen irigasi dan pemanfaatannya dalam pertanian dengan baik. Selain itu, juga disebutkan adanya bangunan suci bernama Tiwagaharyyan. Namun belum dipastikan bahwa bangunan suci menunjuk Candi Kedulan.

Apalagi hingga kini belum ditemukan tanggal pasti pembangunan bangunan suci Tiwagaharyyan. Karena itulah untuk menentukan pembangunan Candi Keduluan mengacu pada angka yang tertera pada prasasti Sumuņdul dan prasasti Pananggaran yang berangka tahun 791 Saka atau 869 Masehi. Diperkirakan prasasti ini dibangun bersama dengan pembangunan Candi Kedulan.

Candi-candi Tertinggi di Bumi Pertiwi

Sementara itu pada tahun 2015 kembali ditemukan satu buah prasasti yang ditulis dengan aksara Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno yang berangka tahun 900 Masehi. Prasasti ini dinamakan Tlu Ron (Tiga Daun), isinya bercerita tentang perbaikan bendungan dan tanah perdikan bagi bangunan suci.

Menurut arkeolog Yoses Tanzaq dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan dari prasasti Tlu Ron yang ditemukan, Candi Kedulan memiliki nama asli Parahyangan i Tigaharyyan yang memiliki arti bangunan suci milik kerajaan.

“Prasasti Tiga Ron ditulis dengan huruf Jawa Kuna, berbahasa Sanskerta dan Jawa Kuna. Berisi tentang pembangunan saluran irigasi untuk mengairi ladang di Desa Kalikalihan yang pajaknya digunakan untuk memperbaiki bangunan suci di Tiga Ron (Tlu Ron). Dikisahkan pula, Raja Balitung pernah mandi di mata air dekat bangunan suci tersebut,” ucap Yoses.

Dinukil dari Kompas, Prasasti Sumundul dan Pananggaran dikeluarkan pada masa Raja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala (855-884 Masehi). Sementara prasasti Tlu Ron berasal dari tahun 900 Masehi, dikeluarkan pada masa Raja Balitung (898-910 M), jadi terdapat selisih 32 tahun antara terbitnya kedua prasasti tersebut.

Selain itu ditemukan bahwa pembangunan bendungan harus mengalami berbagai hambatan. Kegagalan ini bahkan sampai tiga kali karena berbagai faktor seperti bencana alam dan lain-lain.

Hal inilah yang membuat Raja Balitung mengalami frustrasi sehingga perlu memikirkan cara agar pembagunan itu berhasil. Dia Kemudian menunjuk seorang makudur sebagai pemimpin pembangunan bendungan. Makudur adalah pemimpin upacara penetapan sima.

Sima merupakan tanah yang diberikan batas kemudian menunjuk keperluan suci keagamaan. Sedangkan makadur memiliki tugas untuk membaca mantra dan sumpah saat upacara sima. Hal yang menarik adalah penggunaan makadur sangat jarang ditemukan pada era Mataram Kuno. Belum ditemukan alasan penggunaan makadur oleh Raja Balitung.

Bisa jadi hal ini dilakukan karena rasa frustrasi dari Raja Balitung akibat terhambatnya pembangunan bendungan yang terus menerus gagal. Sehingga penemuan Candi Kedulan ini merupakan bukti penghargaan atas peninggalan sejarah.

Proyek pemugaran untuk destinasi wisata

Candi Kedulan memang telah ditemukan sejak 1993, namun dalam waktu bertahun-tahun terbengkalai. Bahkan wilayah candi ini sering terendam oleh air sehingga dijadikan tempat memancing oleh masyarakat sekitar.

Karena itulah pada tahun 2021 ini, proyek pemugaran situs purbakala ini akan dilakukan. Menurut Plt. Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY, Zaimul Azzah menyebutkan proses pemugaran ini mestinya sudah dilaksanakan sejak 2020 kemarin.

Namun karena adanya pandemi Covid-19, proyek ini harus ditunda karena anggaran yang ada dialihkan untuk penanganan wabah. Pemugaran telah dimulai pada Juni dan direncanakan selesai dalam kurun waktu enam bulan.

Zaimul menyatakan bahwa pemugaran pertama sebenarnya telah dilakukan pada tahun 2018, lalu pada 2019 dilakukan pemugaran tiga candi perwara. Sedangkan untuk tahun ini pemugaran akan dilakukan kepada pagar candi yang kondisinya sudah rusak parah.

“Prosesnya memang sangat panjang, sejak September 1993 waktu para penggali pasir menemukan batu-batu candi, kemudian dilakukan studi ekskavasi, kami bekerja sama dengan Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UGM, baru pada 2018 dilakukan pemugaran candi utama. Butuh waktu 25 tahun,” kata Zaimul, dalam Kumparan.

Candi Prambanan, Boko, dan Candi Ijo Akan Terhubung Kereta Gantung?

Zaimul mengungkapkan ada beberapa kendala yang menghambat proses pemugaran, seperti candi yang terdapat di bawah tanah dan saat digali ternyata menemui banyak mata air yang membuatnya digenangi oleh air. Pada sisi barat terdapat juga sungai yang elevasinya lebih tinggi dari candi tersebut sehingga membuat debit mata air makin deras.

“Sehingga seperti kolam yang merendam di situ, sehingga digunakan untuk kolam pemancingan oleh masyarakat sekitar, karena memang belum dipugar, masih dalam tahap penelitian,” ujarnya.

Tantangan lain adalah pengaburan sejarah dan pengrusakan. Karena itulah penting untuk tetap menjaga warisan leluhur ini dengan menghormati kebesaran dan peninggalannya.

Sementara itu menukil Insan Wisata, salah satu cara menjaga hal ini adalah menjadikannya sebagai objek pariwisata. Namun tetap harus mendahulukan kelestarian Candi Kedulan, dibandingkan aspek ekonomi.

Karena pada zaman modern kini, belajar sejarah tidak hanya terpaku pada media buku. Tetapi juga mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Sehingga setelah mempelajari sejarah Candi Kedulan, akan lahir semangat pelestarian.

Selain itu tentunya dengan pemugaran dan peluang menjadikannya tempat wisata akan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Hal ini bisa dilihat dari pengalaman masyarakat di lingkar Candi Borobudur, Kabupaten Magelang.

Bagaimana masyarakat sekitar mampu terbantu perekonomiannya akibat usaha kecil seperti warung makan, parkir motor, Balai Ekonomi Desa (Balkondes), dan penginapan/homestay.

Ada lagi Candi Sojiwan, Kabupaten Klaten karena peran serta masyarakat dan dukungan dari pemerintah, hampir setiap tahunnya menyelenggarakan Festival Gerobak Sapi. Tentunya pemamfaatan situs budaya harus mengutamakan kepentingan pelestarian. Karena itulah perlu peran masyarakat untuk melestarikan agar bisa memberikan dampak ekonomi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini