Tanaman Singkong, Flora asal Brazil yang Kerap Selamatkan Pangan Indonesia

Tanaman Singkong, Flora asal Brazil yang Kerap Selamatkan Pangan Indonesia
info gambar utama

Ketela pohon, ubi kayu, atau singkong (Manihot esculenta) merupakan perdu tahunan tropika dan subtropika dari suku Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran.

Menurut pakar tanaman, singkong berasal dari timur laut Brazil, tempat ditemukannya jenis-jenis lain dari marga Manihot. Tidak kurang dari 200 jenis Manihot diketemukan di wilayah ini. Selain Brazil, Meksiko dan Amerika secara menyeluruh diduga merupakan pusat pembudidayaan singkong.

Di kawasan ini singkong telah ditanam pada abad pertama Masehi, bahkan mungkin jauh sebelumnya. Setelah itu mulai terjadi persebaraan keluar kawasan Amerika Tengah/Selatan oleh Portugis.

Menurut Haryono Rinardi dalam Politik Singkong Zaman Kolonial, singkong masuk ke Indonesia dibawa oleh Portugis ke Maluku sekitar abad ke-16. Tanaman ini dapat dipanen sesuai kebutuhan.

Tetapi butuh waktu lama agar singkong bisa menyebar ke daerah lain, terutama ke Pulau Jawa. Diperkirakan singkong kali pertama diperkenalkan di suatu kabupaten di Jawa Timur pada tahun 1852.

Begini Cara Membuat Rumah Makin Cantik dengan Tanaman Hias

Tetapi sampai tahun 1875, masyarakat Jawa masih jarang yang mengonsumsi singkong. Bahkan makanan alternatif ini kurang dikenal atau bahkan tidak ada sama sekali di beberapa bagian Pulau Jawa.

Memasuki abad ke 20, tanaman ini mulai menyebar ke beberapa pulau-pulau lainnya. Hal ini terjadi ketika daerah lain mengalami kekeringan sehingga padi dan jagung tidak tumbuh.

"Pemerintah Belanda pun menganjurkan penananam ketela pohon sebagai pengganti padi dan jagung. Anjuran ini sangat berhasil dan penananam singkong di Indonesia pun mulai meluas pada awal abad ke-20," tulis Setijati D Sastrapradja dalam buku Perjalanan Panjang Tanaman Indonesia.

Selain itu peningkatan penanaman singkong beriringan dengan pertumbuhan penduduk Pulau Jawa yang pesat. Ditambah lagi produksi padi tertinggal di belakang pertumbuhan penduduk.

"Singkong khususnya menjadi sumber pangan tambahan yang disukai,” tulis Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia V.

Hingga saat ini, singkong telah menjadi salah satu bahan pangan yang utama, tidak saja di Indonesia tetapi juga di dunia. Di Indonesia, singkong merupakan makanan pokok ketiga setelah padi-padian dan jagung.

Masyarakat Indonesia jadi anak singkong

Sebenarnya singkong bisa menjadi salah pakan alternatif karena mengandung karbohidrat seperti tanaman lain. Tetapi dibandingkan dengan padi ataupun jagung, singkong masih kalah pamor.

Reputasi singkong begitu menyedihkan dan kurang bergengsi, karena sering diasosiasikan dengan makanan masyarakat kelas bawah. Bila ada orang yang ketahuan makan singkong pada masa itu, dipastikan tingkat perekonomiannya jauh di bawah sejahtera.

Padahal singkong ini merupakan panganan yang bisa diolah dengan berbagai cara, seperti direbus, dibakar ataupun digoreng. Berbagai jenis panganan tradisional berbahan singkong pun kerap kita jumpai, seperti comro, misro, tapai, getuk, tiwul.

"Bahkan dengan bahan singkong dapat dibuat jadi tepung (tapioka) dikenal dengan nama ‘gaplek’, krupuk (opak) atau keripik singkong yang renyah. Tak jarang, singkong olahan ini diekspor ke mancanegara," ucap Sunjayadi dalam tulisan berjudul Singkong dan Keju.

Pada tahun 1930, tepung tapioka adalah salah satu komoditas Hindia-Belanda yang banyak diproduksi di Jawa. Bahkan Hindia Belanda pernah menjadi salah satu pengekspor dan penghasil tepung tapioka terbesar di dunia.

Tercatat dalam buku Handbook of the Netherlands East-Indies, pada tahun 1928 tercatat 21,9 persen produksi tapioka diekspor ke Amerika Serikat, 16,7 persen ke Inggris, 8,4 persen ke Jepang, lalu 7 persen dikirim ke Belanda, Jerman, Belgia, Denmark dan Norwegia.

Selain Jadi Tanaman Hias, Lidah Mertua Juga Baik Untuk Lingkungan

"Biasanya singkong olahan tersebut dimanfaatkan sebagai bahan baku lem dan permen karet. Bahkan singkong olahan tersebut juga digunakan untuk industri tekstil dan furniture."

Sementara itu pada zaman Jepang, beras dan jagung sangat mahal harganya. Pada waktu itu banyak anggota masyarakat yang beralih untuk mengonsumsi singkong, salah satu olahannya bernama gaplek.

Gaplek inilah yang kemudian dijadikan tepung. Tepung gaplek ini kemudian ditanak menjadi tiwul yang menjadi bahan panganan utama masyarakat Jawa yang bercurah hujan rendah.

Sementara itu memasuki tahun 50-an, Presiden Soekarno menganjurkan pada rakyat Indonesia untuk menanam singkong di pekarangan demi ketahanan pangan. Memang pada masa itu Indonesia kekurangan pasokan beras.

Impor beras tidak mampu untuk menutup masalah yang sudah terjadi dari tahun-tahun sebelumnya. Bung Karno juga menyebut ketergantungan urusan pangan kepada impor, tidak sesuai dengan tujuan Ekonomi Terpimpinnya agar lepas dari kebergantungan.

“Kepada yang biasa makan nasi 2 atau 3 kali, saya serukan: ubahlah menumu! campurlah makananmu dengan jagung, cantel, ketela rambat, singkong, ubi, dan lain-lain. Hanya ini yang kuminta –mengubah menu yang tidak akan merusak kesehatanmu.” ucap Soekarno pada perayaan HUT ke-19 Republik Indonesia, 17 Agustus 1964 yang dinukil dari Historia.

Masyarakat melupakan singkong

Memasuki milenium baru, konsumsi singkong di Indonesia terus menurun. Fenomena ini sebenarnya mulai terjadi sejak zaman Presiden Soekarno hingga zaman Presiden Soeharto.

Dikutip dari Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat konsumsi singkong per kapita di rumah tangga di Indonesia terus mengalami penurunan yaitu dari 12,775 kg per kapita per tahun pada tahun 1993 menjadi hanya 3,601 kg per kapita per tahun pada tahun 2015.

Bahkan diprediksi pada periode 2016-2020, diproyeksikan konsumsi rumah tangga per kapita akan terus menurun yaitu dari 3,489 kg per kapita per tahun pada tahun 2016 menjadi 2,145 kg per kapita per tahun pada tahun 2020.

Merujuk dari Detik, sebelum tahun 1980 an, konsumsi singkong di Indonesia bisa mencapai 30 kg per kapita per tahun. Salah satu yang menjadi biang kerok adalah adanya program raskin (beras miskin).

"Tetapi akibat adanya program raskin (beras miskin) konsumsi singkong terus menurun," ungkap Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian pada tahun 2012, Achmad Suryana.

Padahal saat ini Indonesia merupakan negara penghasil singkong terbanyak keempat dunia. Data Ditjen Tanaman Pangan, luas areal penanaman singkong tahun 2019 sebesar 628.305 hektare dan produksi sebanyak 16,35 juta ton. Program pengembangan tahun 2020 seluas 11.175 hektare.

“Kita punya potensi singkong cukup besar. Saat ini penghasil singkong berada di Lampung , Jawa Timur, Jawa Tengah dam Jawa Barat. Bahkan Indonesia adalah empat negara terbesar dunia penghasil singkong. Jadi sayang bila tidak dimanfaatkan,” kata Ahli Gizi, dr. Dian Kusuma Dewi yang dikutip dari Kominfo Jatim.

Keunggulan Adan, Beras Organik dari Tapal Batas Kalimantan yang Populer di Negeri Tetangga

Sementara itu menurut Dr. Darmono Taniwiryono, Co Founder Singkong Cyber singkong memiliki potensi besar sebagai tanaman penyokong keamanan pangan paling menjanjikan. Singkong dapat tumbuh sepanjang tahun, bahkan di lahan ketersediaan nutrisi rendah dan tahan kekeringan.

Bahkan singkong memiliki kelebihan lain yaitu kemampuan melakukan konversi terbesar dalam mengubah energi matahari menjadi karbohidrat terlarut per satuan luas. Singkong menghasilkan karbohidrat sekitar 40 persen lebih tinggi dari beras dan 25 persen lebih banyak dari jagung

Bagi masyarakat di Cirendeu di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan singkong bukanlah pangan yang inferior. Sejak lama mereka mengonsumsi singkong sebagai bahan pangan pokok.

“Singkong menjadi pilihan masyarakat adat Cireundeu. Singkong yang telah diolah sedemikian rupa menjadi makanan pokok berupa nasi. Dahulu dikenalkan dengan nama lokal sangu sampeu,” kata Kang Yana, Humas Kampung Adat Cirendeu.

Yana juga mengatakan, agar bisa memperkenalkan tradisi pangan Cireundeu kekhalayak luas. Pihaknya ikut terlibat program penganekaragaman pangan melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP) dengan label Rasi (Beras Singkong).

“Budaya tuang sampeu atau makan singkong juga bentuk adaptasi dengan lingkungan alam dan lingkungan sosial,” tambahnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini