Mengintip Keanekaragaman Hayati dan Keunikan Musamus di Taman Nasional Wasur

Mengintip Keanekaragaman Hayati dan Keunikan Musamus di Taman Nasional Wasur
info gambar utama

Selain menjelajahi destinasi wisata alam populer seperti Raja Ampat, Provinsi Papua juga memiliki kawasan lain yang cocok untuk bertualang di alam. Salah satunya adalah Taman Nasional (TN) Wasur. Kenapa taman nasional ini cocok untuk dieksplorasi? Karena termasuk kawasan yang memiliki beragam hal menarik untuk dikunjungi, mulai dari keindahan alam, keanekaragaman hayati, dan punya keunikan berupa ‘dua wajah’ seiring dengan pergantian musim.

TN Wasur memiliki iklim moonson dan mengalami dua musim, yaitu musim kering mulai dari Juni atau Juli sampai Desember dan musim basah pada bulan Januari hingga Juni atau Juli.

Pada bulan September, kawasan TN Wasur mengalami masa transisi pada peralihan musim. Ketika hujan, rawa berlimpah air kemudian perlahan mengering dan menyisakan tanah retak serta genangan air di tengah padang.

Secara administrasi, TN Wasur berada di Kabupaten Merauke dan terletak di empat kecamatan, yaitu Merauke, Jagebob, Sota, dan Naukenjarai. Di taman nasional ini dihuni oleh empat suku yaitu Suku Kanume, Suku Yeinan, Suku Marori Mengey, dan Suku Marind. TN Wasur telah diresmikan sejak tahun 1990 dan kini menempati lahan seluas 431 ribu hektare. Dengan keanekaragaman hayati yang ada, taman nasional ini juga dijuluki sebagai "Serengeti Papua".

Selain menjadi kawasan konservasi, taman nasional ini juga bisa dikunjungi untuk tujuan rekreasi. Berikut beberapa hal menarik yang bisa ditemukan pengunjung di TN Wasur:

Mengamati Flora dan Fauna Sambil Berwisata di Pantai Kawasan TN Meru Betiri

Keanekaragaman hayati di TN Wasur

Berwisata ke TN Wasur, pengunjung dapat melihat langsung ratusan satwa dan tumbuhan di habitat alaminya. Secara umum, ada sepuluh jenis vegetasi yang ada di TN Wasur, yaitu hutan dominan, padang rumput rawa, padang rumput, savana, hutan bakau, hutan pinggir sungai, hutan pantai, hutan musim, hutan jarang, dan hutan co-dominan.

Adapun jenis flora yang mendominasi wilayah TN Wasur seperti kayu putih, tancang, api-api, dan ketapang. Kemudian, ada pula tumbuhan sagu, bambu, punai, banksia tropis, akasia, pohon guinea emas, pandan, bunga bangkai raksasa, serta aneka jenis pakis dan anggrek.

Untuk potensi fauna, diperkirakan terdapat 80 jenis mamalia dan 32 di antaranya merupakan endemik papua. Termasuk di antaranya ada mamalia besar seperti kanguru lincah, kanguru hutan, dan kanguru bus.

Kemudian, ada 403 spesies burung yang 74 di antaranya adalah endemik Papua dan 114 merupakan spesies dilindungi. Lalu ada 39 jenis ikan, 21 jenis reptil, 4 jenis kura-kura, 8 jenis ular, 1 jenis bunglon, 3 jenis amfibi, dan 48 jenis serangga.

TN Wasur termasuk lahan basah yang penting untuk ribuan burung-burung air, khusunya bagi burung migraine dari dan ke Australia dan New Zealand. Beberapa jenis burung yang bisa dilihat di sana antara lain burung garuda irian, cenderawasih, kakatua, mambruk, nandur, belibis, alap-alap, dan bangau. Daerah padang rumput, danau Rawa Biru, Rawa Dogamit, Rawa Mblatar dan pantai Ndalir menjadi tempat-tempat yang jadi habitat para burung migran.

Bagi yang menyukai kegiatan mengamati burung, bulan Oktober merupakan waktu terbaik mengunjungi TN Wasur karena saat itu burung-burung dari Australia dan New Zealand bermigrasi ke taman nasional tersebut untuk mencari kehangatan. Burung-burung tersebut termasuk burung trinil pantai, camar angguk hitam, undan kacamata, dara laut jambon, kirik-kirik Australia, dan dara laut tengkuk hitam. Biasanya kegiatan bird watching dilakukan dari area Rawa Biru.

Di lahan basah yang luas ini, pengunjung juga bisa melihat berbagai spesies ikan mulai dari arwana, kakap loreng, sumpit loreng, lele, kakap kuning, ikan kaca kecil, dan ikan duri. Di sana juga terdapat buaya, biawak, kura-kura leher panjang, ilar, bunglon, katak pohon, katak pohon irian, dan katak hijau.

Desa Wisata Liya Togo, Peninggalan Kerajaan Buton di Wakatobi

Daya tarik wisata

Keindahan alam, kehidupan flora dan fauna, pantai, sungai, lahan basah yang kaya akan keanekaragaman hayati di TN Wasur memang menakjubkan. Di kawasan ini, pengunjung dapat melakukan berbagai kegiatan seperti pengamatan burung migran di Pantai Ndalir, Rawa Dogamit, dan Mblatar. Bisa pula mengamati burung endemik di hutan jarang dan hutan dataran rendah.

Bagi yang ingin bersantai sambil menikmati momen matahari terbenam, bisa menuju ke Pantai Ndalir. Di sana juga pengunjung bisa berkeliling dengan perahu, berenang, bahkan memancing. Kegiatan lain adalah berendam di Kolam Pemandian Biras, berkemah di area Bumi Perkemahan TN Wasur, memancing di Rawa Biru.

Pengunjung juga bisa berwisata budaya pembuatan sagu sep di Kampung Wasur, pengamatan anggrek dan melihat proses penyulingan minyak kayu putih di Kampung Wasur dan Yanggandur, atau wisata perbatasan di area Monuman Tata Batas dan Tugu Kembar Sabang Merauke di Sota.

Rongkop dan Plumbungan, Dua Lokasi Kampung Anggur di Yogyakarta

Musamus

Musamus | @Rivaldi Andhika Shutterstock
info gambar

Salah satu keunikan yang bisa ditemukan di TN Wasur adalah keberadaan musamus atau biasa disebut rumah semut. Namun, musamus tidak benar-benar merupakan sarang yang dibuat oleh semut, melainkan sarang dari rayap Macrotermes sp. Sarang serangga ini berukuran sangat besar, bahkan tingginya bisa mencapai lima meter dengan diameter lebih dari dua meter.

Sarang tersebut juga menjadi tempat tinggal rayap. Namun, bukan jenis rayap yang dikenal sebagai rayap perusak dan pengganggu, karena jenisnya memang hidup jauh dari pemukiman. Rayap yang satu ini dikenal mandiri dan membangun rumahnya sendiri tanpa mengganggu manusia.

Musamus sendiri terbuat dari rumput kering, tanah, dan air liur rayap. Istana para rayap ini dibangun dengan sangat kokoh dan kuat, bahkan bisa dipanjat oleh orang dewasa dan tidak akan hancur bila diinjak hewan besar bahkan pohon tumbang. Untuk pembuatannya melibatkan jutaan rayap dan setelah musamus selesai, akan menjadi hunian bagi koloni rayap.

Ciri khas musamus berbentuk kerucut dan menjulang tinggi menyerupai stalakmit. Warnanya cokelat kemerahan dan teksturnya berlekuk-lekuk. Di bagian dalamnya terdapat ruangan berlorong-lorong yang rumit sebagai tempat tinggal rayap dan terdapat rongga-rongga ventilasi untuk menjaga suhu tetap stabil. Di dalam musamus, rayap bisa tetap hangat dan terhindar dari perubahan suhu ekstrem. Di Indonesia, musamus hanya bisa ditemukan di Merauke dan di sana pengunjung bisa menemukan banyak sekali musamus

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini