Jatuh Bangun Indonesia Melawan Covid-19 dan Tantangan Menghadapi Varian Omicron

Jatuh Bangun Indonesia Melawan Covid-19 dan Tantangan Menghadapi Varian Omicron
info gambar utama

Menilik data dari situs Covid19.go.id, sejak awal kemunculan Covid-19 di Indonesia hingga saat ini, tercatat ada sebanyak 4.260.677 kasus positif Covid-19 yang terkonfirmasi. Indonesia berada di peringkat ke-4 negara dengan total jumlah kasus Covid-19 tertinggi di Asia setelah India, Turki, dan Iran.

Pada kuartal ke-2 tahun 2021, Indonesia digemparkan dengan kemunculan virus Covid-19 varian Delta yang menyebar dengan sangat cepat dan agresif. Hal tersebut seketika menyebabkan lonjakan kasus di seluruh penjuru negeri. Besarnya dampak yang ditimbulkan oleh varian Delta menyebabkan rumah sakit dan layanan kesehatan lainnya mendadak penuh, terjadi krisis tabung oksigen, hingga jumlah kematian yang meningkat drastis.

Puncak kasus Covid-19 di Indonesia terjadi pada 24 Juli 2021 silam dengan jumlah kasus aktif sebanyak 574.135. Setelah melalui puncaknya, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia pun terus menurun dan lonjakan jumlah kasus aktif dapat ditekan.

Vaksin Covid-19 untuk Anak di Bawah 12 Tahun Dimulai, Ini Fakta yang Harus Diketahui

Indonesia perlahan bangkit dari lonjakan wabah Covid-19

Penurunan jumlah kasus Covid-19 aktif di Indonesia terus berlangsung hingga saat ini. Epidemiolog Dicky Budiman dikutip dari Kompas.com mengungkapkan faktor-faktor pendukung di balik menurunnya angka kasus Covid-19 di Indonesia yang usai diterpa gelombang kedua penularan virus Covid-19 pada bulan Juli hingga Agustus lalu.

Faktor yang pertama disebabkan oleh sebagian masyarakat sudah terpapar Covid-19. Hampir 30 persen dari total penduduk Indonesia telah terpapar oleh virus Covid-19 sejak awal pandemi. Kemudian pada puncak gelombang kedua, diperkirakan 10 hingga 15 persen penduduk memperoleh kekebalan setelah terinfeksi Covid-19. Kekebalan ini bertahan selama kurang lebih 2 hingga 3 bulan dan menjadi benteng yang melindungi penderita dari paparan Covid-19 kembali.

Berikutnya, vaksinasi juga menjadi faktor penting yang mendukung penurunan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia. Walaupun pada saat puncak gelombang kedua cakupan vaksinasi masih berada di kisaran 20 persen, namun perannya signifikan untuk menekan prevalensi kasus Covid-19.

Selain itu, keberhasilan penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) memberikan dampak untuk membatasi dan memperlambat laju penyebaran virus. Terakhir, faktor kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan turut mendukung upaya pencegahan Covid-19 agar dapat berjalan optimal.

Per tanggal 21 Desember 2021, Worldometer menempatkan Indonesia pada posisi ke-26 negara dengan jumlah kasus Covid-19 aktif di Asia. Posisi ini tidak bergeser sejak minggu lalu dan hingga saat ini tercatat ada 4.829 kasus Covid-19 aktif di Indonesia.

kasus aktif
info gambar

Dibandingkan dengan statistik global, jumlah kasus Covid-19 di Asia berkontribusi sebesar 6,75 persen terhadap total kasus Covid-19 yang ada di dunia. Jumlah kasus Covid-19 aktif tertinggi di Asia per Desember 2021 jatuh ke tangan Vietnam dengan 415.765 kasus. Turki berada di posisi ke-2 dengan 305,1 ribu kasus, dan Korea Selatan menduduki posisi ke-3 dengan 109,52 ribu total kasus.

Meninjau kawasan Asia Tenggara, Indonesia menempati posisi ke-6 jumlah kasus Covid-19 aktif terbanyak. Vietnam berada di posisi pertama dengan 415.765 kasus, kemudian disusul Laos di posisi ke-2 dengan 91.783 kasus, Malaysia di posisi ke-3 dengan 52.218 kasus, Thailand di posisi ke-4 dengan 38.892 kasus, dan Filipina di posisi ke-5 dengan 9.592 kasus.

Sementara untuk penambahan kasus harian, Worldometer menempatkan Indonesia pada posisi ke-21 di Asia dengan penambahan kasus harian sebanyak 133 orang. Urutan ini pun masih bertahan dan tidak berubah sejak pekan sebelumnya. Terhadap statistik global, penambahan kasus harian Covid-19 di Asia menyumbang 13,05 persen dari total jumlah penambahan kasus harian di dunia.

kasus harian
info gambar

Vietnam kembali menduduki posisi teratas negara dengan jumlah penambahan kasus harian Covid-19 tertinggi di Asia yakni sebanyak 14.977 kasus harian. Korea Selatan menempati posisi ke-2 dengan penambahan kasus harian sebanyak 5.319 orang, dan Yordania menempati posisi ke-3 dengan penambahan kasus harian sebanyak 3.578 orang.

Kembali menilik kawasan Asia Tenggara, Indonesia menempati posisi ke-5 jumlah penambahan kasus harian tertinggi. Jumlah penambahan kasus harian terbesar diraih oleh Vietnam dengan 14.977 orang, Thailand dengan 2.525 orang berada di urutan kedua, Laos dengan 824 orang berada di urutan ketiga, dan Filipina dengan 263 orang berada di urutan keempat.

Kasus Pertama Covid-19 Varian Omicron Ditemukan di Indonesia, Seperti Apa Gejalanya?

Waspada ancaman varian Omicron jelang tahun baru 2022

Walaupun mengalami penurunan, kehadiran kasus Covid-19 varian Omicron atau B.1.1.529 pertama di Indonesia pada 15 Desember 2021 lalu menandakan bahwa perjuangan mengatasi kasus Covid-19 di tanah air belum selesai. Varian Omicron ditetapkan sebagai variant of concern oleh karena memiliki tingkat penularan tinggi, virulensi tinggi, serta menurunkan efektivitas diagnosis, terapi, serta vaksin yang ada.

Sama seperti varian yang lainnya, terdapat sejumlah gejala yang ditunjukkan oleh penderita Covid-19 varian Omicron. Menurut laporan mingguan yang dirilis Pusat Pengendalian Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), mayoritas penderita Covid-19 varian Omicron mengalami gejala batuk, mudah lelah, dan pilek atau hidung tersumbat.

Menurut hasil laporan mingguan CDC AS edisi 1 sampai 8 Desember 2021, terdapat 8 gejala yang ditimbulkan akibat Covid-19 varian Omicron. Persentase gejala paling besar yakni batuk (89 persen) dan mudah lelah (65 persen).

Sementara itu, Anosmia atau hilangnya kemampuan indra penciuman yang dikenal sebagai salah satu gejala paling umum dari penularan virus Covid-19 justru memiliki persentase kemunculan paling kecil (8 persen) pada penderita Covid-19 varian Omicron yang disurvei.

World Health Organization (WHO) dilansir dari CNBC Indonesia mengutarakan bahwa varian Omicron dapat meningkat 2 kali lipat selama 1,5 hingga 3 hari ke depan dan telah menyebar di 89 negara global. Varian Omicron menyebar dengan cepat di negara-negara dengan tingkat populasi yang tinggi.

Hingga saat ini pemerintah terus menggenjot upaya testing dan tracing terhadap masyarakat guna mengantisipasi penyebaran virus Covid-19 varian Omicron. Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia berharap agar situasi Covid-19 di Indonesia yang saat ini sudah terkendali tidak kembali mengalami gelombang baru setelah varian Omicron masuk ke Indonesia.

Menjelang natal dan tahun baru 2022, pelaksanaan PPKM pun akan diperketat sesuai level di setiap daerah. Harapannya, tidak terjadi kebobolan terhadap varian Omicron yang dapat menyebabkan munculnya gelombang ketiga lonjakan wabah Covid-19 di Indonesia.

Wakil Presiden Republik Indonesia, Ma’ruf Amin pun mengutarakan harapan yang serupa agar pemerintah daerah mulai melakukan pencegahan wilayah masing-masing. “Kita punya pengalaman Delta, Delta itu kurang kita antisipasi sehingga kita kebobolan. Oleh karena itu, ketika ini baru satu, semua pemda harus melakukan penyiapan untuk pencegahan.” pungkas beliau.

Upaya Pemerintah RI Antisipasi Paparan Covid-19 Varian Omicron di Tanah Air

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Diva Angelia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Diva Angelia.

DA
IA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini