Desa Arborek di Papua Barat, Perpaduan Apik Wisata Alam dan Budaya

Desa Arborek di Papua Barat, Perpaduan Apik Wisata Alam dan Budaya
info gambar utama

Keindahan objek wisata alam di Papua Barat memang tak diragukan lagi. Banyak wisatawan dalam dan luar negeri mengunjungi daerah tersebut untuk menikmati bentangan alam yang begitu menakjubkan. Raja Ampat termasuk salah satu destinasi di Papua Barat yang telah mendunia dan terkenal karena keeksotisannya.

Namun, jika ditelusuri lebih dalam lagi, Anda akan menemukan sebuah desa wisata dengan keunikan yang sulit ditemukan di tempat lain, yaitu Desa Arborek. Desa wisata tersebut berada di Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat.

Untuk sampai di Desa Arborek, pengunjung bisa naik kapal ferry dari Sorong ke Waisai yang merupakan ibukota Kabupaten Raja Ampat selama tiga hingga empat jam. Setelah itu lanjutkan perjalanan dengan speed boat sekitar dua jam.

Dalam kunjungan ke Desa Arborek, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan bahwa desa tersebut merupakan destinasi yang lengkap untuk wisatawan karena panorama alamnya indah dan memiliki daya tarik yang beragam.

Dikatakan Sandiaga bahwa Desa Arborek merupakan pariwisata berbasis alam dan budaya. Desa di timur Indonesia ini juga memiliki berbagai produk ekonomi kreatif yang berkualitas.

Apalagi desa ini juga telah menerapkan standar CHSE adalah singkatan dari Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment (Ramah lingkungan). Selain itu, para pengunjung yang datang wajib memperlihatkan kartu vaksin, mengisi data di aplikasi eHAC, dan menunjukkan keterangan negatif Covid-19.

Ragam Atraksi Wisata Menarik di Desa Sesaot Lombok Barat

Kegiatan wisata di Desa Arborek

Keindahan bawah laut Desa Arborek | Dokumentasi Kemenparekraf
info gambar

Menurut keterangan dalam siaran pers Kemenparekraf, Desa Arborek memiliki komitmen tinggi dalam mengembangkan berbagai potensi yang ada di desa wisata berbasis masyarakat tersebut. Salah satunya adalah wisata alam bawah laut dengan beraneka ragam biota yang diminati wisatawan dalam dan luar negeri.

Desa Arborek menempati lahan seluas enam hektare dan salah satu yang membuat kawasan ini unik karena daratan pedesaannya ditutupi oleh pasir putih halus. Penataan desa pun terbilang apik, di antara setiap rumah akan dipisahkan oleh pohon kelapa menjulang tinggi.

Hamparan pasir putih dan deretan pohon kelapa memang menjadi dua hal yang akan menyambut kedatangan wisatawan di desa ini. Dengan memiliki pasir yang sangat halus, bahkan wisatawan bisa berjalan tanpa alas kaki dengan nyaman. Di sepanjang pantai sebelah barat dan selatan, pengunjung juga bisa melihat pemandangan pohon bakau.

Dilansir Jadesta.com, salah satu bangunan ikonik di Desa Arborek adalah Tugu Pekabaran Injil. Berlokasi di dekat Gereja Desa Arborek, tugu tersebut dibangun tahun 2017 sebagai bentuk perwujudan mengenal awal pewartaan Injil di Kampung Arborek pada tahun 1942.

Jangan lewatkan untuk menyelam dan mengeksplorasi bawah lautnya sebab Anda bisa berkesempatan melihat langsung pari manta yang jadi incaran para penyelam. Selain itu Desa Arborek juga dikenal karena budidaya terumbu karangnya. Masyarakat di desa ini memang begitu menjaga kelestarian terumbu karang.

Dengan keindahan alam yang begitu memukau, mengunjungi Desa Arborek tentu tak cukup hanya sehari. Bagi wisatawan yang ingin tinggal lebih lama pun tak perlu khawatir karena di sana sudah tersedia penginapan atau homestay yang lokasinya langsung menghadap ke laut. Dari penginapan, tamu bisa langsung menikmati pemandangan matahari terbit dan terbenam.

Desa Senaru, Surga Wisata di Kaki Gunung Rinjani

Seni budaya yang terus dilestarikan

Tak hanya mengandalkan wisata alam, masyarakat Desa Arborek juga senantiasa menjaga kelestarian kesenian dan budayanya. Salah satunya adalah tradisi mansorandak atau injak piring. Dijelaskan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Arborek, Ronald Mambrasar, tradisi tersebut biasanya dilakukan pada tamu-tamu spesial.

Kata Ronald, seperti dikutip Kompas.com, mansorandak artinya ‘untuk mencuci muka’ dan merayakan kedatangan orang yang pertama kali datang ke desa tersebut. Tradisi tersebut juga dilakukan oleh warga yang menyambut kedatangan keluarganya yang baru pertama kali berkunjung ke suatu tempat. Mansorandak dimaknai sebagai bentuk rasa syukur karena orang tersebut tiba dengan selamat.

Desa Arborek juga memiliki tarian yang bisa ditampilkan kelompok anak-anak dengan pakaian tradisional dari bahan kulit kayu. Anak-anak menari dengan iringan orang dewasa yang memainkan alat musik. Tarian tersebut menceritakan kisah masyarakat Raja Ampat pada zaman dahulu mencari makan dengan cara memancing dan memanah burung untuk menghidupi keluarganya.

Selain itu, ada pula penampilan suling tambur yang dimainkan oleh kelompok pemuda dan dewasa. Kesenian ini melibatkan tambur atau gendang besar beserta suling yang biasa dimainkan dalam perayaan keagamaan atau pernikahan.

Menyelami Keindahan Pulau Morotai Sambil Melihat Sisa Peninggalan Perang Dunia II

Kuliner dan produk ekonomi kreatif

Kerajinan buatan warga Arborek | Dokumentasi Kemenparekraf
info gambar

Setelah puas melihat berbagai atraksi dan berkegiatan di Desa Arborek, jangan lupa untuk mencicipi kulinernya yang khas. Anda bisa mencoba makanan seperti ikuy, sinole, papeda, kue aewon, sagu kelapa, dan buah manikur.

Wisatawan juga bisa membeli buah tangan berupa produk kerajinan tangan buatan masyarakat di Desa Arborek. Misalnya, noken yaitu tas anyaman dari daun pandan yang biasa digunakan untuk berbelanja ke pasar. Kemudian, ada pula anyaman topi berbentuk pari manta dan bintang laut, juga ada pakaian dari kulit kayu.

Semuanya dikerjakan langsung oleh warga desa dan bagi pengunjung yang berminat untuk belajar, di Desa Arborek pun tersedia pelatihan kerajinan tangan. Wisatawan bisa belajar dari masyarakat desa untuk membuat berbagai kerajinan termasuk mata kalung berbentuk pari manta yang terbuat dari limbah kerang mutiara.

TWA Pulau Bakut, Habitat Bekantan di Bawah Jembatan Barito

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini