Smart Farming, Solusi Ketahanan Pangan Hadapi Pandemi dan Perubahan Iklim

Smart Farming, Solusi Ketahanan Pangan Hadapi Pandemi dan Perubahan Iklim
info gambar utama

Penulis:Fishya Elvin

Ketahanan pangan menjadi hal yang penting ketika membicarakan ketersediaan, akses, pemanfaatan, keamanan, serta stabilitas pangan di tengah-tengah pandemi yang belum kunjung usai. Untuk melawan penyakit dan menjaga daya tahan tubuh dari COVID-19 tetap sehat, tentunya masyarakat membutuhkan ketersediaan makanan yang cukup dan bergizi.

Dengan begitu, ketahanan pangan dapat menjaga stabilitas pangan dalam menghadapi perubahan yang dinamis. Perubahan yang dimaksud tentu saja berhubungan dengan iklim. Suatu fenomena global yang ditandai dengan perubahan suhu serta pola curah hujan.

Dengan semakin memanasnya rata-rata suhu permukaan bumi, akan terjadi peningkatan permukaan air laut dan perubahan cuaca secara ekstrem. Cuaca ekstrem ditandai dengan berubahnya pola curah hujan, kekeringan berkepanjangan, dan kesulitan air bersih. Ujungnya, akan berdampak pada pertanian dan produksi pangan.

Hal ini tentu berdampak pada ketahanan pangan yang menurut Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, diukur dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat.

Cuaca ekstrem dapat merubah masa panen, naiknya suhu udara dan air laut, hingga sulitnya distribusi pangan pada rantai pasok. Kira-kira, hal apa saja yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak permasalahan ini?

Detail "Outfit Karya Anak Bangsa" Jokowi dalam Peresmian Sirkuit Mandalika

Kenalan dengan Smart Farming

Ilustrasi | Foto: Joshua Lanzarini/Unsplash
info gambar

Tahukah Kawan bahwa pertanian pintar atau yang lebih sering disebut smart farming merupakan pertanian dengan menggunakan teknologi informasi? Hal itu meliputi data yang lebih kompleks dan akurat dalam proses pertanian, bisa diakses melalui telepon genggam atau perangkat lainnya.

Menurut buku Smart Farming Berbasis Internet of Things dalam Greenhouse, kegiatan smart farming meliputi informasi terkait keadaan cuaca, waktu tanam, dan musim tanam pada jenis tanaman tertentu. Tak hanya itu, waktu panen yang tepat, pemberian air irigasi sesuai dengan kebutuhan, sampai cara budidaya yang baik dan benar dibahas pula sehingga menghasilkan produksi yang tinggi.

Melalui perangkat digital atau aplikasi daring, petani akan dimudahkan dengan pencatatan sistem bertani, pedoman budidaya, dan pengolahan pertanian yang baik. Selain itu, kini pemerintah Indonesia tengah mengembangkan Smart Farming 4.0 dengan menggunakan alat sensor dan aplikasi.

Teknologi tersebut yang memberikan informasi untuk membantu petani meningkatkan produksi pertanian. Termasuk mengurangi pemakaian pupuk dan air sehingga meringankan biaya petani dalam merawat tanamannya agar lebih hemat.

Hakikat Mendengarkan dengan Teknik Compasionate Listening

Menurut Dr. Tomy Perdana, SP., MM. yang merupakan Sekretaris Jenderal Asosiasi Agribisnis Indonesia, smart farming merupakan sebuah inovasi yang perlu terus dikomersialisasikan. Meskipun teknologi ini sudah dikembangkan, semuanya akan sia-sia tanpa adanya kemauan masyarakat untuk mengimplementasikannya.

“Masyarakat perlu mengubah pola pikir bahwa kemajuan teknologi terlalu canggih sampai mereka sulit mengakses dan mengoperasikannya. Smart farming ini adalah solusi mutakhir yang membuat pekerjaan petani jauh lebih mudah dan efisien,” ujarnya pada Diskusi Lingkungan II Memperingati Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2021 lalu.

Buktinya, salah satu program smart farming yang sudah berjalan adalah program BNI Smart Farming yang disertai pendampingan, dengan memanfaatkan teknologi pertanian digital selama proses berlangsung. Dengan program ini pula, petani mendapatkan rekomendasi pertanian yang sesuai, sistem pemupukan yang tepat, hingga penanganan hama dalam pemanenan.

Apabila bidang ini terus dikembangkan dan mendapatkan dukungan besar dari pemerintah, program dapat terus menjalar ke lebih dari enam lokasi di lima provinsi yang sudah mengimplementasikan program Smart Farming BNI. Di antaranya Sumatra Barat, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Tradisi Sekura, Pesta Topeng dari Lampung dengan Berbagai Makna

Untuk itu, diperlukan mitigasi dan juga adaptasi dalam ketahanan pangan menghadapi pandemi dan juga perubahan iklim. Upaya pengembangan smart farming di Indonesia menjadi sangat penting karena berdampak langsung dengan kesejahteraan masyarakat, yaitu kebutuhannya akan pangan.

Pemerintah dan masyarakat harus terus bekerja sama, dalam pengembangan teknologi pada bidang pertanian. Tak lupa kemauan dan pola pikir baru untuk lebih bijak dan siap dalam menghadapi perkembangan teknologi.*

Referensi:Kementerian Pertanian | NCBI | OECD Trade and Agriculture Directorate

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini