Mempelajari Budaya Sunda di Kampung Budaya Sindang Barang

Mempelajari Budaya Sunda di Kampung Budaya Sindang Barang
info gambar utama

Sunda merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia. Kelompok etnik ini berasal dari Jawa Barat. Orang Sunda dikenal dengan bahasanya yang khas dan termasuk suku yang menjunjung tinggi adat istiadat peninggalan leluhur.

Nama sunda berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu sund atau sudsha yang bermakna terang, putih, bersinar, dan berkilau. Kata sunda juga terdapat dalam bahasa Bali dan Jawa Kuno atau Kawi, yang artinya murni, suci, bersih, tak bercela.

Orang Sunda memiliki pedoman yang dianut sebagian besar masyarakatnya, yaitu cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), wanter (berani), dan pinter (pintar). Masyarakat suku Sunda dikenal memiliki karakter yang ramah, periang, sopan, optimis, dan sederhana.

Sama seperti kelompok etnik lain di Tanah Air, suku Sunda juga dikenal dengan seni dan budayanya. Pada tahun 2021 ini, ada 22 karya budaya Jawa Barat yang masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Beberapa di antaranya adalah angklung bungko, batik dermayon, karinding, bordir Tasikmalaya, jipeng, tari cepet, bagkong reang, badeng, dan toleat.

Jika ingin belajar lebih banyak tentang budaya Sunda, salah satu tempat yang bisa dikunjungi adalah Kampung Budaya Sindang Barang.

10 Seni Pertunjukkan Jawa Barat dalam Warisan Budaya Tak Benda

Kampung Budaya Sindang Barang

Kampung Budaya Sindang Barang merupakan kampung adat Sunda yang berada di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor. Menurut sejarahnya dalam Babat Pajajaran, kampung ini sudah ada sejak abad ke-11. Sindang Barang diyakini sebagai kerajaan bawahan Prabu Siliwangi dan ibu kotanya adalah Kutabarang.

Melansir Indonesiakaya.com, Sindang Barang merupakan keraton dan menjadi hunian bagi salah satu istri Prabu Siliwangi yang bernama Dewi Kentring Manik Mayang Sunda. Kini, kampung adat tersebut telah menjadi kawasan budaya dengan tujuan melestarikan kearifan lokal dan tradisi leluhur.

Berwisata ke Kampung Budaya Sindang Barang, pengunjung dapat mempelajari kesenian dan kebudayaan Sunda, termasuk belajar tari jaipong dan silat Cimande. Anda pun dapat mencoba berbagai permainan tradisional Sunda seperti bakiak, egrang, dampu, hingga memanah dengan suasana sawah.

Di kampung ini, pengunjung bisa menemukan 20 bangunan rumah adat yang bentuknya serupa dengan Kasepuhan Sunda pada zaman dahulu. Beberapa di antaranya adalah Imah Gede, Leuit atau lumbung padi, Bale Pesanggrahan, dan Bale Petirtaan.

Imah Gede merupakan rumah kepala adat, dan di sebelahnya terdapat rumah sang Gilang Serat atau sekretaris. Kemudian, ada Saung Talu, panggung besar tempat pertunjukkan dan dilengkapi dengan alat musik seperti gamelan dan angklung. Ada pula alun-alun yang biasa digunakan untuk upacara adat setiap tahun bernama serentaun.

Ngeuyeuk Seureuh dalam Tradisi Pernikahan Adat Sunda

Pelestarian budaya Sunda

Kampung Budaya Sindang Barang menjadi wadah bagi pelestarian budaya Sunda. Di sana terdapat program pembelajaran tradisi Sunda, misalnya kegiatan sono ka lembur yang mengenalkan pengunjung kepada sejarah Sunda, pengenalan bangunan rumah adat, dan permainan tradisional.

Kemudian ada kegiatan sawengi di Sindang Barang, di mana pengunjung bisa tinggal dan menginap selama beberapa hari di Kampung Budaya Sindang Barang untuk merasakan pengalaman menjadi orang Sunda dan mengikuti adat istiadat serta kebudayaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bila beruntung, Anda bisa menyaksikan upacara adat seperti serentaun, neteupkeun, pabeasan, dan lainnya. Serentaun merupakan salah satu upacara adat yang menjadi ciri khas Sindang Barang, ritual yang menjadi lambang rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang didapatkan. Upacara ini telah dilakukan sejak zaman Kerajaan Pajajaran pada abad ke-16. Serentaun dilakukan setiap tahun dan dipimpin oleh ketua adat.

Keunikan Kampung Adat Cireundeu yang Memegang Teguh Sunda Wiwitan



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini