Keseruan Nglarak Blarak, Permainan Tradisional yang Mendunia

Keseruan Nglarak Blarak, Permainan Tradisional yang Mendunia
info gambar utama

Nglarak blarak atau nglabrak merupakan sebuah permainan tradisional sejenis pacuan kereta berbahan dasar pelepah kelapa asli dari Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Awalnya, permainan ini bersifat tradisi dan hanya ada di wilayah Kulon Progo saja dan dimainkan oleh anak-anak desa di Area Perbukitan Menoreh.

Secara istilah, nglabrak sendiri dalam serapan bahasa berarti menabrak atau melawan. Artinya, dalam permainan ini bisa dilakukan sebagai langkah pembawa semangat dalam melawan segala hal negatif yang ada, baik itu berupa kebodohan maupun ketertinggalan.

Termasuk dalam permainan ini, menyiratkan semangat juang para pemuda melawan kemiskinan yang kian lama melanda daerah Kulon Progo, ketika Gunung Kidul mampu bangkit.

Dilansir dari Jaringacara.id, secara fisik permainan nglabrak menggunakan bahan dasar blarak atau pelepah daun kelapa yang memang masih alami. Blarak sendiri masih terdapat lidi, janur, dan pelepah kelapa. Permainan nglabrak konon berasal dari area Perbukitan Menoreh yang awalnya dimainkan oleh para penderes Nira.

Pasalnya, daerah sekitar perbukitan ini merupakan sebuah kampung penderes nira kelapa. Di sela-sela kesibukan para penderes Nira, biasanya mereka mengisi waktu luang untuk memainkan permainan tradisional ini. Dalam permainan nglarak blarak juga menggunakan bumbung nira, yang nantinya dijadikan sebagai target permainan untuk diperebutkan para pemain.

Berangkat dari keseruan dan kolaborasi permainan tradisional yang menggabungkan rekreasi, olahraga, budaya dan nilai seninya, bupati Kulonprogo pun tengah gencar mempromosikan permainan tradisional ini sebagai permainan asli Kulonprogo.

Dengan naiknya permainan ini, akhirnya pihak pemerintah secara rutin menggelar sebuah perhelatan pertandingan nglarak blarak setiap tahun bertajuk MAF atau Menoreh Art Festival. Dalam helatan ajang ini, permainan nglabrak menjadi salah satu cabang lomba yang diikuti setiap kecamatan se-Kulon Progo.

Opung Putra Rusmedia, Perempuan Pelindung Hutan Adat dari Kerakusan Korporasi

Permainan tempo dulu yang padukan hiburan dan seni

Potret permainan nglabrak | Foto: Diskominfo Kulon Progo
info gambar

Dilansir dari Kompas.com, pada awalnya permainan nglabrak mulai tersohor di kalangan masyarakat penderes atau penyadap nira kelapa di sekitar area Perbukitan Menoreh. Sang pemain Nglarak Blarak memanfaatkan blarak atau pelepah kelapa sebagai tunggangannya layaknya kereta.

Pelepah tersebut kemudian diseret dan bergesekan langsung ke tanah yang menghasilkan suara berdercit di tanah lapang. Dalam permainan ini mereka dituntut untuk adu cepat dan tangkas dalam memperebutkan bumbung atau wadah nira, hasil penyadap sebagai target para pemain ngelabrak ini.

Seorang pakar seni budaya Kulon Progo berpendapat bahwa permainan Nglarak Blarak ini tercipta sebuah kreasi permainan yang lebih menarik untuk dimainkan, enak ditonton sekaligus menyehatkan. Permainan khas tempo dulu ini ternyata memadukan antara rekreasi, edukasi sekaligus terkandung pula nilai seni dari Blarak itu sendiri. Dalam permainan Nglarak Blarak terdapat dua tim yang saling berhadapan.

Setiap tim masing-masing memiliki 3 anggota laki-laki dan 3 anggota perempuan. Setiap tim dituntut untuk adu kecepatan dan ketangkasan dengan mengelilingi sebuah arena tanah lapang berbentuk segi empat.

Mereka saling beradu satu sama lain demi memperebutkan sebuah bumbung. Permainan Nglabrak berlangsung tiga babak yang dipimpin oleh seorang wasit dan juri. Permainan ini juga terasa meriah karena kehadiran tabuhan gamelan yang ditabuh setiap tim, menjadikan suasana arena semakin bergelora dan ramai riuh rentahnya.

Jajaran Pebalap Indonesia yang Berlaga di Sirkuit Mandalika

Upgrade permainan nglarak blarak dari daerah yang kian mendunia

Permainan ini menjadi sebuah kolaborasi yang dipadukan antara olahraga, kesenian, dan budaya sekaligus sarana hiburan untuk melepas penat dan mencari suasana keceriaan. Sejak kemunculan olahraga tradisional ini, akhirnya nglarak blarak semakin diterima oleh masyarakat. Permainan ini juga pernah terpilih sebagai perwakilan Indonesia dalam ajang The Association For International Sport for All atau TAFISA World Games 2016.

Dengan prestasi yang kian bergairah kini mendorong permainan nglarak blarak mulai menggeliat dengan diselenggarakannya berbagai kompetisi. Nglarak blarak dilombakan mulai dari tingkat dusun hingga tingkat kabupaten.

Kemudian, pada tahun 2018 permainan nglarak blarak sudah mulai dilakukan dalam berbagai tahapan seleksi mulai dari tingkat dusun, desa, kecamatan, dan finalnya dilangsungkan di Alun-Alun Wates.

Aturan pertandingan lomba nglarak blarak

Dilansir dari JaringAcara.id, pemain nglarak blarak ada empat orang. Tiga orang bertindak sebagai penarik blarak atau pelepah daun kelapa, dan satu orang bertindak sebagai joki yang nantinya akan naik di atas pelepah daun kelapa yang diseret oleh para penarik.

Pertama-tama, yang dilakukan oleh para pemain nglarak blarak adalah sang joki harus menggelindingkan wadah yang berwujud keranjang atau bumbung sebagai alat untuk memanen kelapa. Keranjang tersebut harus digelindingkan menuju tengah lapangan yang sudah ditandai dengan beberapa garis batas.

Setelah joki menggelindingkan wadah keranjang tersebut, sang penyeret pelepah daun kelapa mulai beraksi. Hal ini sebagaimana arti dari nama ‘nglarak blarak’ dalam bahasa Jawa bisa sepadankan dengan menyeret pelepah daun kelapa.

Langkah menarik, pelepah daun kelapa dalam pertandingan ini syarat utamanya adalah harus berlari sambil menarik dengan cara menyeret pelepah daun kelapa. Di atas pelepah daun kelapa tersebut, juga dinaiki oleh seorang joki yang baru saja menggelindingkan wadah keranjang tadi.

Ubud Bali Dinobatkan Sebagai Kota Terbaik Keempat di Dunia

Setelah hal di atas dilakukan, kemudian langsung disambung sang joki turun dari ‘blarak’ dan mengambil wadah-keranjang lalu digendong layaknya menggendong tas ransel. Kemudian, sang joki wajib mencungkil sabut kelapa sampai terjatuh di atas tanah.

Serabut kelapa yang telah jatuh di atas tanah itu kemudian harus dipukul oleh si joki. Pemukulannya menuju arah belakang di antara kedua kaki hingga serabut kelapa itu keluar dari garis arena.

Permainan berlanjut dengan salah satu pemain nglarak blarak ini mengenakan dua sabut kelapa, yang telah dipukul keluar arena oleh sang joki tadi dan dikenakan di kedua kaki layaknya menggunakan sendal. Ia harus dipakai untuk berlari atau berjalan menuju titik start yang telah ditentukan.

Permainan nglarak blarak masih terus berlanjut, yaitu salah satu pemain masuk di dalam wadah-keranjang. Kemudian, berloncat lari menggunakan keranjang tersebut layaknya lomba balap karung.

Nglarak blarak cerminan identitas asli Kulon Progo

Permainan Nglarak Blarak | Foto: Info Publik
info gambar

Permainan nglarak blarak dianggap sebagai perpaduan antara edukasi, prestasi, nilai seni, budaya hingga rekreasi. Beberapa tahun belakangan ini, perkembangan permainan nglarak blarak semakin dikenal oleh masyarakat, baik masyarakat Kulon Progo maupun luar Kulon Progo.

Permainan ini juga membutuhkan teknik, ketepatan, ketangkasan, dan strategi jitu untuk bisa menumpas lawan-lawan dihadapannya. Tiga pemain sebagai penarik pelepah kelapa harus menarik sekuat tenaga dengan mengelilingi arena pertandingan berbentuk segi empat.

Bisa dibayangkan bagaimana posisi joki yang sedang berada diatas pelepah kelapa harus bisa memegang kendali yang kokoh. Harus bisa menjaga keseimbangan tubuh sehingga tidak terjadi insiden yang menyebabkan sang joki jatuh akibat kencangnya tarikan kereta blarak yang dipacu.

Mereka juga harus bisa menyusun strategi agar bisa mengalahkan lawan-lawannya. Seperti jalinan daun kelapa dari blarak demi menguatkan struktur kereta, memilih pelepah yang dianggap ringan namun kuat, bagaimana mengikat blarak agar kuat ketika ditarik pemacunya, tetapi tidak meninggalkan keindahan blarak.

Permainan nglarak blarak juga menyelipkan nilai edukasi yang sarat makna. Seperti melakukan persiapan yang matang, frekuensi latihan yang sesering mungkin, menyusun dan mengatur strategi, membangun kekompakan, kebersamaan di antara pemain.

Namun, turun ke arena pertandingan nglarak blarak bukan semata-mata untuk bertanding dan menang. Mereka memiliki andil dan rasa kebanggaan tersendiri karena nglarak blarak sarat akan kearifan lokal, serta jalinan kerukunan warga demi nguri-uri kabudayan atau melestarikan kebudayaan lokal.*

Referensi:Kompas | Wikimedia Commons | Kominfo Kabupaten Kulon Progo | JaringAcara

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RM
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini