Hari AIDS Sedunia: Mengenali Mitos dan Fakta Seputar HIV/AIDS

Hari AIDS Sedunia: Mengenali Mitos dan Fakta Seputar HIV/AIDS
info gambar utama

Hari AIDS Sedunia diperingati setiap tanggal 1 Desember setiap tahunnya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV. Peringatan ini diinisiasi pada tahun 1988 dalam Pertemuan Menteri Kesehatan mengenai berbagai program untuk pencegahan penyakit tersebut.

Dalam keterangan resmi WHO diungkapkan bahwa tema Hari AIDS Sedunia adalah “End inequalities. End AIDS” atau “Akhiri Ketimpangan. Akhiri AIDS” bertujuan untuk menjangkau orang-orang yang masih kurang kesadaran terhadap penyakit ini. WHO juga menyerukan kepada para pemimpin dunia dan seluruh masyarakat untuk bersatu dalam menghadapi ketidaksetaraan yang berkembang dalam akses ke layanan HIV/AIDS.

HIV/AIDS memang bukan sesuatu yang baru, tetapi nyatanya masih banyak masyarakat yang asing terhadap penyakit ini sehingga banyak beredar mitos-mitos yang tidak terbukti kebenarannya.

Di Indonesia sendiri, HIV/AIDS menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup banyak terjadi. Seperti dilansir Bisnis.com, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) memperkirakan ada 543.100 orang dengan HIV (ODHIV) pada tahun 2020. Dari angka tersebut, 149.883 orang yang tersebar di 502 kabupaten atau kota sudah mendapatkan terapi antiretroviral (ARV), tetapi ada 30.100 ODHIV diperkirakan meninggal, di mana 10.103 kasus kematiannya dilaporkan.

Kiprah Johannes Leimena, Pahlawan yang Berhasil Meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak

Apa itu HIV/AIDS?

Mengapa penjelasan mengenai AIDS selalu dikaitkan dengan HIV? Jelas karena keduanya memang memiliki kaitan erat.

Menurut penjelasan dari laman WHO, Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan sejenis virus yang menginfeksi sel darah putih dan menargetkan sistem kekebalan tubuh serta melemahkan pertahanan orang terhadap banyak infeksi dan beberapa jenis kanker yang dapat dilawan oleh orang dengan sistem kekebalan yang sehat.

Saat virus menghancurkan dan merusak fungsi sel kekebalan, individu yang terinfeksi secara bertahap menjadi kekurangan kekebalan. Fungsi kekebalan biasanya diukur dengan jumlah CD4. ODHIV membutuhkan pengobatan Antiretroviral (ARV) untuk memperlambat pertumbuhan virus. Jika tidak ditindaklanjuti, HIV dapat berpotensi berkembang menjadi Aquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

Pada dasarnya AIDS merupakan sekumpulan gejala yang timbul akibat kekebalan tubuh menurun disebabkan oleh infeksi HIV. Sama seperti ODHIV, orang dengan HIV/ADIS (ODHA) juga membutuhkan pengobatan ARV untuk menekan virus HIV/AIDS.

Untuk gejala HIV termasuk bervariasi tergantung pada stadium infeksi. Pada waktu awal terinfeksi, ODHIV mungkin tidak menyadari status mereka. Dalam beberapa minggu awal, mereka mungkin mengalami demam, sakit kepala, ruam, atau sakit tenggorokan.

Ketika infeksi semakin melemahkan sistem kekebalan tubuh, gejala yang terjadi bisa berkembang ke pembengkakan kelenjar getah bening, berat badan menurun, demam, batuk, dan diare. Bila tidak mendapat pengobatan, perkembangan penyakit bisa semakin parah seperti tuberkulosis, meningitis kriptokokus, infeksi bakteri parah, bahkan kanker seperti limfoma dan sarkoma kaposi.

Institut Pasteur Dr Sardjito dan Perjuangan Tenaga Kesehatan bagi Kemerdekaan

Mitos dan fakta seputar HIV/AIDS

Antiretroviral therapy
info gambar

Karena keduanya sering dikaitkan, banyak mitos beredar bahwa HIV selalu akan berkembang menjadi AIDS. Faktanta, AIDS memang disebabkan oleh HIV. Namun, jika Anda terdeteksi memiliki HIV, tetap ada kemungkinan untuk tidak berkembang menjadi AIDS dan tidak mengalami AIDS sepanjang hidup. ODHIV dapat melakukan pengobatan ARV sesegera mungkin untuk melindungi tubuh dan tidak berkembang menjadi AIDS.

Satu hal yang perlu diingat adalah HIV merupakan penyakit seumur hidup. Virusnya akan menetap di tubuh penderita seumur hidup dan belum ada metode pengobatan untuk mengatasinya. Namun, saat ini ada obat ARV yang bisa memperlambat perkembangan penyakit dan meningkatkan harapan hidup.

Mitos lain adalah soal pengobatan HIV yang mengharuskan ODHIV meminum lusinan pil setiap hari. Faktanya, bertahun-tahun lalu memang benar adanya, tetapi saat ini kebanyakan orang yang memulai pengobatan HIV hanya minum 1-4 pil setiap hari. Bahkan, ada kemungkinan seseorang minum obat yang menggabungkan 2-3 obat dalam satu pil saja.

Seperti yang kita ketahui bahwa penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, bisa dari darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, dan ASI. Mitos lain yang beredar adalah jika pasien HIV sudah menjalani pengobatan, maka ia tak lagi menyebarkan virus lewat hubungan intim.

Faktanya, meski Anda sedang melakukan pengobatan, risiko penularan kepada pasangan tetap ada. Jadi, tetaplah menggunakan pengaman.

Kemudian, ada pula mitos bahwa ODHIV tidak bisa memiliki anak. Faktanya, wanita dengan HIV masih bisa hamil dengan aman. Namun, penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk menurunkan kemungkinan virus tersebut tertular ke pasangan dan bayi.

Mitos lain yang meresahkan adalah HIV bisa menyebar dan menular pada orang lain lewat sentuhan seperti berpelukan, berjabat tangan, hingga menggunakan alat makan yang sama. Faktanya menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), HIV tidak bisa menyebar melalui sentuhan. Seseorang bisa tertular virus jika bersentuhan dengan cairan darah, ASI, sperma, cairan vagina, cairan anus, atau lewat jarum dari orang yang sudah memiliki HIV. Kemudian, HIV juga tidak menular lewat air mata, air liur, air, udara, makanan dan minuman, nyamuk, dan hewan peliharaan.

Potret Perawatan Kesehatan Mental Era Kolonial di Museum Kesehatan Jiwa

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini