Tradisi Rewang dan Peran Perempuan sebagai Penentu Kesuksesan Hajatan

Tradisi Rewang dan Peran Perempuan sebagai Penentu Kesuksesan Hajatan
info gambar utama

Tradisi gotong royong masih terlihat kuat dalam masyarakat di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan. Meski telah tinggal di Lampung tradisi ini masih terus di wariskan secara turun-temurun

Salah satu tradisi ini bernama rewang yang muncul saat masyarakat melakukan hajatan. Biasanya hajatan besar yang digelar bisa berupa pernikahan atau sunatan.

Rewangan masih dijalankan oleh masyarakat pedesaan selama puluhan tahun silam. Tradisi gotong royong ini dikerjakan oleh kaum laki-laki maupun perempuan yang akan menopang kesuksesan acara tersebut.

"Kaum perempuan memiliki peranan penting dalam terselenggaranya acara karena meski perempuan dianggap konco wingking atau mengerjakan hal-hal yang di belakang namun terselenggaranya acara tergantung dari kerja keras kaum perempuan," terang Mbah Suroso, salah seorang tetua masyarakat Desa Gandri, menukil Cendananews, Kamis (18/11/2021).

Rewang merupakan istilah yang dikenal oleh masyarakat Jawa sebagai kegiatan untuk membantu mempersiapkan acara besar. Tradisi ini memang di wariskan secara turun-temurun.

Menurut Robert R. Jay dalam bukunya Javanese Villagers: Social Relations in Rural Modjukuto, yang menyatakan bahwa orang Jawa tidak menempatkan dirinya sebagai individu yang bisa melakukan semua hal.

Karena itulah, orang Jawa telah sadar bahwa hidup ini harus melibatkan atau membutuhkan orang lain. Nilai-nilai inilah yang diperlihatkan oleh orang Jawa dalam tradisi rewang.

Tradisi Brobosan, Bentuk Penghormatan Terakhir Masyarakat Jawa

Tradisi rewang secara sederhana bisa dipahami sebagai kegiatan memasak bersama-sama. Dalam kegiatan ini melibatkan semua usia, baik yang tua dan muda. Terkadang juga menjadi tempat bagi wanita untuk belajar memasak.

Dalam tradisi rewang secara kuantitas memang didominasi oleh perempuan. Hal ini terjadi karena tenaga perempuan lebih banyak dibutuhkan ketimbang laki-laki.

Hal ini juga disampaikan oleh Heniy Astiyanto dalam bukunya Filsafat Jawa: Menggali Butir-butir Kearifan Lokal, yang menyebut bahwa tradisi rewang memang kegiatan para kaum perempuan. Misalnya saja perempuan akan bekerja sejak Subuh dengan menyiapkan berbagai keperluan dapur.

Kaum perempuan juga mempunyai peranan dalam menyiapkan bahan punjungan agar bisa langsung diantarkan. Ada juga beberapa perempuan yang ditugaskan menjaga bahan-bahan keperluan selama hajatan.

Selain itu ada juga yang bertugas untuk memasak di dapur, sebagian membungkus hantaran yang akan diantar kepada kerabat dan tetangga. Kemudian yang lain bertugas mencuci piring dan juga melalukan tugas lain berhubungan dengan pelaksanaan acara.

Melihat rewang dalam kacamata perempuan

Tradisi rewang (shutterstock: Gungpri)
info gambar

Pada tradisi masyarakat Jawa, apalagi masyarakat yang hidup di pedesaan, mengikuti kegiatan rewang merupakan kewajibkan. Hal ini tidak hanya terkait urusan kemanusian, tetapi juga menghindari hukum sosial.

Biasanya sebelum ada acara hajatan, ketua RT akan mengumpulkan warga untuk membuat panitia, mulai dari ketua, sekretaris, bendahara, hingga divisi perdapuran. Pendistrubusian job desk ini ditentukan dari skill dan kemampuan dari masing-masing anggota.

Menurut pantauan Jevi Adhi Nugraha di kampungnya Gunungkidul, Yogyakarta, rewang selain menghadirkan sikap gotong royong juga memunculkan sekelumit persoalan. Salah satunya para ibu-ibu yang bekerja di dapur sering diburu-buru masak oleh pihak panitia.

Padahal bedasarkan pengalamannya, para ibu-ibu urusan dapur ini menjadi sosok yang pertama hadir dan selalu pulang paling akhir. Tetapi walau menjadi sosok yang paling bekerja keras, para perempuan ini selalu makan paling akhir.

Dirinya berulang kali bertanya kepada ibunya yang terlibat dalam kegiatan rewang, tetapi tentu saja jawabnya adalah pemakluman. Hal ini menurutnya sesuai dengan filosofi nrimo ing pandum yang telah mendarah daging, tetapi bisa saja mengancam pada waktunya.

Tradisi Megengan dan Modifikasi Pelaksanaannya di Tengah Pandemi

"Di satu sisi mereka menjadi sosok kuat yang tak tertandingi dan membanggakan. Namun di sisi lain, mereka selalu menerima apa pun yang sudah menjadi tugasnya meski harus dilalui dengan keras dan pahit," keluhnya dalam tulisannya berjudul Tradisi Rewang dan Nasib Orang-orang di Balik Megahnya Pesta yang dipaparkan oleh Mojok.

Tetapi menurut Henk Widi melalui laporannya berjudul Tradisi Rewang Tempatkan Perempuan sebagai Penentu Kesuksesan Hajatan, dituliskan bahwa rewang memperlihatkan secara jelas nilai-nilai perjuangan muncul dari para perempuan.

Mereka yang tugasnya di ruang domestik bekerja tanpa mendapatkan imbalan, sekaligus jarang diakui oleh publik. Rewang akhirnya memang tidak hanya berbicara tugas perempuan di dapur, tetapi juga terkait bentuk perjuangan dan pengorbanan kepada masyarakat.

Dengan mempertimbangkan hal ini, rewang bisa dilihat dari peranan perempuan yang bersikap pro-aktif demi terwujudnya perbaikan keadaan. Oleh karena itu, rewang yang berbasis sukarela bisa menjadi upaya membangun kebiasaan inisiatif dan partisipatif dalam kehidupan sosial dan politik.

Walau tidak bisa dipungkiri peran perempuan masih berkutat dalam wilayah domestik, tetapi dalam rewang, kontribusi mereka sangat berdampak kepada masyarakat. Bahkan karya mereka telah dihasilkan tanpa mengharapkan suatu imbalan.

Tentunya pengorbanan para perempuan ini menjadi hal penting untuk mendapatkan apresiasi. Sehingga kehidupan harmonis, ramah, dan terbuka menjadi sebuah hal yang perlu diperjuangkan sebagaimana ditampilkan dalam rewang.

Relasi sosial perempuan dalam dapur

Tradisi Rewang (shutterstock: Gungpri)
info gambar

Sebenarnya dalam rewang juga muncul pola relasi yang diciptakan oleh para perempuan Jawa pada ruang domestik, yaitu dapur. Di sinilah terjadi dialog dan juga menjadi ruang untuk mentransfer pengetahuan.

Pada saat yang sama dapur juga menjadi penghubung nilai-nilai sosial perempuan Jawa yaitu silaturahmi. Apalagi dalam tradisi Jawa sangat kuat akan nilai-nilai kehidupan yang setara, adil, dan harmonis.

Dari sini bisa tampak dengan jelas bagaimana rewang memperlihatkan dimensi persaudaraan yang sangat dijunjung tinggi. Salah satunya sebagai upaya untuk mencegah konflik yang mungkin terjadi karena adanya perbedaan.

Selain itu peran perempuan Jawa dalam rewang sangat erat kaitanya dengan kesadaran induvidu untuk menyelesaikan tanggung jawabnya. Karena itu, melihat perempuan dalam tradisi rewang mesti dilihat sebagai sebuah karya dalam ruang publik.

"Ini berarti bahwa makanan yang disajikan para perempuan dalam rewang merupakan persembahan mahakarya yang mengandung nilai yang terkait estetis, baik cita rasa maupun bentuk atau strukturnya," tulis Lukas Eko Budiono dalam jurnal berjudul Tinjauan atas Peran Perempuan Jawa dalam Tradisi Rewang untuk Memahami Ulang Makna sebuah Karya.

Tradisi Malam Satu Suro sebagai Wujud Pensucian Diri Masyarakat Suku Jawa

Lukas dalam jurnalnya menyebut tradisi rewang harus dilihat sebagai karya yang bukan hanya pekerjaan dari satu perempuan saja. Melainkan peran dari para perempuan lain melalui kerjasama dengan yang lain, sehingga memunculkan sebuah dimensi persatuan.

Dimensi ini menjadi sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa. Karena menunjukan adanya hubungan rukun dan sejahtera yang menjadi kata kunci penting dari silaturahmi.

Menurutnya rewang juga tidak tepat dikategorikan sebagai ibuisme, yaitu doktrin patriarki yang menempatkan perempuan hanya pada wilayah domestik. Tetapi rewang bisa menjadi salah satu cara untuk mengritik doktrin yang mulai muncul pada zaman Orde Baru (Orba) ini.

Misalnya saja rewang bisa menjadi cara hidup komunitas tanpa membeda-bedakan semua peran, relasi ini penting terlebih konteks Indonesia yang sering muncul konflik karena perbedaan mengatasnamakan agama dan lainnya.

Kondisi inilah yang membuat rewang dapat dikatakan sebagai konsep komunitas yang di dalamnya tidak ada lagi struktur sosial. Sehingga merewang sangat memungkinkan terjadinya unsur kesetaraan demi kehidupan yang adil dan makmur.

"Dengan demikian, setiap peranan yang muncul dalam rewang, termasuk peranan perempuan turut memberikan gambaran tentang kehidupan berkomunitas yang ideal dalam konteks lokal, yang mestinya juga dapat diterapkan dalam konteks nasional," tegasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini