Riwayat Kesembuhan Pasien HIV yang Baru Terjadi 4 Kali di Dunia

Riwayat Kesembuhan Pasien HIV yang Baru Terjadi 4 Kali di Dunia
info gambar utama

HIV sebagai virus yang berpotensi menyebabkan munculnya penyakit lanjutan berupa AIDS tak dimungkiri menjadi salah satu penyakit yang kerap menimbulkan momok memilukan bagi para penderitanya.

Bukan tanpa alasan, hal tersebut terjadi karena saat ini masih cukup banyak stigma yang beredar di masyarakat khususnya di Indonesia sendiri, bahwa mereka yang terpapar HIV biasanya selalu dikaitkan dengan akibat dari kebiasaan seksual yang bertentangan dengan nilai dan norma kehidupan di tengah masyarakat.

Meski tak sepenuhnya salah, namun selama ini tak sedikit pula orang-orang yang harus menerima kenyataan menderita HIV akibat risiko penularan yang disebabkan oleh hal-hal tidak disengaja layaknya penggunaan peralatan medis yang tidak layak seperti alat suntik, transfusi darah, bahkan terkait hubungan biologis layaknya pemberian ASI dari ibu penderita HIV kepada anaknya, atau turunan biologis secara langsung dari wanita penderita yang memiliki keturunan.

Menjadi penyakit seumur hidup yang sampai detik ini belum ditemukan obat penyembuhannya secara pasti, tak heran jika tekanan dan penderitaan bagi orang-orang yang menderita penyakit satu ini sangat besar.

Menurut data WHO yang dipublikasi oleh Katadata, tercatat bahwa per tahun 2020 ada sebanyak 1,5 juta kasus HIV yang terjadi secara global, di mana Afrika diketahui menjadi negara dengan kasus penderita HIV tertinggi yaitu 880 ribu kasus.

Lain itu, disebutkan bahwa ada sebanyak 680 ribu orang yang meninggal dunia karena HIV pada tahun yang sama, di mana sebanyak 99 ribu merupakan anak di bawah 15 tahun dan 580 ribu sisanya adalah penderita berusia di atas 15 tahun.

Bicara mengenai kesembuhan dari kasus HIV sejatinya merupakan hal yang mustahil, setidaknya sampai tahun 2011, di mana peristiwa kesembuhan pertama kali dilaporkan terjadi kepada seorang pria bernama Timothy Ray Brown di Berlin.

Setelahnya, dilaporkan ada kesembuhan serupa dan baru-baru ini kembali terjadi di Argentina kepada seorang wanita yang masih dirahasiakan identitasnya.

Bagaimana kesembuhan tersebut bisa terjadi?

Hari AIDS Sedunia: Mengenali Mitos dan Fakta Seputar HIV/AIDS

Dua kesembuhan berkat pengobatan cangkok sumsum tulang

Timothy Ray Brown, pasien HIV yang pertama sembuh
info gambar

Timothy Brown, merupakan sosok pertama yang mencatatkan laporan kesembuhan sebagai pasien HIV sepanjang sejarah. Pria yang awalnya dijuluki sebagai ‘Pasien Berlin’ ini sembuh dengan tidak hanya menjalani pengobatan terapi Antiretroviral (ART), melainkan juga karena menjalani cangkok tulang sumsum belakang pada tahun 2007.

Melansir penjelasan pada laman National Center for Biotechnology Information, diceritakan bahwa ia pertama kali divonis positif HIV pada tahun 1995. Sebagaimana diketahui bahwa orang yang terpapar HIV memang berisiko mengalami penyakit kanker karena pertahanan tubuh yang lemah, Timothy divonis menderita leukimia 10 tahun kemudian.

Setelah melalui serangkaian konsultasi bersama dokter, dirinya lalu diharuskan menjalani prosedur transplantasi sumsum tulang belakang untuk bertahan dari penyakit leukimia. Pada saat yang bersamaan itu pula, Timothy dianjurkan untuk berhenti mengonsumsi obat Antiretroviral (ARV).

Siapa sangka, cangkok sumsum tulang belakang yang dimaksudkan untuk menyembuhkan leukimia yang diderita ternyata juga ikut mematikan sel virus HIV yang ada di dalam tubuhnya. Hal tersebut dibuktikan bahwa setelah 3 bulan pasca operasi tidak lagi ditemukan sel HIV dalam darahnya.

Bukan hanya Timothy, hal serupa nyatanya juga terjadi pada Adam Castillejo, penderita HIV yang dijuluki ‘Pasien London’ tersebut menjadi orang kedua yang dilaporkan sembuh dari HIV setelah menjalani transplantasi sumsum tulang belakang pada tahun 2016 untuk menyembuhkan kanker limfoma stadium empat yang ia derita.

Sama seperti Timothy, tujuan utama transplantasi sumsum tulang yang dilakukan Adam awalnya adalah untuk penyembuhan kanker, namun siapa sangka pengobatan tersebut justru membawa mutasi yang menghambat masuknya HIV ke dalam sel, sehingga sistem kekebalan baru pada tubuh Adam lebih tahan terhadap HIV sekaligus membersihkan tubuhnya dari virus tersebut.

Menurut penjelasan sayaberani.org, Adam disebutkan sembuh dari HIV setelah 30 bulan tidak mengonsumsi ARV dan para peneliti tidak lagi menemukan infeksi HIV aktif di tubuh Adam. Namun, disebutkan masih terdapat sisa DNA HIV di beberapa sel yang tidak bisa bereplikasi dan dianggap sebagai bangkai virus.

Baik Timothy maupun Adam pada awalnya sama-sama tidak mau membuka identitas mereka sebagai pasien yang mengalami kesembuhan HIV pertama di dunia. Namun pada akhirnya mereka berani untuk membuka identitasnya dengan maksud dapat memberikan harapan bagi para penderita HIV di seluruh dunia.

“Saya memutuskan membuka identitas saya ke media, merubahnya dari julukan ‘Pasien Berlin’ menjadi nama asli saya, Timothy Ray Brown. Saya tidak ingin menjadi satu-satunya orang di dunia yang sembuh dari HIV, saya ingin mendedikasikan hidup saya mendukung penelitian mencari obat untuk HIV,” ujar Timothy.

Bagaimana Tinju Menyelamatkan Seorang Penderita HIV

Dua kesembuhan pasien wanita secara alami

Loreen Willenberg
info gambar

Jika Timothy dan Adam telah menjadi bukti dari peristiwa kesembuhan HIV yang ‘mendapat mukjizat’ tak disengaja akibat transplantasi sumsum tulang yang tujuan awalnya untuk kesembuhan kanker, lain halnya dengan dua pasien wanita HIV yang dilaporkan sembuh secara alami.

Peristiwa kesembuhan alami pertama dilaporkan terjadi kepada seorang wanita bernama Loreen Willenberg asal California, yang sudah divonis menderita HIV sejak tahun 1992.

Kondisi berbeda disadari mulai terjadi seiring berjalannya waktu ketika Loreen diketahui tidak menderita gejala lanjutan seperti halnya yang selama ini dialami oleh para penderita HIV pada umumnya.

Akibat kondisi tersebut, Loreen disebutkan menjadi salah satu kasus HIV langka di mana sistem imun tubuhnya mampu mengendalikan virus selama beberapa dekade tanpa menggunakan pengobatan ATV, dan menjadi salah satu orang yang oleh para ilmuwan dijuluki sebagai bagian dari Elite Controllers.

Mengutip penjelasan lain dari laman National Center for Biotechnology Information, Elite Controllers dikenal sebagai kelompok individu langka yang memiliki kekebalan luar biasa terhadap HIV, sehingga sel HIV yang ada pada tubuh mereka diasingkan dan tidak dapat bereplikasi.

Sampai saat ini, disebutkan bahwa individu yang memiliki kondisi tersebut hanya ada sekitar kurang dari setengah persen dari total penderita HIV di seluruh dunia, dan yang baru teridentifikasi oleh para ilmuwan yang menerbitkan penelitian tersebut di laman jurnal ilmiah tertua yakni Nature, disebutkan baru ada sekitar 60 orang.

Selain Loreen, terbaru peristiwa kesembuhan serupa kembali teridentifikasi di Argentina. Dengan identitas yang masih dirahasiakan, wanita tersebut dijuluki dengan nama ‘Pasien Esperanza’.

Berdasarkan publikasi healthline, peristiwa langka ini terjadi pada seorang wanita berusia 30 tahun yang sudah divonis positif HIV sejak tahun 2013.

Namun sama halnya seperti Loreen, wanita tersebut diketahui tidak menunjukkan gejala lanjutan seperti pasien HIV pada umumnya sejak pertama kali divonis delapan tahun lalu. Saat ini, para peneliti bahkan sudah tidak menemukan sel HIV aktif dalam tubuh wanita tersebut yang disebutkan hilang secara alami berkat sistem kekebalan tubuh yang ia miliki.

Meski masih terlalu awal, namun empat peristiwa kesembuhan ini setidaknya menjadi harapan akan adanya kesembuhan serupa atau minimal harapan hidup bagi para penderita HIV di seluruh dunia.

Suksma Ratri, Pejuang HIV Dunia dari Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini