WS Rendra, Ketika Si Burung Merak Berontak Melawan Tirani

WS Rendra, Ketika Si Burung Merak Berontak Melawan Tirani
info gambar utama

Inilah sajakku/ pamflet masa darurat/

Apakah artinya kesenian/ bila terpisah dari derita lingkungan/

Apakah artinya berpikir/ bila terpisah dari masalah kehidupan.../

Merupakan kutipan dari puisi pamflet berjudul Sajak Sebatang Lisong (1977), karya ini berasal dari seorang seniman bernama Wahyu Sulaiman (WS) Rendra. Sosok Rendra, memang tidak bisa digambarkan hanya dalam dunia kesenian.

Puisi-puisinya yang dirinya sebut "pamflet" telah melompat jauh menjadi sebuah perlawanan. Layaknya bara yang disiapkan untuk menyulut telinga siapa saja yang mendengarnya.

Rendra lahir pada 7 November 1935 di Surakarta, Jawa Tengah. Dia sebenarnya lahir dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra tetapi kemudian mengganti namanya setelah memutuskan mualaf pada 1970.

Dari kecil, Rendra sebenarnya hidup dalam tradisi dan budaya Gereja dengan aturan dan tata krama yang telah ditentukan. Hal ini inilah yang ditanamkan kuat oleh ayahnya kepada anak-anaknya, terutama kepada Rendra.

Tetapi Rendra telah berapi-api sejak kecil, dia sering keluyuran malam, menonton wayang salah satunya. Sontak hal ini membuat ayahnya murka, bukan karena anaknya menonton wayang tetapi budaya keluyuran malam tidak sesuai dengan tradisi priyayi.

"Perseteruannya yang berkepanjangan dengan sang ayah, Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo, adalah pemberontakannya yang pertama," tulis Lutfi Danajaya dalam artikel bertajuk WS Rendra: Penyair yang Memberontak dikutip dari Kultural, Selasa (9/11/2021).

Rendra sering membayangkan dirinya layaknya Wisanggeni karakter wayang yang dia gandrungi. Wisanggeni memang dikisahkan sebagai pemuda yang senantiasa mbalelo, tidak kenal kompromi, dan memberontak terhadap nilai yang dianggap tak layak.

Mengenang Karya Abadi Para Sastrawan Legenda Indonesia

Karena itulah dia tidak bisa mengikuti pendidikan otoriter yang diterapkan oleh ayahnya. Dirinya ingin hidup bebas menentukan jalan hidup sendiri sehingga sering berbeda pandangan dengan ayahnya.

Rendra kemudian memilih menjadi penyair, karya pertamanya dia kirim ke majalah Siasat sekitar tahun 1952. Pada awalnya Rendra lebih terkenal dengan puisi-puisi romantik, hal ini bisa terlihat dari antologi Ballada Orang-orang Tercinta (1957) dan Empat Kumpulan Sajak (1961).

Pada tahun 1964-1967, pria yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Gajah Mada ini pergi ke Amerika Serikat untuk belajar tentang teater di American Academy of Dramatic Art, New York. Di sinilah, Rendra mulai meninggalkan puisi-puisi berbentuk romantik, menjadi berbentuk kritik sosial.

"Mulai ketika dia belajar di Amerikalah puisi balada yang bersifat kritik sosial makin menguat dan kompleks sifatnya karena mengungkapkan berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat," tulis Yossy Fadly dalam skripsinya berjudul Kondisi dan Kritik Sosial Pada Masa Rezim Orde Baru dalam Puisi-Puisi WS Rendra.

Rendra: laras senjata dari suara kritis hati nurani rakyat

WS Rendra (Wikipedia)

Pada tahun 1967, Rendra pulang ke tanah air. Dirinya kemudian mendirikan Bengkel Teater. Melalui kelompok ini, Rendra mulai memberikan warna baru bagi dunia teater di Indonesia.

Bengkel Teater memang tidak hanya menjadi kelompok teater belaka. Tetapi dikembangkan menjadi sarang seni budaya yang juga terselip nilai-nilai religi.

“Maksud saya adalah memperbaiki pribadi sehingga bisa kreatif dan berguna bagi kehidupan, seperti halnya reparasi mesin di bengkel” kata Rendra pada majalah Aktuil No 182 edisi Desember 1975 hal.9.

Bengkel Teater memulai pentas pertama pada 1968 lewat pementasan Teater Mini Kata bertajuk Bip Bop. Setelah itu Bengkel Teater terus menggeliat dengan beragam karyanya.

Pengamat musik Denny Sakrie menyebut Rendra layaknya laras senjata dari suara kritis hati nurani rakyat Indonesia. Karena sejak dasawarsa 1970, sosok pria dengan julukan Si Burung Merak ini tak henti menyindir tirani rezim.

Denny mencontohkan dalam naskah drama Mastodon dan Burung Kondor yang menyindir kediktatoran pemerintah dan kesewenangan militer.

Ada juga Lysistrata yang menyoroti mental militer yang kaku. Selain itu pertunjukan 7 jam Panembahan Reso yang menampilkan megalomaniak poros-poros kekuasaan.

"Atau Kisah Perjuangan Suku Naga yang merupakan cerita satire terhadap kediktatoran rezim negeri ini," tulisnya dalam artikel berjudul Rendra, Sang Wisanggeni (1935 -2009) yang terbit di Kompasiana.

Rendra misalnya juga terlihat menyokong gerakan mahasiswa pada 1977. Pada masa itu muncul ketidakpercayaan kepada pencalonan kembali Presiden Soeharto karena dianggap gagal memperbaiki ekonomi.

10 Seniman Mural Indonesia Berkolaborasi dalam On & Off Pressure

Selanjutnya pada 1 Desember 1977 dalam rapat Mahasiswa di Kampus Universitas Indonesia Salemba, Rendra membacakan puisi Pertemuan Mahasiswa. Sebagai cara untuk mengobarkan semangat mahasiswa.

Kita bertanya : kenapa maksud baik tidak selalu berguna/Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga/

Orang berkata : "kami ada maksud baik"/ dan kita bertanya : "maksud baik untuk siapa ?"

Lelaki dengan tiga istri ini sepanjang karier berkeseniannya sering dicekal oleh penguasa. Tetapi dirinya tetap berbicara lugas melalui puisi-puisinya.

Pada 28 April 1978, sebelum membacakan sajak-sajak pembangunan di Taman Ismail Marzuki (TIM), sebuah surat anonim diterima Rendra, isinya mengancam dia dan keluarganya. Ketika pementasan, bom amoniak dilemparkan ke panggung membuat tiga orang pingsan.

Tiga hari setelah itu, Mas Willy, begitu sapaan akrabnya dijebloskan ke Rutan Menteng, Jakarta. Sajak Si Burung Merak dianggap menghasut dan mendorong terjadi gerakan sosial, begitu kata Laksamana Sudomo, Wakil Pangkopkamtib.

Denny menyebut Rendra selalu memperhatikan proses politik, terutama saat adanya pelarangan menggelar pementasan yang dianggap menyerang wibawa pemerintah pada 1991. Rendra bersama para seniman kemudian mendatangi gedung DPR untuk memprotes.

"Di kantor wakil rakyat itu, Rendra bahkan sempat membacakan sajak sajaknya dengan gayanya yang flamboyan dan memesona. Rendra terlihat bagai merak yang tengah mengepak sayap sayapnya yang kilau kemilau," kenang Denny dengan bangga.

Rendra adalah Rendra

Sebagai penyair, Rendra tidak hanya bertinggal pada menara-menara keindahan. Dirinya berkotor-kotoran, menyuarakan apa yang selama ini dilupakan oleh dunia kepenyairan.

Dirinya turun ke jalanan, kolong jembatan, selokan agar bisa menyuarakan apa yang dilupakan oleh para penguasa. Puisi pamfletnya berisi manifesti perlawanan terhadap penindasan dalam berbagai macam kehidupan.

Menurut Aliyuna Pratisti dalam tulisannya, Rendra selalu memberikan perhatian kepada masyarakat-masyarakat marginal, seperti anak-anak putus sekolah, gelandangan, para orang miskin, juga para pendosa yang berdosa karena didesak oleh keadaan.

"Rendra lantas mengkritik dan memaki penguasa yang seharusnya bertanggung jawab pada setiap pemenuhan hak rakyatnya, tetapi dia pun paham bahwa sistem kekuasaan terlalu bebal untuk mendengar – bahkan kritik dalam bentuk apapun mendekati sia-sia," sindirnya dalam artikelnya berjudul Rendra, Puisi Pamflet dan Oposisi dikutip dari Antimateri.

Misalnya Rendra pernah begitu marah dengan proses pembangunan Jakarta yang menyingkirkan masyarakat marginal, salah satunya pelacur. Si Burung Merak ini kemudian membuat sebuah puisi paling kontroversial berjudul Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta yang termuat dalam antologi Blues Untuk Bonnie (1971).

Menurut Aliyuna, Rendra ingin menampilkan betapa simpatinya dia kepada para orang-orang yang terpinggirkan karena keadaan, birokrasi yang kaku, dan korban dari kebekuan agama. Tentu pembelaan ini menyebabkan Rendra didakwa simpati kepada pelacur dan pada sisi lain menyerang agama.

Mengenal Ibu Soed, Sang Maestro Lagu Anak-Anak

Padahal realitanya, Rendra bukan sosok yang bisa ditarik untuk berpihak pada satu golongan tertentu. Dirinya selalu menyebut pamflet yang dirinya tulis hanya karya biasa.

Walau sering menyinggung masalah ketertindasan masyarakat, tidak otomatis Rendra menempatkan dirinya sebagai penyair kiri. Dirinya hanya ingin menjadi seorang Rendra, tidak lebih tidak kurang.

"Saya bukan angkatan ‘66, saya bukan pahlawan, saya tidak anti Orla, juga saya tak ingin mengganyang Orba.” ujar Rendra dalam sebuah wawancara.

Ken Zuraida, istri mendiang Rendra juga menyepakati bahwa suaminya tidak mau dipolarisasi dalam berkesenian. Bahkan, Mas Willy ungkapnya tidak ingin ada pembagian angkatan sastra.

Buat Rendra, dirinya ingin bebas dalam menulis segala sesuatu yang dirasakan. Dia memang menemukan kewajaran sebagai penyair.

Menjadi sensitif saat menulis tentang orang banyak, ketidakadilan kemanusian, etika yang pantas dan tidak. Semuanya disampaikan oleh Rendra dalam setiap puisinya.

“Rendra juga percaya asas hidup bersama. Itu makannya, Rendra tidak terima ketika dituduh Manikebu. Padahal asas itu bukannya lebih pantas dituduh Lekra,” pungkas Ken sambil terkekeh-kekeh.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini