Kiprah Johannes Leimena, Pahlawan yang Berhasil Meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak

Kiprah Johannes Leimena, Pahlawan yang Berhasil Meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak
info gambar utama

Mungkin Kawan tidak banyak yang tahu terkait sosok pahlawan nasional satu ini. Ialah Johannes Leimena atau akrab disapa Om Jo. Ia sempat dipercaya menjadi Menteri Kesehatan Republik Indonesia selama delapan periode di masa pemerintahan Era Presiden Soekarno. Berkat campur tangannya, ternyata akses dan pelayanan fasilitas kesehatan dapat dengan mudah kita rasakan sampai detik ini.

Berbekal kegigihannya, muncul berbagai gebrakan-gebrakan baru dalam hal peningkatan kesehatan secara keseluruhan, khususnya peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Terutama semasa ia menjabat lebih menitikberatkan pada peningkatan akses kesehatan di Indonesia selepas perang kemerdekaan. Kini, melalui terobosan dan inisiatif Johannes Leimena generasi saat ini dapat merasakan efeknya.

Pada 1922, Dr. Johannes Leimena menjadi mahasiswa STOVIA. Kemudian, pada 1930 Dr. Johannes Leimena menjadi dokter di CBZ (Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting) atau yang sekarang disebut dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (Panitia Buku Kenangan Dr. J. Leimena, 1980, hlm. 36).

Dr. Johannes Leimena pertama kali menjabat sebagai Menteri Kesehatan RI pada tahun 1946, Menteri Muda Kesehatan di bawah Menteri Kesehatan dr. Darma Setiawan pada masa kabinet Perdana Menteri Soetan Sjahrir.

Semasa Dr. Johannes Leimena menjabat sebagai Menteri Kesehatan, ia dihadapkan pada masa-masa sulit, khususnya pada bidang kesehatan di Indonesia. Ia menjabat pada era revolusi pada tahun 1945 hinggga 1949 dan menjabat kembali di tahun 1950 sampai 1957 yang dikenal dengan masa demokrasi liberal.

Adapun kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh dr. Johannes Leimena antara lain kekurangan tenaga kesehatan, seperti dokter, para medis, tenaga administrasi, dan lain-lain. Di samping itu, sarana dan prasarana kesehatan juga mengalami kerusakan.

Keadaan pun kian sulit ketika masuknya dinas kesehatan federal yang mengakibatkan ketidaksinkronan hubungan, antara instansi pusat dan daerah terkait permasalahan kesehatan.

Legenda Ikan Mas Raksasa Danau Toba yang Dikeramatkan Masyarakat

Memulai kiprah dalam pembangunan fasilitas kesehatan

Ilustrasi tokoh Johannes Leimena | Foto: GNFI
info gambar

Mengutip dari Liputan6.com, terkait carut-marutnya permasalahan kesehatan era selepas kemerdekaan sekitar tahun 1950, akhirnya Om Jo berinisiatif untuk mengubah orientasi pembangunan yang awalnya dari daerah perkotaan ke daerah pedesaan. Om Jo mulai menggagas pembangunan fasilitas kesehatan yaitu rumah sakit di setiap kabupaten, meliputi kecamatan dan desa.

Pusat kesehatan terpusat di wilayah kabupaten sedangkan rumah sakit pembantu difokuskan pada wilayah kecamatan. Kemudian di tingkat desa, beliau berinisiatif dalam membangun balai pengobatan. Namun, gagasannya ini tidak sepenuhnya dilaksanakan serentak di seluruh tanah air.

Ada beberapa alasan-alasan yang mendasari beliau untuk memulainya perlahan-lahan. Mulai dari faktor biaya operasional hingga tenaga personalia yang nantinya akan diperbantukan dan ditempatkan pada setiap daerah.

Om Jo memulai tahap percobaan pembangunan faskes ini pertama kali diterapkan di Bandung. Alasan Bandung dipilih sebagai percobaan karena tingkat perekonomian Kota Bandung relatif lebih baik dibandingkan daerah lain. Dengan demikian pembiayaan kegiatan dapat dibantu oleh pemerintah daerah.

Huta Tinggi dan Tipang Desa Wisata Suku Batak dengan Pemandangan Danau Toba

Mengangkat permasalahan angka kematian ibu dan anak

Johannes sang menteri hebat | Foto: 4.bp.blogspot.com
info gambar

Sebuah penelitian historiografi yang diteliti oleh Astiannis dan Saripudin (2018) dalam jurnal yang berjudul Johannes Leimena dalam Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia (1946-1956), melaporkan bahwa permasalahan utama yang dihadapkan pada Indonesia di bidang kesehatan adalah perihal angka kematian ibu dan anak.

Ketidakstabilan yang terjadi pada masa itu berdampak pada bidang politik, sosial, ekonomi termasuk kesehatan masyarakat Indonesia. Tahun 1940-1950 Indonesia mengalami laju pertumbuhan penduduk yang lambat akibat tingginya mortalitas penduduk Indonesia. Tingginya angka mortalitas tersebut disebabkan oleh beberapa hal, seperti berkembangnya wabah penyakit, krisis pangan, dan rendahnya layanan kesehatan ibu dan anak.

Sekitar kurun tahun 1951-an untuk rumah sakit besar, yaitu angka kematian ibu hamil (maternity death rate) mencapai 12 sampai 16 persen dan angka kematian bayi (infant mortality rate) mencapai 115 sampai 300 persen.

Tingginya angka kematian ibu dan anak pada saat itu disinyalir dari beberapa penyebab. Sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak pada wilayah-wilayah pelosok. Seperti yang kita ketahui bahwa memang saat itu penduduk Indonesia sebagian besar tinggal di pedesaan.

Pada zaman itu, ketersediaan bidan belum semerata sekarang. Dulu, masyarakat masih mengandalkan dukun bayi dalam proses kelahirannya. Dengan demikian dukun bayi yang berada di desa-desa sejatinya masih belum mengikuti pendidikan dukun bayi.

Kesenjangan penghasilan yang diperoleh bidan swasta dengan bidan milik pemerintah menjadi faktor kedua dalam permasalahan kesehatan ibu dan anak. Dikutip dari Neelakantan (2014) menyatakan bahwa bidan-bidan pada saat itu nampaknya belum merata persebarannya.

Minat bidan yang rendah untuk bekerja di pelosok menjadi pemicu. Kesenjangan penghasilan digambarkan dengan perolehan upah bidan swasta sebesar Rp75 per satu kali penanganan, sedangkan penghasilan yang didapatkan oleh bidan pemerintah mencapai Rp90 per satu kali penanganan.

Pulau Maratua, Surga Wisata Kalimantan Timur yang Masuk Program Ekonomi Biru

Peletakan pondasi balai kesejahteraan ibu dan anak (BKIA)

Berkaca dari masalah-masalah yang dihadapi, akhirnya Dr. Johannes Leimena benar-benar mengutamakan kesehatan ibu dan anak dengan mendirikan Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA). BKIA mulai berkembang dengan melakukan penyuluhan terhadap para ibu, pelatihan dukun beranak, dan pelaksanaan imunisasi.

Dukungan pelaksanaan peningkatan kesehatan ibu dan anak pun dibantu berkat sumbangan dari UNICEF untuk kesehatan ibu dan anak, keperluan peningkatan gizi, dan keperluan obat-obatan di Indonesia. Fasilitas lain yang diberikan UNICEF kepada Kementerian Kesehatan RI ialah dengan membiayai Direktur Departemen Kesehatan Ibu dan Anak, yaitu Dr. Tjokroamodjo untuk melakukan studi di beberapa rumah sakit di London, Birmingham, dan Stratford. Dr. Tjokroamodjo juga diberikan pelatihan kursus pediatri.

Melalui BKIA DAN dukungan dari UNICEF, Om Jo mendapatkan kucuran dana sebesar 24.000 dolar untuk beasiswa para tenaga kesehatan ibu dan anak. Nantinya, dari BKIA akan muncul bibit-bibit kader baru yang bergerak pada penyuluhan kesehatan di Indonesia. Terkhusus pula kader tenaga kesehatan yang berfokus pada peningkatan kesehatan ibu dan anak.

Keberadaan BKIA menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat desa karena dalam setiap pelatihannya seringkali membagikan susu, sabun, dan vitamin secara gratis. Semua ini atas kerja sama Dr. Johannes Leimena dan berkat dukungan dari UNICEF. Dengan demikian kehadiran BKIA sejatinya benar-benar menjadi garda terdepan dalam penyelamatan kesehatan masyarakat khususnya ibu dan anak.

Istimewanya Sumbu Filosofis dalam Tata Letak Kota Yogyakarta

Dianugerahi pahlawan nasional berkat nilai-nilai perjuangannya

Sosok Dokter Johannes Leimena yang Sangat Dikagumi | Foto: Rikando Somba/Validnews.id
info gambar

Johannes Leimena dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2010 tepat saat masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dikukuhkan lewat Keputusan Presiden Nomor 52/TK Tahun 2010.

Ia pantas dianugerahi gelar tersebut karena memiliki nilai-nilai perjuangan yang sangat berpengaruh dalam ketahanan bangsa dan negara. Mengutip dari Antaranews Ambon, Johannes Leimena telah mencontohkan kepada kita tentang nilai kejujuran, integritas dan pengorbanan tanpa pamrih.

Lewat kontribusinya dalam bidang kesehatan, ia dapat menginspirasi semua kalangan untuk melakukan sesuatu bagi bangsa dan negara. Melansir dari Kompas, sosoknya merupakan figur yang baik untuk generasi masa kini. Ia datang bukan sebagai seorang pemburu harta karun ketika menjabat sebagai menteri, tetapi bekerja untuk melayani masyarakat Indonesia.

Sikap yang tulus, sangat menghargai, memiliki nilai empati yang tinggi terhadap bangsa Indonesia lewat andilnya dalam bidang kesehatan bangsa dan negara. Ia tidak pernah membeda-bedakan asal, etnis, dan agama.

Datang sebagai seorang dokter yang selalu mengabdikan dirinya bekerja untuk melayani kesehatan masyarakat Indonesia. Semua ia lakukan untuk bangsa dan negara. Hingga akhirnya, Johannes Leimena menghembuskan nafas terakhirnya pada 29 Maret 1977.

Keseruan Ngalarak Blarak, Permainan Tradisional yang Mendunia

Terkenang abadi di Timur Indonesia

Foto Tampak Depan RSUP Johannes Leimnena | Foto: Dok. Sehat Negeriku Kemenkes RI
info gambar

Nama Johannes Leimena kini diabadikan di Timur Indonesia dan menjadi rumah sakit umum pusat di kota Ambon. Mengutip Indonesia.go.id, RSUP dr Johannes Leimena merupakan rumah sakit umum pusat kelas B yang mulai beroperasi pada akhir tahun 2019.

Namanya dipilih karena merupakan pahlawan nasional dari Maluku yang berturut-turut mendapatkan kepercayaan sebagai Menteri Kesehatan selama 21 tahun. Sejak ada kasus terkonfirmasi positif COVID-19, RSUP dr Johannes Leimena telah turut berupaya dalam memutus rantai penyebaran penyakit.

Dengan kehadiran RSUP Dr. Johannes Leimena, dapat menjadi solusi integrasi layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat di kawasan timur Indonesia. Kini, masyarakat yang berada di Timur Indonesia sudah tidak perlu lagi jauh-jauh untuk penanganan khusus terkait medis.

Masyarakat Maluku, Maluku Utara, dan sekitarnya dapat memanfaatkan fasilitas RSUP Dr. Johannes Leimena ini. Semua pelayanan dilakukan dengan ketersediaan peralatan medis yang lengkap, canggih, dan andal pada semua poliklinik yang telah disediakan.*

Referensi: IJurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah UPI | Neelakantan, V. (2014). Health and Medicine in Soekarno Era Indonesia: Social Medicine, Public Health and Medical Education 1949 to 1967. [Tesis]. Sydney: University of Sydney | Liputan6 | Antaranews Ambon | Kompas| Indonesia.go.id | Panitya Buku Kenangan Dr. J. Leimena (1980). Kewarganegaraan yang Bertanggungjawab – mengenang Dr. J. Leimena. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RM
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini