Menilik Cara Penduduk Ramalkan Letusan sebelum Eyang Merapi Laksanakan Hajat

Menilik Cara Penduduk Ramalkan Letusan sebelum Eyang Merapi Laksanakan Hajat
info gambar utama

Penduduk lereng Merapi sangat mempercayai akan keseimbangan antara hubungan orang desa dengan lingkungan. Keyakinan ini terkadang tidak bisa dibuktikan secara logika sehingga kerap disebut sebagai takhayul belaka.

Dalam paparan buku Merapi dan Orang Jawa Persepsi dan Kepercayaannya karya Lucas Sasongko Triyoga diterangkan kepercayaan masyarat lereng Merapi ini ternyata mengandung sistem pengetahuan lingkungan alam.

Penduduk sekitar percaya Gunung Merapi merupakan Keraton Makhluk Halus dan tempat bersemayam leluhur. Keraton Makhluk Halus Merapi saling berhubungan dengan Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta, dan Keraton Makhluk Halus Laut Selatan yang dipimpin oleh Nyai Roro Kidul.

Makhluk halus dan roh para leluhur akan melindungi penduduk dan membantu mereka bila mereka bertindak baik serta selaras dengan alam dan sesama. Di sisi lain akan memberikan malapateka bila penduduk melalukan tindakan sebaliknya.

Malapateka ini bisa muncul berupa gagal panen, hama, maupun penyakit. Karena itulah muncul panduan hidup dalam berbagai syarat, pantangan, dan selamatan yang sering kali sulit dipahami logika.

Sementara itu sudah menjadi kebiasaan setiap bulan Sura, Gunung Merapi selalu mengeluarkan suara gemuruh, banjir lahar, atau letusan. Bagi orang Jawa pada umumnya, bulan Sura merupakan awal tahun baru yang dirayakan secara umum oleh setiap orang.

Mengamati Burung dari Lereng Merapi

Bagi penduduk sekitar wilayah Merapi, kegiatan bahkan letusan Merapi bukanlah merupakan suatu ancaman serius yang harus sangat dikhawatirkan, malah terkadang dianggap suatu anugerah. Merapi dipersonifikasikan sebagai makhluk manusia yang sibuk dengan kegiatan sehari-hari.

"Kegiatan manusia dapat berbahaya apabila sifat orang yang bersangkutan tidak diketahui, sebaliknya dapat berguna apabila telah terjalin hubungan dengan orang yang bersangkutan. Begitu pula dengan Gunung Merapi," sebut Lucas.

Pada bulan Sura orang-orang Jawa melalukan pencucian diri, membersihkan lingkungan dan berziarah ke tempat-tempat keramat, begitu pula dengan Keraton Merapi.

Pada bulan itu Merapi ikut merayakan tahun baru Jawa dengan membersihkan keraton, mengadakan kunjungan ke Keraton Laut Selatan. Gas, abu, pasir, dan bantuan vulkanik yang dimuntahkan Merapi dipercaya sebagai kotoran dan sampah pembangunan Keraton Merapi.

"Banjir lahar, angin deras, dan hujan lebat kilat yang menggelegar dipercayai sebagai suara pesta di Keraton Merapi atau barisan rombongan makhluk halus yang menuju atau pulang dari Keraton Laut Selatan," sebut pria yang merupakan sarjana Antropologi UGM ini.

Cara masyarakat meramal letusan Merapi

Masyarakat juga percaya Merapi akan meletus dan mengeluarkan abu dalam jumlah relatif besar setiap tahun Jawa Wuwu. Hal ini selain dikaitkan dengan mistik, tetapi juga terkait siklus hidup manusia yang secara periodik atau teratur membuang kotoran.

Sebagian besar penduduk menganggap letusan Merapi justru merupakan anugerah karena setelahnya kehidupan akan menjadi lebih baik dan tenang.

Apalagi menurut kepercayaan, lahan yang mengalami kerusakan akibat erupsi dipercayai sedang dipinjam oleh penguasa Gunung Merapi dan kelak akan dikembalikan berlipat ganda.

Sementara apabila Merapi tidak meletus dalam jangka waktu lama, malah akan membuat penduduk risau karena pada waktu tidak terduga akan terjadi letusan dahsyat, melebihi letusan sebelumnya.

Penduduk sekitar percaya letusan dan kegiatan ini disebabkan oleh Eyang Merapi berserta makhluk halus di bawahnya. Karena itu sebelum meletus, penduduk akan diberitahu oleh mimpi yang diberikan oleh roh para leluhur maupun makhluk halus Keraton Merapi.

Namun dijelaskan oleh Lucas, tidak semua penduduk akan diberitahu melalui mimpi. Hanya penduduk tertentu yang memiliki kesaktian, seperti juru kunci, dukun, dan orang sakti lainnya.

Seperti yang diutarakan oleh penduduk Korijaya bernama Karpo, bekas penjaga Pos Observasi Vulkanologi yang dimuat dalam buku Lucas. Menurut Karpo dirinya pernah didatangi roh para leluhur sebelum letusan Merapi.

Waktu bencana dahulu, tahun enam puluhan, saya diberitahu Eyang Merapi melalui mimpi yang menggambarkan seorang wanita Jawa ayu sekali, bersama seorang anaknya muncul dari kawah dan menghilang ke arah Muntilan. Sebulan kemudian terjadi letusan, laharnya melewati jalan yang telah dilalui oleh wanita dan anaknya itu.

Cerita Mistis Di balik Pesona Indah 5 Gunung di Pulau Jawa

Selain itu menurut Lucas, penduduk kadang juga diberi pertanda alam tertentu oleh makhluk halus yang dapat dilihat dengan mata biasa dan berfungsi untuk menunjukkan daerah yang dilewati oleh lahar.

Seperti kisah Mbok Sastrorejo yang menemukan rintangan lawe -- benang putih yang biasa dipergunakan untuk menenun kain -- yang panjang sekali sebelum banjir lahar Merapi tahun 1973. Kemudian oleh dirinya, lawe itu digulung untuk keperluan menjahit pakaian anaknya.

Ternyata beberapa hari kemudian terjadi banjir lahar yang melalui rintangan lawe tadi. Rupanya lawe tersebut merupakan jalan baru yang akan dilalui oleh roh para leluhur Merapi.

Mimpi ini tidak hanya memberi ramalan, tetapi kadang juga berisi wejangan berupa cara bagaimana menyelamatkan diri. Pelanggaran akan wejangan yang disampaikan melalui mimpi malah akan mencelakakan diri sendiri.

Penduduk juga percaya akan tanda-tanda alam yang diberikan oleh Eyang Merapi sebelum letusan, seperti kilat berkali-kali di atas gunung, asap hitam membumbung tinggi di atas kepunden, suara gemuruh yang kontinu, suhu udara yang panas dan sebagainya.

"Tanda-tanda letusan juga diberikan lewat binatang-binatang hutan milik Eyang Merapi yang diutus masuk ke desa memberitahukan kepada penduduk kapan Merapi meletus," jelas Lucas.

Upacara untuk keselamatan penduduk

Penduduk melakukan upacara atau selamatan secara turun-temurun yang dimaksudkan untuk memperoleh keselamatan lahir batin dari roh para leluhur Gunung Merapi.

Bagi mereka, alam semesta tidak hanya dihuni oleh manusia saja tetapi juga makhluk halus yang berasal dari roh orang meninggal, seperti dhanhyang atau lelembut.

Sementara itu fungsi utama dari selamatan ini agar menetalisir datangnya bencana yang disebabkan kunjungan dari Keraton Makhluk Halus Gunung Merapi.

"Melalui makhluk halus, pengganggu dapat dinetalisir bahkan bisa menjadi penolong. Dalam selamatan terjadi perdamaian antara manusia dengan makhluk halus yang diwujudkan dengan makan bersama," papar Lucas.

Pada acara selamatan, tidak hanya terkandung doa-doa tetapi juga disediakan sesaji makanan, bunga, dan kemenyan. Dengan pemberian sedekah diharapkan makhluk halus akan membalas jasa dengan tidak mengganggu penduduk dan memberi keselamatan.

Lucas menyebut sesaji bunga dan kemenyan merupakan makanan bagi roh para leluhur. Karena itulah sesaji yang dianggap sebagai simbol perdamaian manusia dengan makhluk halus harus selalu ada setiap penyelenggaraan acara selamatan.

Memahami Narasi Rohani dari Wayang Purwa Yogyakarta (Dumadining Gunung Merapi)

Biasanya penduduk melakukan selamatan untuk memperingati siklus kehidupan, seperti kelahiran atau kematian, bisa juga saat memperingati hari besar Islam yang melibatkan seluruh penduduk sekitar.

Lucas menjelaskan bahwa ketika acara selamatan, para penduduk akan makan bersama dengan makhluk halus yang dimintai pertolongan. Selamatan ini biasanya dilakukan di rumah Kepala Desa, pada malah hari seusai magrib.

Ada beberapa prosesi yang dilakukan dalam acara selamatan, seperti memulai dengan berdoa menggunakan bahasa Jawa Krama Madya dan Arab. Dalam doa tersebut selain disebut nama-nama para penghuni Gunung Merapi, juga disebut pula nama Allah, Nabi Muhammad SAW, nabi-nabi lainnya para Sunan penyebar Islam.

Setelah menyerahkan sesaji kepada penghuni Merapi, akan dibacakan doa berbahasa Arab yang biasanya tidak dimengerti oleh penduduk. Para penduduk hanya akan mengucapkan kata, aamin, tatkala pembaca doa suaranya sudah mendatar menurun.

"Segera setelah itu, ambengan ditukarkan untuk kemudian dimakan bersama-sama. Sisanya dibawa pulang masing-masing kepala keluarga dengan tujuan agar seluruh keluarga dapat menikmati keselamatan dan kesejahteraan yang telah dan akan diberikan," pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini