S.K Trimurti, Seorang Pengagum yang Tidak Segan Mengkritik Bung Karno

S.K Trimurti, Seorang Pengagum yang Tidak Segan Mengkritik Bung Karno
info gambar utama

21 Juni 1970, Soekarno menghembuskan napas terakhirnya. Walau kabar kematian proklamator ini ditutupi oleh rezim Orde Baru (Orba). Ribuan rakyat tetap berjejer dipinggir jalan untuk melepas Bung Karno ke peristirahatan terakhir di Blitar, Jawa Timur (Jatim).

Mendengar kabar wafatnya Bung Karno, saat itu SK Trimurti lalu segera bergegas pergi ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Di sinilah Putra Sang Fajar beristirahat untuk yang terakhir kalinya.

Sesampainya di RSPAD Gatot Subroto, Trimurti baru mendapat kabar bahwa jenazah Bung Karno telah dipindahkan ke Wisma Yaso. Dirinya lalu bergegas untuk datang ke Wisma Yaso untuk melihat muka Bung Karno untuk terakhir kalinya.

Tetapi perjuangannya tidak mudah, Wisma Yaso telah dipenuhi tentara yang memasang pagar betis. Tidak menyerah, dirinya lalu menerobos dari sela-sela kali tentara yang berjaga, kemudian berlari ke peti jenazah Bung Karno.

Trimurti memang mengagumi Soekarno, bahkan kelak menjadikannya sebagai guru. Mungkin bila tidak bertemu dengan Bung Karno, dirinya tidak akan terjun ke dalam dunia politik.

Trimurti lahir dari kalangan keluarga Keraton Surakarta, Kasunanan Surakarta tanggal 11 Mei 1912. Ketika itu ayahnya R. Ng. Salim Mangunsuromo, hanya mengajarinya untuk menjadi seorang istri.

Deretan Tokoh Perempuan Inspiratif yang Majukan Dunia Pers Indonesia

Agar menjadi istri yang baik, Trimurti hanya mendapat pelajaran mengenai cara marak (setia pada suami), macak (pandai menghias diri), masak (pandai memasak), dan manak (bisa melahirkan anak).

Tetapi pandanganya langsung berubah setelah lulus dari pendidikannya di Meisjes Normaal School (Sekolah Guru Perempuan). Saat menjadi seorang guru, Trimurti selalu menghabiskan waktunya untuk membaca buku.

Situasi saat itu juga mendorong dirinya untuk terjun ke dunia pergerakan dengan menjadi anggota Rukun Wanita dan beberapa kali mengikuti rapat-rapat Budi Utomo cabang Banyumas. Dari sini pula, Trimurti mulai mengenal sosok Bung Karno.

Dirinya sering mendengar pidato-pidato Bung Karno, salah satunya saat Partai Indonesia (Partindo) melakukan lawatan ke Purwokerto. Dengan menumpangi dokar, dia pergi ke Purwokerto untuk menyimak pidato Bung Karno.

Tetapi karena banyak yang hadir, dirinya hanya mendapat tempat di bagian belakang. Namun pidato Bung Karno tetap membahana ke seluruh ruangan walau tanpa pengeras suara.

"Dia bicara soal kolonialisme dan imprealisme, serta akibatnya kepada Indonesia. Dia juga menekankan bahwa hanya kita, sebagai bangsa terjajah yang mampu membebaskan diri dari kekangan penjajah," tulis Trimurti yang ditulis oleh Ipong Hamzah dalam buku S.K Trimurti Pejuang Perempuan Indonesia.

Pidato Bung Karno sangat menggugah Trimurti. Sepulang dari Rapat Umum, dia merenung. Setelahnya, dirinya membulatkan tekad bergabung dengan Partindo. Pekerjaannya sebagai guru di Meisjesschool pun ditinggalkan.

Pergi ke Bandung berguru kepada Bung Karno

Trimurti lalu pindah ke Bandung agar bisa berguru langsung kepada Bung Karno. Di sini dirinya mengajar di sekolah pergerakan yang didirikan oleh tokoh nasionalis Sanusi Pane, yakni Perguruan Rakyat.

Di Bandung pula, Trimurti mulai bertemu secara langsung dengan Bung Karno. Juga mengikuti beragam kursus-kursus politik yang digelar oleh Partindo di mana Bung Karno jadi pengajarnya.

Bung Karno juga yang menemukan bakat jurnalistik dari Trimurti. Pada satu kesempatan Soekarno meminta agar Trimurti menulis di korannya, Fikiran Ra’jat dan Suluh Indonesia Muda.

Awalnya Trimurti menolak permintaan dari Bung Karno dengan karena merasa tidak percaya diri dengan hasil tulisannya. Tetapi karena kepercayaan Bung Karno ini yang membawanya berkarier di dunia tulis menulis.

Dirinya lalu mulai menekuni dunia penulisan, satu kalimat demi kalimat dirinya rangkai. Tulisannya pun terkenal garang, pada 1936 ketika bergabung dengan Persatuan Marhaeni Indonesia (PMI) di Yogyakarta, dia menjadi pemimpin redaksi majalah Soeara Marhaeni.

Soeara Marhaeni ini berisikan tentang segala gagasan tentang perbaikan nasib perempuan. Perempuan akan mendapatkan kehidupan yang baik jika kemerdekaan bangsa dapat diraih.

Tetapi agar aktivitas politiknya tidak tercium oleh orang tuanya, dirinya tidak memakai nama pena S.K. Trimurti. Belakangan orang lebih mengenal nama penanya, Surastri.

Gisela Agrippina, Kartini Modern dengan Profesi Menantang

"Saya juga ingat pernah menggunakan nama Karma sebagai nama samaran, ketika saya menulis kecil-kecilan semasa di Solo. Karena itulah saya memutuskan menuliskan nama saya sebagai Surastri Karma Trimurti (S.K Trimurti)," ucapnya.

Selain dikenal melalui tulisan, Trimurti juga menjadi seorang ahli pidato. Orasi-orasinya selalu membakar rakyat, bahkan ketika berpidato di sebuah Rapat Umum Wanita, PID datang menghentikannya.

Karena aktivitas politiknya, Trimurti sering keluar-masuk penjara. Dia pernah dipenjara 9 bulan gara-gara pamflet gelap. Bahkan, menjelang kedatangan fasisme Jepang, Trimurti dipenjara bersama anaknya yang masih balita.

Meski sering keluar masuk hotel Prodeo, Trimurti tidak pernah kapok. Dia sadar, itulah konsekuensi dari pilihan politiknya.

Mengkritik Bung Karno yang poligami

Trimurti menjadi saksi dari dekat detik-detik menuju Proklamasi Kemerdekaan. Bukan hanya jadi saksi, dirinya juga ditawarkan untuk menjadi salah satu pengerek bendera Merah-Putih walau dia melimpahkan tawaran itu ke Latief Hendraningrat.

Setelah kemerdekaan, banyak posisi penting yang diemban oleh istri dari Sayuti Melik ini, seperti Menteri Perburuhan. Sebagai menteri dirinya aktif memperjuangkan UU perburuhan baru sebagai ganti UU perburuhan kolonial.

Setelah Kabinet Amir Sjarifuddin jatuh, Trimurti memilih untuk kembali ke Jakarta untuk aktif mengorganisir gerakan perempuan. Pada 1950-an, dirinya lalu mendirikan Gerakan Wanita Indonesia Sedar atau Gerwis yang kelak menjadi Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).

Saat masih memakai nama Gerwis, organisasi ini konsisten untuk tidak berpihak pada kepentingan salah satu golongan, agama atau politik. Namun sejalan dengan perubahan nama menjadi Gerwani ternyata membuatnya cenderung ke salah satu partai politik yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sejak Gerwani menjadi lebih dekat dengan PKI, Trimurti memang tidak begitu aktif karena sudah tak sehaluan. Dirinya akhirnya memutuskan keluar dari Gerwani sejak Januari 1965.

Perempuan Hebat Penjaga Kaki Bukit Barisan

Memang Trimurti terkenal sebagai perempuan dengan pendirian yang teguh, salah satunya adalah anti terhadap poligami. Cerita mengenai poligami ini juga membuat bahtera rumah tangganya bersama Sayuti kandas setelah 31 tahun.

Bukan hanya kepada Sayuti, sikap menolak poligami juga terang-terangan dirinya sampaikan kepada Bung Karno, gurunya. Ketika Soekarno memutuskan menikah lagi, Trimurti melancarkan kritik yang membuat Bung Karno marah.

Suatu ketika, Bung Karno dengan muka cemberut menyematkan Bintang Mahaputra ke dada Trimurti. Tetapi ketika Trimurti lulus dari Fakultas Ekonomi UI, terlihat Bung Karno hadir dalam wisuda, hubungan keduanya pun cair.

Walau terlihat agak renggang, Trimurti jadi sering datang ke Istana Negara menemui Bung Karno. Di situ Bung Karno sering curhat dari masalah politik hingga keluarga.

Memang bagi Trimurti, Soekarno bukanlah manusia yang sempurna. Di satu sisi, Bung Karno dipuja bak dewa-dewa, di sisi lain Bung Karno dihinakan karena ketidaksukaan. Tetapi baginya Bung Karno tetap sosok yang istimewa.

"Saya anggap dia sebagai guru saya dan teman saya dan sebagai kakak saya. Oleh karena itu, sayalah yang saya kira, paling berani mengkritik kepada beliau dengan terus terang. Tetapi dengan empat mata, bukan di depan umum," ujarnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini