Keanekaragaman Hayati dan Potensi Wisata TN Teluk Cenderawasih

Keanekaragaman Hayati dan Potensi Wisata TN Teluk Cenderawasih
info gambar utama

Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) termasuk salah satu taman nasional dengan keragaman potensi flora, fauna, dan alam yang menakjubkan. Berlokasi di Papua Barat, TNTC merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia yang terdiri dari daratan dan pesisir pantai, pulau-pulau, perairan lautan, dan terumbu karang.

TNTC berada di lima wilayah dan dua provinsi termasuk Kabupaten Teluk Wondana dan Kabupaten Manokwari di Provinsi Papua Barat dan Kabupaten Nabire, Kabupaten Yapen, dan Kabupaten Waropen di Provinsi Papua. Kawasan TNTC terdiri dari 18 pulau yang terbagi dalam beberapa zona, yaitu Pulau Nuburi, Pepaya, Nutabari, Kumbur, Anggromeos, Kabuoi, Rorado, Kuwom, Matas, Rouw, Iwaru, Rumarakon, Nusambier, Maransabadi, Nukup, Paison, Numerai, dan Wairundi.

TNTC ditetapkan sebagai kawasan Cagar Alam Laut pada tahun 1990 kemudian statusnya berubah menjadi Taman Nasional tahun 1993. Fungsi dari kawasan ini untuk perlindungan sistem penyangga kehidupan, menunjang pemanfaatan lestari sumber daya alam dan ekosistemn, juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan, serta mendukung budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

Menelusuri Hutan Gambut dan Danau Eksotis di Taman Nasional Zamrud

Keanekaragaman hayati

Diketahui ada 64 jenis vegetasi daratan pulau di TNTC dari vegetasi hutan pantai sampai vegetasi hutan pegunungan daratan pulau dan 14 di antaranya dilindungi. Jenis-jenis vegetasi atau tumbuh-tumbuhan itu antara lain beberapa jenis bakau, sagu, cemara pantai, ketapang, nipah, dan pandan.

TNTC juga dihuni oleh ratusan jenis fauna yang terdiri dari 200 jenis terumbu karang, 209 jenis ikan, 196 jenis moluska, 5 jenis reptil, 3 jenis mamalia air, 37 jenis aves, 183 jenis fauna darat. Dari 27 jenis aves di TNTC, 18 di antaranya termasuk spesies dilindungi seperti elang laut, dan junai mas.

Untuk ekosistem terumbu karang di TNTC terbagi menjadi dua zona yaitu zona rataan terumbu dan zona lereng terumbu. Untuk hampara karang di perairan laut, terbagi dalam lima bentuk yaitu terumbu karang berbentuk potongan-potongan, terumbu karang pantai, terumbu karang penghalang, terumbu karang berbentuk cincin atau atol, dan terumbu karang perairan dangkal.

Di taman nasional ini juga kita bisa menemukan berbagai jenis moluska atau hewan lunak yang seringnya bercangkang keras seperti keong cowries, keong strombidae, kima raksasa, kima besar, kima tapak kuda, kima lubang, kima kepala kambing, lola, dan batu laga.

Selain moluska, ada empat jenis penyu yang sering mendarat di taman nasional ini, yaitu penyu sisi, penyu hijau, penyu lekang, dan penyu belimbing. Kemudian, ada juga dugong, paus biru, ketam kelapa, lumba-lumba leher botol, buaya muara, pari manta, dan hiu yang sering muncul di perairan TNTC.

Kemudian, ada ratusan jenis ikan di TNTC yang terbagi dalam kelompok ikan muara, ikan bakau, ikan karang, ikan pelagis, dan ikan endemik. Untuk ikan karang, beberapa di antaranya adalah butterflyfish, angelfish, damselfish, parrotfish, rabbitfish, dan anemonefish.

Indonesia Masuk Jajaran Negara Pemilik Taman Nasional Terbanyak di Dunia

Potensi wisata

Selain menjadi rumah bagi ratusan flora dan fauna, TNTC juga memiliki potensi wisata yang begitu menarik untuk dijelajahi. Tak hanya melihat aneka satwa dan tumbuhan, di sana pengunjung bisa menikmati wisata alamnya. Salah satunya ada gua alam peninggalan zaman purba, sumber air panas dengan kandungan belerang tanpa kadar garam, hingga gua dalam air.

Di kawasan TNTC ada beberapa pantai yang bisa didatangi, misalnya Pulau Rumberpon. Pantai ini biasa dijadikan lokasi pengamatan burung atau menjelajahi hutan bakau, tetapi di sana juga ada penangkaran rusa dan pengunjung bisa menyelam, bermain-main di pantai, dan melihat kerangka pesawat tempur Jepang yang jatuh di laut.

Kemudian ada Pulau Nusrowi di mana wisatawan dapat mengamati satwa dan perairannya ramah untuk penyelam pemula. Selain itu ada Pulau Mioswaar yang memiliki sumber air panas, air terjun, dan gua peninggalan zaman purba. Di gua tersebut, pengunjung bisa melihat kerangka leluhur etnik Wandau, yang diyakini merupakan kelompok manusia pertama yang menghuni pulau tersebut.

Bagi yang ingin mengamati ikan paus dan lumba-lumba, bisa menyelam di Pulau Yoop dan perairan Wondesi. Setelah itu, bisa bertolak ke Pulau Roon untuk mengamati aneka jenis aves, menyelam, dan mendatangi sebuah gereja tua yang kabarnya menyimpan kitab injil yang diterbitkan tahun 1898.

Untuk bewisata di TNTC, ada beberapa aturan yang wajib dipenuhi, di antaranya mengurus surat permohonan ijin penerbitan SIMAKSI (Surat Ijin Memasuki Kawasan Konservasi) kepada Kepala Balai Besar TNTC, mematuhi aturan masyarakat adat di dalam dan sekitar kawasan TNTC, tidak boleh mengganggu kehidupan laut, tidak menyentuh koral hidup, dilarang menggunakan jet ski. Untuk berinteraksi dengan hiu paus, dilarang menggunakan kamera dengan kilat, dilarang menyentuh atau mengejar hiu secara aktif, dan masuk ke air setenang mungkin.

Menjelajah Taman Nasional Aketajawe Lolobata di Halmahera


Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini