Kue Apang, Penganan Tradisional Penting dalam Ritual Suku Bugis

Kue Apang, Penganan Tradisional Penting dalam Ritual Suku Bugis
info gambar utama

Indonesia memiliki beragam suku dengan bahasa, budaya, dan warisan dari leluhur berupa tradisi, adat-istiadat, hingga kuliner dengan ciri khas tersendiri. Untuk kuliner sendiri, makanan di beberapa suku di Indonesia bukan hanya dibuat untuk mengisi perut, tetapi memiliki makna mendalam, berkaitan dengan kebudayaan, dan menyimpan sejarah dari awal pembuatannya.

Banyak makanan tradisional yang kita santap saat ini sudah ada sejak zaman dahulu. Saat ini kita mungkin memandangnya hanya sebagai hidangan semata, tetapi tak ada salahnya mengenal setiap sajian Nusantara dengan mencari tahu dari mana asalnya, cara pembuatannya, hingga latar belakang makanan tersebut.

Sebagai contoh Suku Bugis di Sulawesi Selatan memiliki penganan tradisional yang masih eksis sampai saat ini yaitu kue apang. Kue yang termasuk jajanan pasar ini tak hanya memiliki rasa yang lezat, tetapi juga sarat makna dan menjadi makanan penting dalam sebuah ritual yang dilakukan masyarakat Bugis.

Gemblong, Jajanan Pasar Manis Legit dari Beras Ketan Berlumuran Gula

Apa itu kue apang?

Kue apang merupakan penganan yang mirip dengan bolu kukus. Bahan dan cara pembuatannya pun sederhana. Untuk membuatnya, bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain tepung beras, tepung terigu, gula merah, air kelapa, baking powder, ragi instan, garam, santan, dan daun pandan.

Untuk proses membuatnya dimulai dari memasak air kelapa dan gula merah sampai mendidih, kemudian disaring dan didinginkan. Setelah itu, dicampurkan dengan tepung beras, dan ragi instan, lalu didiamkan satu jam. Selanjutnya ditambahkan tepung terigu, garam, baking powder, dan santan sambil diuleni. Setelah adonan selesai, bisa dituang ke dalam cetakan dan dikukus dalam dandang hingga matang dan merekah.

Cetakan kue apang sendiri beragam, ada yang berbentuk kotak, segitiga, bahkan bulat. Warnanya kecokelatan dari gula merah dan rasanya manis. Kue apang disajikan dengan parutan kelapa untuk memberikan rasa gurih. Masyarakat Suku Bugis biasanya menyantap kue apang sambil minum teh atau kopi hangat.

Kue apang sudah dikenal sejak tahun 1960-an dan saat itu biasa disajikan pada upacara penting serta prosesi sakral Suku Bugis. Kue kukus ini juga memiliki makna mendalam yaitu harapan akan kehidupan yang tenteram dan aman.

Dalam salah satu ritual Suku Bugis yaitu menre’ bola atau masuk rumah, kue apang disajikan untuk menemani tuan rumah dan para tamu. Ritual ini dilakukan untuk memohon perlindungan dan keselamatan pada penghuni rumah agar terhindar dari gangguan roh jahat.

Dalam buku “Calabai, Perempuan dalam Tubuh Lelaki” yang ditulis oleh Pepi AL-Bayqunie, diceritakan sebuah ritual bernama songka’ bala yang dilakukan para bissu di Segeri, Pangkep. Ritual ini termasuk upacara tolak bala dan dilakukan untuk mengusir wabah penyakit yang saat itu melanda Segeri.

Untuk melakukan ritual songka’ bala, berbagai persiapan dilakukan mulai dari menyembelih tujuh ekor ayam, menyiapkan nasi beras ketan tujuh warna, dan berbagai kudapan khas Bugis seperti onde-onde, wenno, bokong, leppe-leppe, baje tejjaji, kaluku lolo, serta kue apang.

Kue apang juga sering disajikan dalam acara Suku Bugis lain, misalnya acara pernikahan dan akikah. Namun, seiring berjalannya waktu, kue ini bisa disantap kapanpun dan banyak dijual di pasar-pasar tradisional. Di sepanjang jalan Sidrap, Pinrang, sampai ke Parepare pun mudah ditemukan penjual kue apang.

Asinan, Kudapan Segar Hasil Akulturasi Budaya Betawi dan China

Serupa tapi tak sama dengan kue apem

Mendengar nama kue apang mungkin akan mengingatkan kita pada kudapan serupa yaitu kue apem. Keduanya memang sama-sama kue kukus berbahan dasar beras ketan. Namun, kue apem yang banyak ditemukan di Jawa biasanya berbentuk seperti kue mangkuk dengan warna putih, merah muda, hijau, dan kuning. Bila dilihat dari sejarahnya pun berbeda karena kue apem merupakan lambang permohonan maaf atas kesalahan yang telah diperbuat, baik kepada sesama manusia atau kepada Sang Pencipta.

Saat ini kue apang sendiri telah menyebar ke berbagai daerah sehingga lebih mudah untuk mencicipinya tanpa perlu ke Sulawesi. Misalnya, ada Raja Apang Panas 77 di Simpang Pulai, Jambi, yang masih baru dibuka di masa pandemi ini tapi sudah ramai pembeli. Bahkan, dalam sehari mereka bisa menjual kue apang sampai 20 kilogram. Di tempat ini, satu kotak kue apang berisi 14 buah dijual dengan harga Rp20 ribu.

Kemudian, ada Itenna, warga Kota Parepare yang sudah berjualan kue apang selama puluhan tahun. Bahkan ia sudah menjual kudapan ini dari zaman harganya masih Rp1. Kue apang buatannya sudah tersohor di Sulawesi Selatan dengan resep keluarga turun-temurun.

Tinutuan, Bubur dengan Aneka Sayur Khas Manado

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini