Waspada Diabetes, Penyakit Mematikan Nomor 3 di Indonesia

Waspada Diabetes, Penyakit Mematikan Nomor 3 di Indonesia
info gambar utama

Hari Diabetes Sedunia setiap tahunnya diperingati pada tanggal 14 November sebagai kampanye global mengenai diabetes mellitus. Peringatan ini menjadi ajakan bagi seluruh masyarakat dunia untuk meningkatkan kesehatan agar terhindar dari penyakit berbahaya tersebut.

Apa kabar diabetes di Indonesia? Berdasarkan data International Diabetes Federation, Indonesia berada di peringkat ke-7 negara dengan kasus diabetes terbanyak di dunia.

Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD, Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, mengatakan bahwa pasien diabetes di Indonesia kurang lebih ada 11 juta orang. Bahkan, ia menambahkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-3 untuk kasus prediabetes terbanyak di dunia.

Kata Ketut, seperti dilansir Liputan6.com, ada 30 juta penduduk Indonesia mengalami prediabetes. Kondisi prediabetes yang dimaksud adalah ketika seseorang memiliki kadar gula darah melebihi batas normal, tetapi tidak setinggi pada penderita diabetes tipe 2. Namun, kondisi tersebut tetap berisiko untuk terdiagnosis menjadi diabetes beberapa tahun mendatang.

Satu hal yang perlu diingat mengenai diabetes adalah kondisi ini bisa menyerang siapa saja dan bukan ‘penyakit orang tua’. Saat ini diabetes juga banyak dialami anak muda, bahkan dari usia 15 tahun.

Dalam rangka memperingati Hari Diabetes Sedunia, marilah kita bersama-sama meningkatkan kesadaran tentang penyakit ini agar memahami bagaimana cara melindungi diri dan orang-orang tersayang dari diabetes.

Kelompok Mahasiswi Asal Jogja Olah Kulit Salak Jadi Permen Anti Diabetes

Memahami kondisi diabetes

Di Indonesia, diabetes juga dikenal dengan sebutan kencing manis. Pada dasarnya, diabetes merupakan penyakit gangguan metabolik saat pankreas tidak bisa memproduksi cukup insulin atau tubuh tidak bisa menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif. Insulin adalah hormon yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan gula darah.

WHO menjelaskan diabetes sebagai gangguan metabolisme kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat dari insufisiensi fungsi insulin.

Peningkatan gula darah (hiperglikemia) adalah efek paling umum dari diabetes yang tidak terkontrol. Seiring berjalannya waktu, diabetes dapat menyebabkan kerusakan serius pada banyak sistem tubuh, termasuk saraf dan pembuluh darah.

Dunia medis mengenal beberapa tipe diabetes, yaitu diabetes tipe 1, tipe 2, dan gestasional. Diabetes tipe 1 diduga terjadi karena faktor genetika, sedangkan tipe 2 sebagian besar terjadi karena obesitas dan faktor gaya hidup, kemudian gestasional terjadi dalam kehamilan.

Pada tipe 1, sistem kekebalan tubuh pasien menyerang dan menghancurkan sel-sel pankreas yang memproduksi insulin. Pada akhirnya, peningkatan kadar gula darah menyebabkan kerusakan pada organ tubuh. Tipe 1 juga dikenal dengan diabetes autoimun yang diduga dipicu oleh faktor genetika dan dipengaruhi oleh lingkungan.

Sedangkan tipe 2 terjadi akibat tubuh tidak menggunakan insulin secara efektif. Kasus diabetes tipe 2 sebagian besar terjadi karena kelebihan berat badan dan kurang aktivitas fisik.

Adapun gejala-gejala yang umum dialami para penderita diabetes antara lain sering haus dan lapar, turun berat badan tanpa sebab, massa otot berkurang, kelelahan, pandangan kabur, luka sulit sembuh, sering mengalami infeksi, mulut kering, kaki terasa nyeri sampai terasa terbakar, disfungsi ereksi, dan muncul semacam bercak atau noda hitam di sekitaran leher, ketiak, dan selangkangan.

Gula Sorgum Indonesia yang Bagus bagi Penderita Diabetes

Pemeriksaan diabetes

Diabetes | @Nataliya Vaitkevich Pexels
info gambar

Untuk mengetahui secara pasti apakah seseorang mengalami diabetes, perlu dilakukan pemeriksaan mendalam. Perlu diingat bahwa gejala diabetes tipe 2 biasanya berkembang secara bertahap dan sering tidak terdeteksi sejak awal.

Adapun beberapa tipe orang yang berisiko terkena diabetes agar menjalani pemeriksaan secara rutin, yaitu berusia di atas 45 tahun, pernah mengalami diabetes gestasional saat hamil, memiliki indeks massa tubuh di atas 25, dan sudah pernah didiagnosis prediabetes.

Pemeriksaan diabetes bisa dilakukan dengan tes gula darah dengan metode seperti tes gula darah sewaktu, tes gula darah puasa, dan tes toleransi glukosa sesuai rekomendasi dokter.

Pada orang dengan diabetes tipe 1, dokter akan menyarankan untuk terapi insulin. Terapi ini dilakukan melalui suntikan yang diberikan beberapa kali sehari dan bisa dilakukan secara mandiri di rumah untuk membantu menstabilkan kadar gula darah. Dokter juga mungkin akan meresepkan beberapa obat-obatan minum untuk menjaga kesehatan jantung, tekanan darah tinggi, dan penurun kolesterol sesuai kebutuhan.

Seperti ditulis WebMd.com, tidak ada obat untuk diabetes tipe 2 dan tidak bisa disembuhkan karena termasuk penyakit berkelanjutan. Namun,pasien bisa mengelola kesehatan pribadi dengan penurunan berat badan dan perubahan pola makan akan membantu tubuh mempertahankan kadar gula darah normal tanpa obat.

Mahasiswa Asal Maumere Temukan Snack Sehat Aman Bagi Penderita Diabetes

Penyebab kematian terbesar nomor tiga

Diabetes bukanlah penyakit yang bisa disepelekan atau dianggap remeh. Menurut data Kementerian Kesehatan yang diperoleh dari Sample Registration Survey 2014, diabetes adalah penyebab kematian terbesar nomor tiga di Indonesia setelah strok dan penyakit jantung koroner.

Ketika seseorang menderita penyakit ini, diabetes dapat menimbulkan sejumlah komplikasi seperti penyakit jantung, strok, gagal ginjal kronis, gangguan penglihatan, katarak, depresi, demensia, gangguan pendengaran, kerusakan kulit, dan diabetes retinopati yang dapat menyebabkan kebutaan.

Orang dewasa yang memiliki diabetes berisiko dua sampai tiga kali lipat terhadap serangan jantung dan strok. Jika dikombinasikan dengan aliran darah berkurang, kerusakan saraf di kak yang meningkatkan kemungkinan terjadinya ulkus kaki (luka terbuka di telapak kaki) dan infeksi, kondisi ini bisa menyebabkan pasien harus diamputasi.



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini