10 Seni Pertunjukkan Jawa Barat dalam Warisan Budaya Tak Benda

10 Seni Pertunjukkan Jawa Barat dalam Warisan Budaya Tak Benda
info gambar utama

Pada sidang Jumat (29/10/2021), Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbud Ristek) menetapkan 289 karya budaya Tanah Air masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Tahun 2021.

Warisan budaya tak benda atau intangible cultural heritage diartikan sebagai sebuah kebudayaan yang abstrak atau tidak dapat dipegang dan sifatnya dapat berlalu bahkan hilang seiring dengan perkembangan zaman, misalnya bahasa, musik, tari, upacara, dan berbagai perilaku terstruktur lain.

Berdasarkan UNESCO Convention For The Safeguarding Of The Intangible Cultural Heritage, warisan budaya tak benda didefinisikan sebagai praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan, instrumen, objek, artefak, dan ruang-ruang budaya terkait. Semuanya diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi identitas berkelanjutan.

Indonesia mengatur identifikasi dan inventarisasi warisan budaya tak benda yang selalu diperbarui secara berkala. Identifikasi dan inventarisasi tersebut dilakukan Dirjen Kebudayaan melalui Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya bersama 11 Balai Pelestarian Nilai Budaya di seluruh Indonesia.

Penetapan warisan budaya tak benda awalnya diusulkan pemerintah daerah untuk tingkat nasional. Kemudian, melalui Kemendikbud Ristek akan diajukan ke UNESCO.

Dari berbagai kategori Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Tahun 2021, ada sepuluh jenis seni pertunjukkan dari Jawa Barat di dalamnya. Berikut daftarnya:

Angklung bungko

Dari laman Disparbud Jawa Barat, angklung bungko dijelaskan sebagai kesenian tari yang tumbuh besar di daerah Bungko, Cirebon. Tarian tersebut diiringi dengan alat musik tradisional seperti angklung, gendang, klenong, tutukan, dan gong.

Pada dasarnya, angklung bungko merupakan perpaduan seni musik dan tarian perang. Ada empat jenis tarian dalam angklung bungko yaitu panji yang menggambarkan sikap berzikir, benteleye menggambarkan tindakan dalam menghadapi rintangan di perjalanan, bebek ngoyor yang melambangkan jerih payah dalam mencapai tujuan, serta ayam alas yang menggambarkan kelincahan dalam mencari sasaran pemilih.

Gong Si Bolong

Gong Si Bolong merupakan kesenian gamelan yang populer di daerah Tanah Baru, Depok dan kerap digunakan sebagai musik pengiring tari jaipong, tari topeng, tayuban, dan wayang kulit Betawi.

Seperti dikutip Merdeka.com, pada praktiknya, Gong Si Bolong memadukan kebudayaan Sunda, Betawi, Melayu, dan Tiongkok. Penamaan kesenian ini berasal dari bagian tengah gong yang tidak terdapat benjolan sehingga tampak bolong. Ciri khas dari gong ini adalah suaranya yang nyaring bahkan bisa terdengar sampai jarak puluhan meter. Permainannya mirip dengan gamelan Bali dengan entakan cepat dan keras pada perkusinya.

Rujak Cingur Masuk Daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2021

Bangkong reang

Pada awalnya, bangkong reang merupakan hiburan di sawah dengan menirukan suara kodok, gaang, dan cengkerik. Waditra atau alat musik khas Sunda yang digunakan cukup sederhana, yaitu borogododod, kungkong, dan bebunyian gaang atau cengkerik.

Kesenian dari Tanah Sunda ini tersebar ke beberapa daerah seperti Desa Lebak Muncang di Ciwidey, Desa Cikawung di Ciparay, Desa Pagelaran di Cianjur. Dalam bahasa Sunda, bangkong artinya kodok dan reang berarti terdengar suara banyak orang atau binatang. Sederhananya, kesenian bangkong reang terdengar seperti banyak suara kodok dengan pola irama musik tertentu.

Rengkong

Rengkong | @Mangeded Wikimedia Commons
info gambar

Rengkong merupakan sebuah alat yang terbuat dari bambu dan biasa digunakan untuk memikul padi dari sawah ke lumbung padi di daerah perkampungan. Ketika rengkong dipikul akan menghasilkan bunyi dari gesekan tali ijuk dan inilah cikal bakal kesenian rengkong.

Pembuatan rengkong menggunakan jenis bambu gombong yang utuh dan kering berdiameter 30 cm dan dipotong empat ruas. Dua ruas di ujung dilubangi karena akan menjadi sumber suara. Sementata itu dua ruas di tengah dilubangi untuk menggantung seikat tali ijuk.

Dari penampakannya, rengkong sama sekali tak seperti alat musik. Cara memainkannya digoyangkan ke kanan dan ke kiri hingga menimbulkan suara.

Batik Besurek Khas Bengkulu, Perpaduan Gambar Bunga dan Kaligrafi

Badeng

Selanjutnya ada kesenian badeng yang menggunakan angklung sebagai alat musiknya. Badeng merupakan salah satu kesenian yang dulunya berfungsi untuk kepentingan dakwah dalam penyebaran agama Islam. Namun, badeng juga ditampilkan dalam ritual penanaman padi.

Dalam penampilan badeng, digunakan angklung sebanyak sembilan buah, termasuk angklung roel, angklung kecer, angklung indung dan bapa, angklung anak, dogdog, gembyung, dan kecrek. Selain digunakan untuk iringan lagu-lagu campuran bahasa Sunda dan Arab, badeng juga sering menampilkan atraksi kesaktian seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.

Angklung dogdog lojor

Angklung dogdog lojor | @Neng etta Shutterstock
info gambar

Angklung dogdog lojor dimainkan enam orang dengan menggunakan instrumen berupa dua buah dogdog lojor dan empat angklung yang bernama gonggong, panembal, kingking, dan inclok. Lagu-lagu yang dimainkan dalam kesenian ini di antaranya “Samping Hideung”, “Si Tunggul Kawung”, dan “Oleng-Oleng Penganten”.

Kesenian bisa ditemukan di Kasepuhan Pancer Pangawinan atau Kesatuan Adat Banten Kidul di sekitar Gunung Halimun. Istilah dogdog lojor ini berasal dari waditra yang berupa dogdog panjang dari pohon jambe yang dilengkapi sebuah angklung dan kohkol. Melansir Indonesiakaya.com, kesenian ini biasanya menjadi salah satu pengiring dalam ritual adat seperti seren taun atau ruwatan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen melimpah.

Perkembangan Musik Tradisi, Dewa Budjana: Musisi Etnik Indonesia Tidak Pernah Habis

Tari cepet Sukabumi

Tari cepet menggunakan beberapa waditra seperti gamelan Sunda yang berlaras salendro dan terdiri dari saron, bonang, kendang, dan goong untuk mengiringi lagu-lagu berbahasa Jawa seperti “Jarang Kepang” atau “Renggong Manis”.

Umumnya tari cepet ditampilkan di tempat terbuka seperti area persawahan saat selesai panen dengan iringan musik dan ilustrasi suara binatang serta mahkluk halus yang digambarkan dengan orang-orang bertopeng seram dan dipadukan dengan gerakan tari secara spontan. Tak jarang penari mengalami kerasukan dan akan memakan sesajian yang tersedia mulai dari kemenyan, bunga, kopi hitam, padi, dan minyak duyung.

Jipeng

Jipeng | @ihsan kurniawan Shutterstock
info gambar

Ada tiga unsur kesenian dalam jipeng meliputi tanjidor, ketuk tilu atau kliningan, dan topeng. Kesenian jipeng terbentuk tahun 1923 dan kerap ditampilkan di Kasepuhan Ciptagelar walau awalnya hanya berupa tanji atau tanjidor dan dilakukan di huma dan sawah sebagai hiburan. Suara jipeng juga diyakini bisa mengusir binatang yang menganggu masyarakat saat berada di sawah.

Tak hanya sebagai hiburan, jipeng juga dilakukan dalam ritual opatbelasna, ngaseuk, mipit, mapag ngunjal, ponggokan, nganyaran, hajatan, dan seren taun. Pada pelaksanaannya, jipeng juga sering diiringi oleh angklung dogdog lojor.

Penampilan jipeng biasa dimulai dengan alunan musik tanji yang mengiringi penyanyi laki-laki, kemudian diteruskan oleh sesi jaipong dan diakhiri dengan topeng atau seni sandiwara Sunda.

Angklung gubrag

Angklung gubrag | @Onotrapokenifla Wikimedia Commons
info gambar

Pada awalnya jenis angklung satu ini tidak memiliki irama dan bunyinya pun hanya ‘gubrak’. Penampilannya pun beda dari jenis angklung lain karena ukurannya terbilang besar dengan panjang sekitar 50-100 cm. Jika pada angklung umumnya memiliki dua tabung, di angklung gubrak ini ada tiga tabung dan pada bagian atasnya dikaitkan kembang wiru berbentuk pita.

Melansir majalahteras.com, angklung gubrag difungsikan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan menanam, mengangkut, dan menempatkan pada ke lumbung. Alat musik ini dipercaya dapat membuat padi yang akan ditanam akan tumbuh dengan subur dan panen melimpah.

Belajar Sejarah dan Budaya Jawa di Desa Tembi Yogyakarta

Karinding

Bagi yang pertama kali melihat karinding mungkin tak akan menyangka bila benda tersebut adalah alat musik tradisional Sunda. Memang bentuk karinding hanya bilahan kecil yang berbuat dari pelepah aren atau bambu.

Awalnya karinding berfungsi untuk mengusir rasa bosan ketika para petani sedang berada di sawah. Cara memainkannya cukup sederhana, yaitu dengan menempelkan karinding di bibir lalu bagian ujung satunya dijentikkan atau ditepuk-tepuk secara berulang dengan jari sampai menghasilkan suara mirip jangkrik atau belalang. Karena tak memiliki irama tertentu, karinding juga sering ditampilkan bersama alat musik Sunda lain seperti kecapi dan suling.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini