Huta Tinggi dan Tipang, Desa Wisata Suku Batak dengan Pemandangan Danau Toba

Huta Tinggi dan Tipang, Desa Wisata Suku Batak dengan Pemandangan Danau Toba
info gambar utama

Keindahan alam di Danau Toba memang tak terbantahkan. Danau vulkanik di Sumatra Utara ini memang begitu tersohor di kalangan wisatawan dalam dan luar negeri. Danau yang terbentuk dari letusan gunung api sekitar 74 ribu tahun lalu ini juga masuk dalam Destinasi Super Prioritas oleh Kemenparekraf.

Memiliki luas hingga 1.130 kilometer persegi, Danau Toba lebih mirip laut daripada danau. Keberadaan Pulau Samosir yang ada di bagian tengah danau juga sangat melegenda dengan keunikannya.

Danau Toba memang menjadi destinasi liburan yang menawarkan paket komplet. Wisatawan bisa menikmati pesona alam dengan suasana tenang dan udaranya yang sejuk, ditambah lagi di sekitar danau pun ada banyak objek wisata yang bisa dijelajahi. Belum lagi dari sisi kebudayaan Batak yang menarik untuk dipelajari.

Ada banyak cara mengunjungi Danau Toba. Salah satunya lewat jalur penerbangan ke Bandara Internasional Sisingamangaraja XII yang sebelumnya bernama Bandara Silangit di Siborongborong, Tapanuli Utara. Dari bandara, pengunjung bisa melanjutkan perjalanan darat sampai ke destinasi tujuan. Namun, bila ingin menyeberang ke Pulau Samosir, bisa menuju ke Pelabuhan Parapat atau Ajibata untuk menyeberang dengan kapal sampai ke Pelabuhan Tomok atau Ambarita.

Di kawasan Danau Toba juga terdapat desa wisata yang bisa jadi pilihan tujuan liburan Anda yaitu Desa Huta Tinggi dan Desa Tipang. Keduanya menawarkan pengalaman liburan berbeda dengan perpaduan wisata alam, kebudayaan, dan atraksi yang menarik.

Ragam Atraksi Wisata Menarik di Desa Sesaot Lombok Barat

Desa Huta Tinggi

Desa Huta Tinggi | Dokumentasi Kemenparekraf
info gambar

Desa Huta Tinggi berada di Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir. Desa seluas 1.200 hektare ini memiliki pemandangan berupa hamparan bukit dengan latar belakang Danau Toba yang memesona.

Ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan wisatawan di Desa Huta Tinggi. Salah satunya adalah mengenal dan belajar tentang pertunjukkan seni Batak Toba, mulai dari tari tor-tor, alat musik tradisional, sampai menonton opera Batak Toba. Wisatawan juga bisa berjalan-jalan di kebun kopi, bahkan bisa ikut memetik biji kopi.

Selain itu, pengunjung juga bisa mengikuti kelas memasak mulai dari belanja bahan ke pasar tradisional kemudian memasak bersama-sama. Tak perlu khawatir sebab kelas memasak ini juga bisa disesuaikan untuk yang beragama Islam. Nantinya hasil masakan bisa disantap bersama-sama untuk makan siang.

Perlu diketahui bahwa Desa Huta Tinggi identik dengan keberadaan kerbau. Maka jangan heran bila sedang liburan di desa ini akan mudah menjumpai kerbau sedang lalu-lalang. Salah satu atraksi menarik yang berhubungan dengan kerbau adalah memerah susu pada pagi hari. Susu kerbau biasanya diolah menjadi keju khas Batak Toba yaitu Dali Ni Horbo.

Di desa tersebut, kerbau betina memang dimanfaatkan untuk wisata edukasi memerah susu kerbau dan diolah menjadi keju. Sedangkan kerbau jantan dimanfaatkan sebagai alat transportasi tradisional. Usai berkegiatan, wisatawan bisa mencicipi kuliner yang ada di Desa Huta Tinggi, seperti Dali Ni Horbo, keripik bawang, dan dekke naniura.

Bagi yang ingin merasakan pengalaman lebih, bisa coba menginap di homestay di Desa Huta Tinggi. Uniknya, penginapan di desa ini memanfaatkan rumah-rumah adat Batak. Tentunya akan jadi pengalaman baru untuk merasakan tidur di rumah adat dengan bentuk khas Batak tersebut.

Desa Arborek di Papua Barat, Perpaduan Apik Wisata Alam dan Budaya

Desa Tipang

Desa Tipang | Dokumentasi Kemenparekraf
info gambar

Jika Desa Huta Tinggi berada di Pulau Samosir, Desa Tipang terletak di tepian Danau Toba, tepatnya di Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan. Sesampainya di desa ini, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan persawahan dan perbukitan serba hijau.

Mengutip laman Jadesta.com, Desa Tipang memiliki tiga kategori objek wisata, yaitu alam, sejarah, dan wisata buatan. Untuk wisata alam, ada Air Terjun Sigota-gota, Pulo Simamora, Puncak Batu Maranak, dan Penatapan Gonting.

Kemudian untuk wisata sejarah, di desa tersebut ada sarkofagus, mata air bersejarah, perkampungan tua, tradisi Sihai Alek, dan tradisi Mamona-mona. Di sisi wisata buatan, terdapat Agrowisata Sawah Sibara-bara, Resto Terapung Batu Gajah, dan Resto Terapung Tipang Mas.

Di desa ini pengunjung bisa mencoba martoba atau menangkap ikan mujair di habitat aslinya dengan cara konvensional. Setelah itu bersantai menikmati minuman lokal Tuak Tangkasan. Bahkan, bila beruntung bisa mencoba duduk-duduk di punggung kerbau jinak atau ikut memandikannya pada sore hari.

Pengunjung juga bisa melihat langsung atraksi budaya Sihali Alek yang merupakan ritual ucapan syukur sekaligus tradisi marsimpa atau gotong royong tradisional yang masih dilestarikan hingga saat ini. Ritual ini akan dipimpin oleh oleh Raja Jolo Sihali Aek Tipang dan diperagakan oleh para permaisuri raja. Keunikan dari tradisi ini adalah memelihara sistem irigasi tradisional dan melibatkan seluruh masyarakat Desa Tipang untuk menaikkan air sungai dari hulu menuju hilir.

Dalam kunjungan ke Desa Tipang beberapa waktu lalu, Menparekraf Sandiaga Uno mengaku terharu karena desa ini memiliki keindahan luar biasa. Ia bahkan menyebut Desa Tipang mirip dengan Jatiluwih di Ubud, Bali.

Dalam kunjungan ke Desa Tipang beberapa waktu lalu, Menparekraf Sandiaga Uno mengaku terharu karena desa ini memiliki keindahan luar biasa. Ia bahkan menyebut Desa Tipang mirip dengan Jatiluwih di Ubud, Bali.

Dilansir laman Kemenparekraf, Desa Tipang berad di ketinggian 900 - 1.200 mdpl. Pulau Simamora di desa ini juga menjadi salah satu daya tarik yang unik karena bentuknya seperti kura-kura berenang dan tidak berpenghuni. Di desa ini juga terdapat sarkofagus yang dianggap masyarakat setempat sebagai “perahu roh” dan melindungi jasad orang yang telah meninggal dunia dari gangguan gaib.

Desa Senaru, Surga Wisata di Kaki Gunung Rinjani

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini