Cerita Baju Baru dan Pohon Pisang dalam Perayaan Natal di Tanah Priangan

Cerita Baju Baru dan Pohon Pisang dalam Perayaan Natal di Tanah Priangan
info gambar utama

Perhimpunan Pekabaran Injil Belanda (NZV) didirikan di Rotterdam oleh sejumlah “sahabat zending” pada 2 Desember 1858. Pembentukan ini karena kekecewaan atas haluan yang ditempuh Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG), lembaga pekabaran Injil terpenting di Negeri Belanda.

Di Hindia Belanda, NZV ditempatkan di beberapa daerah Priangan atas anjuran beberapa tokoh Kristen di Batavia. Pada tahun 1863 para utusan NZV yang pertama menetap di Bandung dan Cianjur.

Sementara itu di daerah Cirebon dan Indramayu telah berdiri jemaah-jemaah yang terdiri dari orang Tionghoa. Maka kemudian pada tahun 1863 dan 1864, dua utusan menetap ke tempat tersebut.

Marbinda, Tradisi Perayaan Natal Khas Masyarakat Batak Toba

Maka kegiatan misionaris yang dilakukan NZV menyasar kepada dua suku (Jawa/Sunda) dan tiga bahasa (Jawa/Sunda/Tionghoa). Tetapi orang Sunda ternyata menutup diri dari penyebaran Injil, namun orang Tionghoa lebih memberi harapan.

"Itulah sebabnya di daerah Priangan pun perhatian para utusan Injil (zendeling) beralih ke penduduk Tionghoa," tulis Th. van den End dalam buku Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja di Jawa Barat 1858-1963.

Tercatat juga kegiatan para utusan NZV yang menjalin hubungan dengan masyarakat Badui di Banten Selatan. Tetapi Pemerintah Kolonial tidak mengizinkan kegiatan pekabaran Injil di tengah kelompok terpencil yang menganut agama Sunda asli itu.

Baju baru dan pohon pisang dalam perayaan Natal

Christiaan Albers merupakan zendeling tertua di Jawa Barat. Dirinya tiba di Batavia pada tahun 1863, lalu ditugaskan di Cianjur hingga tahun 1886.

Dia menceritakan pengalaman perayaan Natal di Cianjur dalam suratnya kepada Pengurus Pusat NZV tanggal 2 Januari 1880.

Seperti diutarakan sebelumnya, pekabaran Injil di Tanah Priangan memang tidak disambut dengan baik. Namun, Albers masih tetap senang karena perayaan Natal di wilayahnya berlangsung meriah.

Ketika itu Albers merasakan kegembiraan karena melihat anak-anak dan sebagian orang Kristen memakai baju baru. Walau dalam surat itu dirinya menyadari akan banyak orang Belanda yang menganggap tradisi ini menggelikan.

Tetapi dirinya tetap saja menerima itu, bahkan merasa gembira karena mereka harus berusaha keras agar dapat berpenampilan seperti itu. Pasalnya mereka harus mengeluarkan uang yang menurut ukuran saat itu cukup besar.

"Mereka mau melakukannya, karena hari itu, merupakan hari raya Kristen, karena Natal bagi mereka merupakan pesta Kristen yang artinya dirasakan dalam hati," tulis Albers.

Dia saat itu yakin agama Kristen mulai memiliki tempat di hati para jemaah yang datang, sehingga di Tanah Priangan telah ada agama Kristen selain juga Agama Islam. Salah satu contohnya adalah tradisi membeli baju baru yang memang menjadi budaya ketika perayaan Lebaran orang Islam.

"Tentu saja kejadian ini tak akan begitu memukau dan menarik bagi saya seandainya saya telah memberi perintah, isyarat, atau teguran. Sebaliknya, gejala ini sepenuhnya timbul dari jemaah sendiri.” ucapnya.

Pada tanggal 4 Januari 1882, Albers kembali menceritakan perayaan Natal di Cianjur dalam suratnya kepada Pengurus Pusat Perhimpunan Pekabaran Injil Belanda (NZV). Ketika itu dia menerima peti berisi bermacam-macam hadiah dari Negeri Belanda.

Sementara itu, pada Hari Natal Kedua, 26 Desember 1881, 26 jemaah Cianjur merayakan Perjamuan Kudus. Menurutnya pada perayaan Natal di wilayahnya berlangsung secara meriah.

“Jadi, perlu dibuat pohon Natal,” kata Albers.

Merayakan Natal di Kampung Hlongching, Perbatasan Indonesia-Papua Nugini

Dibantu oleh para jemaahnya, mereka menggunakan batang pohon pisang yang berukuran besar untuk menjadi pohon Natal. Setelahnya pohon ini dihias dengan beragam barang-barang cemerlang, dedaunan wiringin dan kamuring, bunga mawar, dan bunga-bunga lain yang beraneka warna dan bentuk.

Kemudian pohon ini dihias dengan 70 lebih lilin dan dimuati berbagai hadiah dari bawah sampai atas. Pohon Natal kali ini dianggap paling menarik dibandingkan model lainnya, seperti bambu berlobang atau pipa-pipa gas.

Perayaan Natal dimulai pukul setengah delapan, para peserta pesta masuk. Pohon Natal itu berkilauan cahaya, sehingga memudarkan lampu-lampu lainnya.

Sementara itu masyarakat pribumi baik besar dan kecil, duduk di atas tikar di sepanjang dinding. Sedangkan orang Eropa mengambil tempat di atas kursi dan bangku.

Setelah menyanyikan sebuah lagu, Albers membagikan hadiah. Kebanyakan anak mendapat hadiah baju, di samping hadiah lain. Tetapi hadiah baju menjadi yang paling disenangi.

Sedangkan beberapa yang lain, seperti seperti (janda) Nyonya Cohen, orang Tionghoa dan istrinya, mendapat hadiah cangkir. Menurut Albers semua yang hadir pada perayaan Natal ini mendapatkan hadiah, sebuah kenikmatan baginya.

Menurut Albers, para anggota Gereja banyak meninggal tradisi di Eropa. Mereka mulai menyesuaikan dengan tradisi masyarakat setempat, seperti memberikan sedekah.

Para anggota Gereja lalu mengambil persediaan kue dan kopi lalu diberikan kepada para jemaah. Maka para jemaah kemudian duduk di sekeliling pohon Natal yang masih terus berkilau, dalam suasana yang ramah dan akrab.

Momen Natal dianggap Albers menjadi waktu yang pas untuk mendekatkan masyarakat pribumi dengan orang Eropa. Pada waktu ini orang pribumi akan mendapat kesempatan untuk berbicara tanpa malu-malu kepada orang Eropa.

"Tidak sangsi lagi, kini apa yang dihidangkan terasa lebih enak. Orang Sunda senang berada di tengah-tengah sesamanya. Dalam hal ini mereka sepenuhnya sama dengan orang Belanda. Kita pun demikian," pungkas Albers.

Penyebaran Injil yang tidak menemui hasil baik

Secara umum, sejak tahun 1870-an, para zendeling NZV mengalami keputusasaan karena pekabaran Injil di kalangan orang-orang Sunda, sangat sulit diterima. Bagi orang Sunda, agama Kristen adalah agama Belanda.

NZV pun disarankan beralih ke luar Pulau Jawa. Akhirnya pada 1913, setelah menerima usulan dari A.J. Bliek, zendeling di Jatinegara (1906-1926), Pengurus Pusat NZV memutuskan membuka medan kerja baru di Sulawesi Tenggara.

Meski begitu, di Jawa Barat para zendeling tetap bertugas. Hingga 1932, terdapat 5.497 orang Kristen pribumi dan Tionghoa.

Selain itu ada beberapa cerita menggembirakan ketika J. Verhoeven, zendeling yang bertugas di Majalengka (1878-1882), pada tahun 1899 melihat orang Kristen Sunda yang merayakan Natal sebagai pesta Kristen yang utama.

Ragam Cara Rayakan Natal di Indonesia

“Orang Kristen Sunda menamakannya tanggal salawe (tanggal 25-Red), dan memandangnya sebagai lebaran mereka,” tulis Verhoeven.

Sementara itu di Indramayu pada pada tahun 1915, ada sebuah kejadian yang berlangsung di jemaah Gereja Rehoboth. Ketika itu jemaah mengabaikan gedung gerejanya hingga roboh dan tak mau memperbaikinya kalau tak mendapat upah.

"Tetapi, ketika mereka sadar bahwa gedung itu merupakan tempat perayaan Natal mendatang, dalam sekejap mata mereka membangun gereja baru," tulis Van de Weg, seorang zendeling di Juntikebon Indramayu.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini