Keunikan Kampung Adat Cireundeu yang Memegang Teguh Sunda Wiwitan

Keunikan Kampung Adat Cireundeu yang Memegang Teguh Sunda Wiwitan
info gambar utama

Adakah di antara Kawa GNFI yang tahu di mana letak Kota Cimahi? Cimahi merupakan kota kecil dengan berjuta cerita di dalamnya. Cimahi sendiri terletak di Provinsi Jawa Barat. Kota ini sudah berdiri 20 tahun lamanya yang letaknya sangat dekat dengan Kota Bandung. Bahkan sebelum menjadi kota mandiri, Cimahi merupakan bagian dari Kabupaten Bandung.

Lalu, banyak masyarakat sekitar Kota Cimahih anya mengetahui bahwa kota ini merupakan kota tentara dan kota Industri. Faktanya, memang di Cimahi sangat banyak lahan industri dan tempat latihan militer. Jadi, tak ayal banyak yang beranggapan seperti itu.

Namun apa Kawan GNFI tahu bahwa Kota Cimahi menyimpan sebuah kebudayaan yang sangat luhur dan masih dijaga kelestariannya hingga saat ini? Mungkin Kawan bingung dan bertanya tanya, “Masa iya di kota yang dikenal sebagai kota industri dan militer itu masih terdapat sebuah kebudayaan yang masih tersimpan?”

Jawabannya, iya! Tempat itu bernama Kampung Adat Cireundeu. Nah, pasti Kawan GNFI semua penasaran dengan Kampung Adat Cireundeu ini. Berikut 3 hal unik tentang Kampung Adat Cireundeu yang harus Kawan ketahui.

1. Asal-usul Kampung Adat Cireundeu

Sumber : gpswisataindonesia.info
info gambar

Cireundeu berasal dari nama pohon reundeu, sebab tadinya di kampung ini banyak sekali populasi tumbuhan reundeu. Tumbuhan reundeu sendiri merupakan tumbuhan untuk bahan obat herbal. Maka dari itu, kampung ini disebut Kampung Cireundeu.

Kampung Adat Cireundeu terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan. Terdiri dari 50 kepala keluarga alias 800 jiwa, yang sebagian besar bermata pencaharian bertani ketela. Kampung Adat Cireundeu sendiri mempunyai luas 64 hektare terdiri dari 60 hektare untuk pertanian, serta 4 hektare untuk pemukiman.

Naniura, Kuliner Ikan Tanpa Dimasak yang jadi Santapan Istimewa Raja Batak

Sebagian besar penduduknya memeluk serta memegang teguh kepercayaan Sunda Wiwitan sampai saat ini. Senantiasa konsisten dalam melaksanakan ajaran keyakinan dan terus melestarikan budaya, serta adat istiadat yang sudah turun-temurun dari nenek moyang mereka.

Warga adat Cireundeu sangat memegang teguh kepercayaannya, kebudayaan, dan adat istiadat mereka. Mereka mempunyai prinsip “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman” yang berarti “Ngindung Ka Waktu” yakni kita selaku masyarakat kampung adat mempunyai metode, karakteristik serta kepercayaan masing-masing. Sebaliknya “Mibapa Ka Jaman” mempunyai makna warga Kampung Adat Cireundeu tidak melawan hendak pergantian era.

2. Mengonsumsi rasi

Sumber : linisehat.com
info gambar

Yang identik dari Kampung Adat Cireundeu, bahan santapan pokok tiap hari yang dikonsumsi oleh warganya ialah nasi singkong atau disebut pula dengan rasi. Warga adat Kampung Cireundeu berpedoman pada prinsip hidup yang mereka anut, yakni “Teu Nyawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat”.

Artinya, tidak memiliki sawah asal punya beras, tidak memiliki beras asal bisa menanak nasi, tidak memiliki nasi asal makan, tidak makan asal kuat. Hal ini menyiratkan kalau warga kampung Cireundeu tidak hanya berpangku tangan pada nasi selaku bahan santapan pokok. Dengan alternatif singkong, mereka bisa bertahan hidup apalagi dikala harga bahan pokok melambung tinggi.

Kebiasaan dalam mengonsumsi singkong ini telah dilakukan semenjak tahun 1918, sebagai wujud protes masyarakat terhadap penjajah Belanda yang dikala itu menguasai perekonomian, serta mengadu domba bangsa Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat sedangkan lahan pertanian semakin menyempit, budaya memakan beras singkong senantiasa dipertahankan sampai saat ini.

Selayaknya beras yang dapat diolah jadi nasi, singkong di Cireundeu juga bisa diolah jadi bermacam berbagai santapan serta dipadukan dengan lauk yang lain. Rasa serta teksturnya memanglah tidak sama dengan beras serta nasi tetapi pastinya memiliki kandungan gizi, serat, dan khasiat yang sama baiknya.

Rongkop dan Plumbungan, Dua Lokasi Kampung Anggur di Yogyakarta

3. Terdapat puncak salam

Sumber : Liputan6.com
info gambar

Kawasan Cireundeu dikelilingi oleh banyak gunung, bukit, dan hutan kecil yang jadi penyangga utama kawasan hidup masyarakat. Kebutuhan air utama di kampung ini didapatkan dari mata air di lereng gunung Gajahlangu, selain dari beberapa mata air lain di gunung dekat kampung.

Untuk menaiki gunung yang memiliki ketinggian kurang lebih 907 mdpl ini, nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Walaupun jarak dari kampung ke puncak gunung tidak jauh, tetapi medan yang dilalui cukup terjal berbatu, licin, dan cukup membuat tarikan nafas jadi pendek-pendek.

Sesuai dengan adat yang masih dipelihara serta dijunjung agung oleh masyarakat Cireundeu, sejauh pendakian mengarah puncak tidak menggunakan alas kaki apa pun. Tidak hanya dimaksudkan untuk melindungi area, tidak menggunakan alas kaki kala memuncak merupakan satu wujud penyatuan diri dengan alam.

Keberaniaan Emmy Saelan, Perawat yang Meledakkan Dirinya Demi Sekutu

Masyarakat Cireundeu meyakini hukum alam Tri Tangtu, Gusti yang mengasih, alam yang mengasah, dan manusia yang mengurus. Untuk menyalakan api unggun di puncak juga wajib lewat ritual tertentu selaku wujud penghormatan terhadap alam. Di gunung Salam masih terdapat sebagian hewan yang dilarang untuk diburu serupa elang hitam, meong congkok, musang, dan burung hutan.

Itulah yang bisa penulis sampaikan perihal Kampung Adat Cireundeu di Kota Cimahi. Kebudayaan mempunyai nilai yang kompleks, di dalamnya tercantum ilmu pengetahuan, tentang keyakinan, uniknya kesenian, lugasnya moral, tegasnya hukum, konsistensi adat istiadat, dan kemampuan lain yang didapat seorang selaku anggota warga. Maka dari itu, wajib dipertahankan dan dilestarikan.*

Referensi: cimahikota.go.id | funexplorationtrip | visitcireundeu

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NA
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini