Melihat Ketangguhan Hagglund, Kendaraan Andalan Evakuasi Bencana Milik PMI Sejak 2010

Melihat Ketangguhan Hagglund, Kendaraan Andalan Evakuasi Bencana Milik PMI Sejak 2010
info gambar utama

Pada hari Sabtu (4/12/2021), Indonesia dilanda kabar duka terkait bencana alam yang terjadi berupa erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Menimbulkan kerugian materi, diketahui bahwa akibat terjadinya peristiwa ini terdapat sejumlah kerusakan tak terhindarkan baik berupa fasilitas umum maupun aset warga setempat yang terdiri dari sebanyak 2.970 rumah, 764 ekor sapi, 684 ekor kambing, dan 1.578 unggas ternak lainnya.

Sementara itu mengenai fasilitas umum, sejumlah sarana yang terkena dampak di antaranya terdiri dari 42 bangunan sarana pendidikan, 17 bangunan sarana ibadah, satu fasilitas kesehatan, dan satu jembatan penghubung yang mengalami kerusakan.

Hal yang tak kalah penting yaitu mengenai korban jiwa, per hari Kamis (9/12), dilaporkan bahwa sudah ada lebih dari 30 korban meninggal dunia serta sejumlah warga yang berstatus hilang dan masih dalam proses pencarian.

"Data per hari ini, tercatat korban meninggal dunia 39 orang dan hilang 13 orang," jelas Abdul Muhari, selaku Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, mengutip pemberitaan merdeka.com.

Jika melihat situasi di lapangan, melakukan proses pencarian dan evakuasi tentu bukanlah hal yang mudah, terlebih jika melihat medan di lapangan yang sudah tertutup dengan timbunan abu vulkanik dan bahkan hampir mengubur sebagian rumah warga.

Karena itu, tidak heran jika demi melancarkan proses evakuasi sejumlah peralatan memadai diturunkan untuk dapat segera menemukan seluruh korban yang dilaporkan hilang. Salah satu peralatan yang diandalkan dan banyak disorot adalah kendaraan Hagglund milik Palang Merah Indonesia (PMI).

Menilik Deretan Upaya Mitigasi Bencana yang Berjalan di Berbagai Daerah

Dua unit Hagglund BV206 diturunkan PMI

Mobil Hagglund PMI menyusuri aliran guguran awan panas Gunung Semeru di Curah Koboan, Pronojiwo, Jawa Timur, Rabu (8/12/2021). Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTO
info gambar

Berdasarkan keterangan resmi, merespons peristiwa yang terjadi Ketua Umum PMI yakni Jusuf Kalla disebut langsung bergerak cepat memberikan arahan agar dua unit kendaraan Hagglund BV206 diturunkan ke lokasi bencana untuk menjalankan proses evakuasi.

Setelah arahan tersebut diterima, kendaraan yang dimaksud langsung diberangkatkan dari pangkalan yang berada di Cileungsi, Kabupaten Bogor dan tiba di Posko PMI Kabupaten Lumajang pada hari Senin (6/12) siang.

Dalam penggunaannya, masing-masing satu kendaraan ditempatkan di dua sisi jembatan Gladak Perak, tepatnya di Desa Curah Kobokan, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Karena seperti yang telah banyak dilaporkan, satu-satunya akses evakuasi berupa jembatan yang ada di wilayah tersebut diketahui putus akibat terjangan lahar dingin erupsi Gunung Semeru.

Menukil Suara.com, apabila proses evakuasi sudah selesai dan seluruh korban jiwa yang hilang tertimbun abu vulkanik sudah berhasil ditemukan, kendaraan yang mampu menampung hingga sebanyak 12 orang tersebut akan digunakan untuk mengangkut bahan makanan ke pos-pos pengungsian yang tidak bisa dilintasi kendaraan biasa.

Berbeda dengan kendaraan pada umumnya, Hagglund BV206 pada dasarnya adalah kendaraan multi fungsi yang dilengkapi dengan roda rantai sehingga mampu melintasi berbagai medan ekstrem terutama yang memiliki suhu panas hingga 60 derajat celsius.

Memperkuat Alutsista Pertahanan Negara, Indonesia akan Buat Mobil Penangkal Rudal

Spesifikasi Hagglund BV206

Hagglund BV206
info gambar

Membahas kemampuannya sedikit lebih detail, Hagglund BV206 adalah kendaran berjenis Small Unit Support Vehicle (SUSV) garapan Swedia, yang di negara-negara lain banyak digunakan untuk kendaraan pendukung operasional militer atau eksplorasi di medan ekstrem.

Selain dapat digunakan untuk melakukan pencarian korban bencana di wilayah yang sudah tertutup abu vulkanik bersuhu panas atau lahar dingin, kendaraan amfibi ini bahkan juga mampu menembus medan salju, rawa, dan mengapung di air dengan kedalaman hingga 120 meter dengan terlebih dahulu dipasangi pelengkap serupa blower pada bagian bawahnya.

Terbentuk dari dua rangkaian yang terdiri dari bagian depan sebagai ruang kemudi, dan bagian bak atau trailer belakang yang diperuntukkan dalam mengangkut penumpang atau perlengkapan situasional, kendaraan ini mampu menampung sebanyak 12 orang dengan pembagian 4 penumpang di depan dan 8 penumpang di bagian belakang.

Melansir GridOto, Hagglund BV206 dibekali dengan mesin V6 2.800 cc dengan 4 percepatan dari Ford Cologne yang mampu menghasilkan tenaga sebesar 275 dK. Sehubungan dengan bobotnya secara keseluruhan yang mencapai kisaran 4,5 ton, kendaraan ini dapat melaju dengan kecepatan maksimal 65 km/jam. Sementara itu saat sedang berada di air, kecepatannya berada di kisaran 5 km/jam.

Dapat menampung beban maksimal hingga mencapai 2,25 ton, kendaraan yang pertama kali dibuat pada tahun 1974 ini kabarnya dibanderol dengan harga Rp2 miliar sampai Rp3 miliar untuk kondisi bekas militer.

Modernisasi Alutsista, Indonesia Datangkan 8 Kapal Perang Canggih Buatan Eropa

Diandalkan sejak letusan Gunung Merapi tahun 2010

Hagglund BV206
info gambar

Jika melihat riwayat penggunaannya, keberadaan Hagglund BV206 sebenarnya sudah bukan menjadi hal yang asing di setiap upaya evakuasi pada sejumlah peristiwa bencana alam yang terjadi di Indonesia.

PMI diketahui memesan kendaraan ini secara khusus dari BAE Systems Land Systems Hagglunds AB, dan sebenarnya sudah digunakan saat peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung di Banten pada tahun 2009 silam.

Namun keberadaannya baru semakin diandalkan pada saat mengevakuasi para korban letusan Gunung Merapi tahun 2010, termasuk salah satunya mengevakuasi jenazah Mbah Maridjan. Kendaraan ini juga pernah diturunkan untuk mengevakuasi korban dari peristiwa banjir parah yang terjadi di Jakarta, tepatnya kawasan Bundaran HI pada tahun 2013 lalu.

Lain itu, Hagglund BV206 juga kerap digunakan dalam proses evakuasi erupsi di sejumlah wilayah lainnya seperti erupsi Gunung Sinabung pada tahun 2013, dan erupsi Gunung Kelud pada tahun 2014.

Berada di Lingkaran Cincin Api Pasifik, Indonesia Jadi Rumah Bagi 139 Gunung Berapi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini