I Gusti Ngurah Rai, Kisah Kepemimpinan Persatukan Rakyat Bali Melawan Belanda

I Gusti Ngurah Rai, Kisah Kepemimpinan Persatukan Rakyat Bali Melawan Belanda
info gambar utama

Pada 1950, Presiden Soekarno berziarah ke makam pahlawan I Gusti Ngurah Rai di dampingi tiga putra dan istri almarhum. Memakai setelan safarinya Soekarno terlihat mendoakan pahlawan yang di makamkan di Taman Makan Pahlawan Margarana, Tabanan, Bali.

Ketika mendengar sosok pahlawan I Gusti Ngurah Rai, maka pikiran kita pasti terarah kepada peristiwa heroik Margarana (Puputan Margarana). Bersama seluruh pasukan Ciung Wanara, berjumlah 96 orang, dirinya memeluk ibu pertiwi sebagai kusuma bangsa.

Peristiwa heroik itu meletus pada 20 November 1946 di Desa Marga, Tabanan, di tengah-tengah gejolak perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pak Rai, begitu panggilan dari anak buahnya meninggalkan seorang istri yang sedang mengandung dan dua orang putra untuk selama-lamanya.

Putra terbaik Pulau Dewata ini meninggal dalam usia yang relatif masih muda, 29 tahun. Dirinya bersama seluruh anggota pasukannya merupakan pejuang Kemerdekaan Indonesia yang telah melakukan darma keprajuritan yang tertinggi.

Pak Rai adalah tokoh yang memperjuangkan haknya sebagai anak bangsa dalam rangka mempertahankan kemerdekaan yang sudah didapat oleh para pejuang lain. Sebagai seorang pejuang, selain memiliki ide dan gagasan, dirinya juga memiliki jiwa yang berani.

Saksi Bisu Perang Puputan Pasukan I Gusti Ngurah Rai Melawan Penjajah

Ngurah Rai adalah sosok yang berani, hal ini ditunjukan dalam suratnya yang menolak berunding dengan Belanda. Baginya merdeka merupakan harga mati walaupun dirinya menyadari Belanda memiliki kemampuan dan senjata perang yang lebih modern.

"Soal perundingan kami serahkan kepada kebijaksanaan pemimpin-pemimpin kita di Jawa. Bali bukan tempatnya perundingan diplomasi. Dan saya bukan kompromis. Saya atas rakyat hanya mengingini lenyapnya Belanda dari Pulau Bali atau kami sanggup bertempur terus sampai cita-cita kita tercapai," tulis Ngurah Rai mengutip dari buku Jejak-jejak Pahlawan yang dinukil dari Detikcom.

Berikut adalah kutipan surat balasan yang dikirimkan oleh Ngurah Rai kepada Belanda pada 18 Mei 1946. Menjadi bukti nilai-nilai patriotisme pria kelahiran 30 Januari 1917 ini yang ditunjukan juga melalui peperangan puputan.

Bukan hanya sosoknya, tetapi masyarakat Bali juga tercatat begitu kompak untuk menunjukkan kesetiannya kepada negara. Padahal saat itu, Belanda melakukan beragam tindakan keji, seperti penyiksaan agar masyarakat Bali membuka tempat persembunyiannya pasukan Ciung Wanara.

Serdadu-serdadu Belanda saat itu menyebarkan mata-mata yang juga berasal dari bangsa Indonesia. Tetapi walau dengan keadaan yang memilukan, masyarakat Bali tetap tidak mau membuka rahasia para pejuang.

"Mereka memilih lebih baik mati daripada berkhianat terhadap perjuangan kemerdekaan, hidup di bawah telapak kaki musuh," ujar Wayan Sudarta dalam tulisan berjudul Interaksi Antagonis Heroik Margarana.

Sosok humanis Ngurah Rai yang begitu dihormati

Ngurah Rai dilahirkan dari seorang wanita keturunan Bali yang bernama I Gusti Ayu Kompyang. Ayahnya tercatat sebagai Camat Petang yang bernama I Gusti Ngurah Palung.

Berkat jabatan ayahnya itu, pria asal Badung ini bisa mendapat pendidikan terbaik di sekolah formal Holands Inlandse School (HIS) Denpasar. Setelah menyelesaikan pendidikannya di sana, dia kemudian melanjutkan ke MULO (setingkat Sekolah Menengah Pertama) di Malang.

Sejak kecil, Ngurah Rai telah tertarik dengan dunia militer karena itulah pada 1936, dirinya melanjutkan pendidikannya di Sekolah Kader Militer di Prayodha Bali, Gianyar. Kemudian pada tahun 1940, dia dilantik menjadi Letnan II yang lalu melanjutkan pendidikan di Corps Opleiding Voor Reserve Officieren (CORO) Magelang dan pendidikan Artileri, Malang.

Bekal ilmu kemiliteran yang dirinya dapat sejak masa muda dan kecerdasannya membawa Ngurah Rai menjadi seorang intelijen di daerah Bali dan Lombok, semenjak penjajahan kolonial.

Seorang pemimpin memang selalu muncul sesuai dengan zamannya, bila kepemimpinan itu telah diakui oleh masyarakat, maka dia akan tampil sebagai pemimpin dengan harapan bisa meraih bersama sebuah cita-cita.

Demikian pula Ngurah Rai, dirinya bisa tampil sebagai pemimpin karena ada konsensus di Munduk Malang, Tabanan. Apalagi perjuangan Indonesia saat itu adalah militer, sehingga pemimpin yang dicari pun harus dari kalangan militer.

Sejarah Hari Ini (20 November 1946) - Pengorbanan Pasukan Ngurah Rai di Puputan Margarana

Ketika Pak Rai ditunjuk untuk memimpin rapat di Munduk Malang, dirinya telah dilantik menjadi Letnan Kolonel dan menjabat sebagai pemimpin Tentara Rakyat Indonesia (TRI) Resimen Sunda Kecil.

Di sinilah sosok Pak Rai berperan menkonsolidiasi beragam fraksi pemuda yang ada di Bali menjadi satu dengan nama Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia (DPRI) Sunda Kecil.

Pembentukan DPRI sangat berperan dalam perjuangan masyarakat di Bali, terutama untuk sentralisasi pergerakan. Karena tanpa adanya satu komando perjuangan, maka pertempuran antar golongan bisa saja terjadi dan hal ini akan menguntungkan Belanda.

Patut dicatat, saat itu sangat sulit menyatukan fraksi pemuda dalam gerakan bersenjata. Di sinilah figur Pak Rai sangat menentukan, pasalnya ketokohannya, kesederhanaan, dan perjuangannya selama ini telah dikenal oleh masyarakat.

"Pak Rai juga sudah terbukti mengorbankan jabatan, meninggalkan anak istri dan meninggalkan kenikmatan sebagai warga Puri Caringsari. Aura kesetiaan dan pengorbanan untuk bangsa tersebut, telah menimbulkan wibawa pada Pak Rai," ucap Wayan Windia dalam tulisan berjudul Kepemimpinan Pak Rai dan Pembentukan DPRI di Munduk Malang.

Karena keteladanan Pak Rai, juga adanya kejelasan komando dalam DPRI, membuat masyarakat menjadi lega. Rakyat akhirnya merasa ada yang membela mereka saat berjuang.

"Rakyat memberikan bantuan makanan dan minuman, serta bantuan berbagai informasi yang diperlukan demi perjuangan kemerdekaan, di bawah komando Pak Rai," sebutnya.

Pertempuran sampai akhir Ngurah Rai

Pada awal Maret 1946, tentara Belanda mendarat di Bali dengan membawa sekitar 2.000 pasukan. Tujuannya tentu untuk menguasai Bali menyusul hasil dari Perundingan Linggarjati yang menyatakan secara de facto wilayah Indonesia hanya Jawa, Madura dan Sumatra.

Menurut JB Soedarmanta dalam Jejak-Jejak Pahlawan kedatangan pasukan Belanda tidak diketahui oleh Ngurah Rai yang saat itu sedang berkonsultasi ke markas besar TKR di Yogyakarta.

Sementara itu pasukan Sunda Kecil yang dibentuknya telah terpecah-pecah menjadi pasukan kecil tanpa kesatuan komando dan koordinasi. Setelah tiba di Bali, Ngurah Rai langsung menyusun kekuatan, salah satunya mengumpulkan pasukan yang dirinya namai Ciung Wanara.

"Setelah mendengar kabar bahwa Letkol I Gusti Ngurah Rai sudah mendarat di Pulukan Jemberana, maka semangat kami pun timbul kembali. Konsolidasi mulai lagi. Para tokoh pimpinan pejuang. Ida Bagus Mahadewa, Dewa Suwidja, Pak Item alias Pak Widjana serta Pak Cilik ternyata sudah siap dengan perang geriliya,” tutur I Gusti Putu Antara dalam tulisan berjudul Monumen Itu di Pantai Buleleng, seperti dikabarkan Republika.

Melihat kedatangan Ngurah Rai dan keberhasilannya menyatukan pasukan yang tercerai berai, membuat Belanda khawatir. Mereka lalu mengirimkan surat agar pasukan Ngurah Rai dan Belanda bisa bekerja sama, tawaran ini ditolak oleh Ngurah Rai.

Pertempuran pun pecah pada 18 November, pasukan Ngurah Rai melakukan serangan ke posko-posko Belanda. Serangan itu membuat Belanda kewalahan hingga membuat mereka meminta bantuan kesatuan dari Lombok.

Mengetahui strategi dari Belanda, Ngurah Rai lalu membuat beberapa basis-basis perjuangan di desa. Perjuangan pasukan Ciung Wanara pun banyak dibantu oleh masyarakat setempat.

Tenganan Pegringsingan, Desa Bercorak Bali Kuno dan Perang Pandan

Ada beberapa desa yang menjadi basis pasukan Ngurah Rai, seperti, Desa Marga, Desa Kelaci, Desa Tegaljadi, Desa Selanbawak, Desa Banjar Adeng, Desa Banjar Ole, Desa Banjar Bedugul, Desa Banjar Kelaci, dan lainnya.

"Di banjar Kelaci, Pak Rai sering mengadakan rapat dengan pemimpin-pemimpin markas untuk mempersiapkan langkah-langkah perjuangan selanjutnya," tulis Dewa Made Alit dalam karya berjudul Peranan Masyarakat dalam Perang Kemerdekaan: Studi Kasus Desa Marga dalam Peristiwa Puputan Margarana 20 November 1946 pada Masa Revolusi di Bali

Namun pada 19 November tersiar kabar bahwa Belanda mempersiapkan pengepungan terhadap Desa Marga. Lalu benar saja, pada pagi hari tanggal 20 November 1946, serdadu Belanda mengepung tersebut.

Pasukan Ciung Wanara tidak bisa menyingkir, hingga pecah perang yang terkenal sebagai Puputan Margarana. Sebanyak 96 orang pahlawan yang tergabung dalam Laksar Ciung Wanara gugur, sedangkan pihak Belanda tercatat 350 prajurit tewas.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini