Potret Perawatan Kesehatan Mental Era Kolonial di Museum Kesehatan Jiwa

Potret Perawatan Kesehatan Mental Era Kolonial di Museum Kesehatan Jiwa
info gambar utama

Selama ini, kita terus disarankan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran secara fisik demi kehidupan yang lebih baik, meningkatkan produktivitas, dan mencegah tubuh dari berbagai penyakit. Namun, jangan lupakan bahwa kesehatan mental juga punya peranan penting.

Menurut penjelasan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, kesehatan mental mencakup kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial. Hal ini pun dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan bertindak.

Kesehatan mental pun dapat membantu menentukan bagaimana seseorang dapat menangani stres, berhubungan dengan orang lain, dan membuat pilihan yang sehat. Bila tidak diatasi dengan baik, kesehatan mental dapat menyebabkan komplikasi serius, baik pada fisik, emosi, dan perilaku.

Saat ini, perawatan kesehatan mental dapat dilakukan oleh ahli kejiwaan sesuai kondisi pasien dan kebutuhannya. Namun, pernahkah Anda terpikirkan bagaimana orang-orang zaman dahulu mengatasi masalah kesehatan mental?

Untuk mengetahui informasi tentang kesehatan mental pada masa lalu, kita bisa belajar di Museum Kesehatan Jiwa yang ada di dalam Rumah Sakit Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, Malang, Jawa Timur.

Menapaki Riwayat Pembangunan Museum Papua di Jerman

Museum Kesehatan Jiwa

Bagi yang penasaran dengan isu kesehatan mental pada masa lalu, bisa belajar lebih banyak di museum ini. Sebab di sana terdapat 700 benda koleksi yang berhubungan dengan kesehatan jiwa yang berasal dari masa penjajahan Belanda di indonesia.

Museum ini banyak dikunjungi tamu yang ingin belajar soal kesehatan mental, melakukan penelitian, atau tujuan rekreasi.

Museum Kesehatan Jiwa diresmikan pada tahun 2009 bertepatan dengan hari jadi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr. Radjiman Wediodiningrat yang ke-107. Rumah sakit ini memiliki sejarah panjang dalam bidang kesehatan jiwa. Bahkan, keberadaannya sudah lebih dahulu sebelum Indonesia merdeka.

RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat telah melayani berbagai pasien dengan gangguan kejiwaan tanpa memandang status sosial. Sebelum rumah sakit jiwa dibangun, banyak pasien dengan gangguan kejiwaan diserahkan pada Dinas Kesehatan Tentara Belanda.

Pada tahun 1902, rumah sakit ini dibuka secara resmi dengan nama Krankzinigen Gesticht te Lawang. Saat itu, area rumah sakit bisa menampung 500 tempat tidur. Setelah masa kemerdekaan, RSJ ini kemudian dikenal dengan nama Rumah Sakit Jiwa Sumber Porong dan terus melakukan upaya pengembangan terhadap pengobatan dan perawatan pasien dengan masalah kesehatan mental.

Baru pada tahun 2002, diresmikan kembali dengan nama baru yaitu Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang (RSJRW) dan telah menangani berbagai pasien. Salah satunya, pasien berkebangsaan Eropa yang dirawat sejak tahun 1941 hingga meninggal dunia pada tahun 2002 dan menjadi pasien terlama yang menjalani perawatan di RSJRW selama 64 tahun.

Museum Mpu Purwa Simpan Peninggalan Kuno dari 5 Kerajaan Sekaligus

Koleksi museum

Berkunjung ke Museum Kesehatan Jiwa mungkin akan memberikan kesan ngeri dan menegangkan. Sebab, benda-benda koleksi serta foto-foto yang menggambarkan pengobatan kesehatan jiwa di masa lalu terasa begitu menyeramkan.

Memasuki area museum, suasananya memang tampak angker. Pengunjung dapat melihat berbagai peralatan untuk terapi yang tampak tak masuk akal tapi memang digunakan pada zaman dahulu.

Salah satunya adalah bak hydrotherapy, sekilas mirip bathtub biasa, tetapi alat ini digunakan tenaga medis pada abad ke-19 untuk merendam pasien yang sedang kambuh agar bisa lebih tenang.

Kemudian, ada pula alat pengiris otak yang pada tahun 1927-1940 digunakan petugas laboratorium untuk meneliti otak manusia dan melihat gangguan-gangguan yang dialaminya. Ada pula alat pemotong tengkorak yang digerakkan dengan tangan dan pisau pemotong tulang yang melihatnya saja bikin merinding.

Di dalam museum, ada sebuah alat yang disebut electroconvulsive therapy yang digunakan untuk mengalirkan arus listrik tegangan rendah lewat kepala pasien untuk terapi. Alat tersebut juga kerap kali digunakan pada pasien dengan depresi berat, memiliki kecenderungan bunuh diri, gelisah, tau tidak responsif terhadap obat-obatan.

Selain itu, ada pula dokumen tentang rekam medis pasien penderita gangguan jiwa dan foto-foto yang menampilkan bagaimana kondisi perawatan pasien pada zaman dahulu yang terkesan sadis karena walau bagaimanapun, ilmu kedokteran jiwa belum maju seperti sekarang sehingga ada keterbatasan dalam penggunaan alat-alat dan aneka perlengkapan yang dipakai dalam pengobatan.

Tak lupa, di museum ini pengunjung bisa melihat pasung kayu yang dulu sering dipakai pada pasien agar tak melukai orang lain. Penggunaan pasung sebenarnya tidak dianjurkan, tetapi pernah digunakan dalam kondisi khusus. Pasung sendiri biasanya digunakan seseorang dalam posisi duduk dengan kedua kakinya dimasukkan ke dalam kayu yang memiliki dua lubang. Namun, pasung juga bisa dipasang di tangan atau leher.

Masih ada lagi koleksi yang kemungkinan membuat pengunjung mual melihatnya, yaitu toples bening berisi janin dan organ dalam manusia yang diawetkan. Tak diketahui janin tersebut milik siapa sebab sudah ada sejak awal rumah sakit berdiri.

Dari semua koleksi yang menyeramkan, ada pula ruangan yang berisi alat musik yang digunakan untuk terapi serta lukisan-lukisan yang dibuat pasien RSJ Lawang, dari mulai gambar pemandangan alam, bunga, dan wajah manusia.



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini