Menelusuri Gua Pawon, Rumah Orang Bandung pada Zaman Purba

Menelusuri Gua Pawon, Rumah Orang Bandung pada Zaman Purba
info gambar utama

Bandung memang menyimpan potensi wisata yang sangat besar dan banyak. Tidak hanya menampilkan sebuah keindahan, tetapi misteri yang belum terpecahkan hingga kini.

Secara geologis para ahli menyebut kawasan Bandung saat ini merupakan cekungan danau purba yang mengering lalu perlahan ditempati oleh manusia. Cekungan ini terbentuk karena letusan Gunung Sunda Purba sekitar 210.000–105.000 tahun yang lalu.

Sementara itu para ahli mempercayai beberapa kelompok manusia telah menghuni Bandung sejak 5.600 hingga 9.500 tahun lalu. Salah satu tempat yang dipercaya menjadi asal mula peradaban manusia di tatar Sunda terletak di Gua Pawon.

Mengutip Tempo, lokasi Gua Powon berada di kawasan karst atau batu kapur Citatah, di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Jaraknya sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Bandung.

Bila berjalan dari arah Jakarta, sesampainya di Jalan Raya di sisi kanan Jalan Raya Padalarang Cianjur, akan ada plang terlihat sebagai penunjuk situs. Dari tempat itu, masih harus berjalan sejauh 2 kilometer.

Akses jalannya menanjak dan menurun, selain itu masih berbatu dan akan berlumpur bila musim hujan. Jalan menuju pintu masuk pun cukup menantang karena kaki perlu meniti batuan kapur yang besar juga kasar, berongga seperti karang, namun keras.

Homo Erectus Bumiayu, Penemuan Fosil Manusia Purba Tertua di Jawa

Gua pawon memiliki panjang 38 meter dan lebar 16 meter, tetapi atap dari tempat ini tidak diketahui pasti karena telah runtuh ketika ditemukan. Penanaman Gua Pawon diketahui berasal dari warga sekitar.

"Pemberian nama tersebut didasarkan karena bentuk atap gua yang sudah berlubang mirip seperti pawon dalam bahasa sunda, pawon berarti cerebong asap yang ada di dapur," ungkap Geizka Medina Rozal dalam tulisannya berjudul Jejak Penemuan Manusia Purba di Gua Pawon Padalarang Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat.

Tempat ini menjadi magnet bagi wisatawan, seperti menjadi wisata edukasi, arkeologi maupun wisata yang hanya ingin berswafoto. Hal ini karena terdapat hamparan batu-batu raksasa yang berbentuk unik pada puncak gua.

Situs Gua Pawon telah ditetapkan menjadi kawasan cagar lindung arkeologi atau keperbukalaan setelah kerangka manusia purba ditemukan di sana pada 2009. Sementara itu pada 2010, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI telah mengajukan pada UNESCO agar situs Gua Pawon bisa menjadi salah satu cagar alam warisan dunia.

Diharapkan dengan penetapan Gua Pawon sebagai cagar alam warisan dunia, pelestariannya tidak hanya menjadi tanggung jawab Indonesia, tetapi dunia.

Manusia pertama di Tatar Sunda?

Dalam Bosscha dipaparkan, Gua Pawon mencuri perhatian publik setelah adanya penemuan fosil kerangka manusia purba berusia 7.300 hingga 9.500 tahun. Fosil kerangka manusia purba itu ditemukan dalam posisi meringkuk dan diduga sebagai manusia pertama yang ada di Tatar Sunda.

Bedasarkan situs Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, peneliti Belanda bernama AC De Yong dan GHR von Koenigswald sebenarnya pernah melakukan penelitian pada 1930 hingga 1935. Hasil dari penelitian tersebut adalah penemuan peralatan seperti anak panah, pisau, penyerut, gelang batu, batu asah dari zaman Preneolitik.

Sedangkan pada tahun 2003 hingga 2004, melalui proses ekskavasi ditemukan berbagai bentuk artefak, fitur, dan ekofak yang sedikit menguak gambaran peradaban gua ini pada masa silam. Artefak ini terdiri dari gerabah, pecahan keramik, alat serpih, alat tulang, alat batu pukul, sisa perhiasan berbahan gigi hewan, dan moluska.

Kemudian mulai tahun 2003 sampai 2017, penelitian dan penggalian yang dilakukan Balai Arkeologi Jawa Barat menemukan tujuh kerangka manusia purba yang disebut sebagai Manusia Pawon. Temuan tujuh manusia ini ditemukan pada lapisan-lapisan yang berbeda.

Rangka I, dan rangka II yang ditemukan hanya tulang tengkorak bagian belakang, sedangkan rangka III merupakan salah satu rangka yang paling utuh dan diperkirakan berumur 7.300 tahun yang lalu. Sekitar 20 cm di bawah rangka III, Rangka IV ditemukan untuk umurnya diperkirakan 9.500 tahun yang lalu.

Selanjutnya rangka V terdapat bagian rahang atas dan bawah, ketiga rangka tersebut diperkirakan berumur 5.600 tahun yang lalu. Rangka VI ditemukan di kedalaman 235 cm dan diperkirakan berumur 10.000 ribu tahun yang lalu. Sedangkan Rangka VII ditemukan di kedalaman kurang lebih 245 cm dan diperkirakan berusia 11.000 ribu tahun yang lalu.

Menguak Lukisan Purba di Pulau Tak Berpenghuni di Maluku

Menukil BBC, melalui metode odontologi forensik Tim Eskavasi Gua Pawon mencoba mengungkap identitas Manusia Pawon. Melalui gigi geligi, ternyata bisa diketahui identitas rangka yang ditemukan, seperti usia kematian, ras, dan jenis kelamin.

Gigi merupakan alat identifikasi yang sempurna pasalnya memiliki daya tahan luar biasa walaupun terkubur jutaan tahun, juga tidak hancur walau harus terendam air laut bahkan terbakar pada suhu 900 derajat celcius.

Bedasarkan hasil pemeriksaan odontologi forensik lima Manusia Pawon, disimpulkan kerangka ini tergolong Ras Mongoloid yang rata-rata berumur 30 tahun. Sedangkan pada rangka III, diketahui berjenis kelamin laki-laki dan meninggal saat berusia 20 tahun.

"...Kita bisa buat hipotesis, mungkin saja sistem imunnya masih sangat lemah dan cara mengantisipasi serangan penyakit juga belum ada. Dengan demikian kita bisa mengungkapkan orang-orang zaman dahulu masih rentan terhadap paparan penyakit. Ini sangat penting," papar Fahmi Oscandar, Koordinator Odontologi Forensik Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjadjaran.

Peradaban manusia di Gua Pawon

Penemuan tujuh rangka ini dianggap cukup penting untuk mengisi potong mata rantai jejak manusia prasejarah yang hilang. Diketahui pada 8 Juli 1999, ditemukan potongan gigi seri manusia prasejarah berusia 600 ribu tahun yang lalu di Tambaksari, Ciamis.

Sementara itu di Subang Larang, Tim Eskavasi Gua Pawon juga berhasil menemukan fosil kerangka manusia yang lebih muda, diperkirakan berusia 45 tahun sebelum Masehi. Dengan penemuan di Tambaksari dan Pawon, tim ini memercayai masih ada jejak manusia prasejarah yang terkubur di Jabar.

"Kita ingin mendapatkan periode yang lebih tua lagi karena dari proses migrasi untuk umur-umur hunian prasejarah seperti Pawon ini, Jawa Barat punya lapisan antara 30 hingga 35 ribu tahun yang lalu, makanya kita gali lagi," ujar Ketua Tim Eskavasi Gua Pawon, Lutfi Yondri.

Pada proses ekskavasi lanjutan, tim belum berhasil menemukan individu manusia prasejarah. Tetapi mereka berhasil menemukan beragam artefak yang terbuat dari bahan batuan obsidian, andesit, dan rijang yang diperoleh Manusia Pawon dari tempat lain.

"Batu gamping di antaranya digunakan sebagai perkutor (alat batu pukul), juga ada yang digunakan dalam bentuk alat serpih. Perkutor digunakan untuk memecah tulang yang kemudian mereka gunakan sebagai artefak seperti lancipan," papar Lutfi.

Mongabay menulis, Jabar diketahui memiliki banyak monumen prasejarah, khusus di wilayah selatan. Misalnya terdapat situs arkeologi berupa puden berundak di Gunung Padang, Cianjur yang berjarak tidak lebih 50 kilometer dari Gua Pawon.

Kisah Migrasi Manusia di Pegunungan Karst Sulawesi Selatan

Keberadaan situs itu membuktikan kepercayaan manusia prasejarah telah tumbuh dan adanya hubungan baik antara mereka dengan lingkungan.

“Tetapi, di sana tidak ditemukan manusianya. Yang jelas, manusia prasejarah menjadikan gua-gua sebagai tempat tinggal. Pawon masih lebih tua dari kebudayaan Toala di Lamoncong, Sulawesi Selatan,” katanya.

Lutfi juga menceritakan adanya fenomena persebaraan Manusia Pawon. Fakta pola migrasi ini ditemukan dari kemiripan penguburan manusia yang terlipat di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Fenomena ini juga ditemukan di Song Keplek di Pacitan, (5.900 tahun lalu), Song Gentong di Tulungagung, (8.760 tahun lalu), Song Terus di Pacitan, (9.200 tahun lalu), Gua Braholo di Gunung Kidul (9.780 tahun lalu) hingga menyebar ke arah timur Nusantara. Pola pemakaman ini sama dengan cara penguburan di Gua Pawon.

"Mereka berpindah seiring migrasi hewan buruan. Artinya, pola yang terjadi masa itu adalah kebutuhan untuk bertahan hidup,” terangnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini