Persiapan Desa Pangandaran Menjadi Tsunami Ready UNESCO

Persiapan Desa Pangandaran Menjadi Tsunami Ready UNESCO
info gambar utama

Pantai Pangandaran merupakan salah satu objek wisata alam favorit wisatawan di Jawa Barat. Lokasinya berada di Desa Pangandaran dan Pananjung, Kabupaten Pangandaran. Jaraknya sekitar 213 kilometer dari Kota Bandung dan bisa ditempuh dengan jalur darat sekitar 5-6 jam perjalanan.

Terlepas dari segala keindahan alamnya, Pantai Pangandaran menjadi salah satu wilayah yang rentan terdampak tsunami di Laut Selatan Jawa. Ini karena lokasinya berada di zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia yang sangat aktif.

Diketahui zona subduksi Laut Selatan Jawa merupakan sumber gempa bumi tektonik yang dapat menjadi sumber potensial terjadinya tsunami. Sebelumnya, Kabupaten Pangandaran juga pernah terdampak tsunami pada tanggal 11 September 1921 dan 17 Juli 2006.

Mengingat Pangandaran termasuk daerah rawan, dibutuhkan sistem mitigasi bencana yang matang. Mitigasi sendiri adalah tindakan untuk mengurangi potensi dampak negatif dari sebuah bencana, termasuk di dalamnya memeprsiapkan rencana dan sistem evakuasi.

Tsunami memang merupakan bencana alam yang tak bisa diprediksikan kedatangannya. Namun, dengan memanfaatkan perkembangan ilmu dan teknologi, dapat dilakukan prakiraan mengenai daerah terdampak, ketinggian gelombang, dan luas daerah genangan.

Kini, Desa Pangandaran tengah mempersiapkan diri untuk memenuhi indikator program Tsunami Ready. Program rekognisi kesiapsiagaan tsunami tersebut disusun UNESCO dan Intergovern mental Oceanographic Commission (IOC). Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana tsunami.

Syair Smong, Kearifan Lokal yang Selamatkan Simeulue dari Tsunami Aceh

Tsunami Ready Program UNESCO untuk Desa Pangandaran

Program Tsunami Ready merupakan upaya untuk membangun masyarakat yang tangguh melalui strategi dan kesiapsiagaan yang akan melindungi kehidupan, mata pencaharian, dan harta benda dari tsunami di berbagai wilayah. Tujuan utama program ini adalah meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap tsunami dan meminimalkan hilangnya nyawa, mata pencaharian, dan harta benda.

Hal ini dicapai melalui upaya kolaboratif untuk memenuhi tingkat standar kesiapsiagaan tsunami melalui pemenuhan serangkaian indikator yang telah ditetapkan. Dalam program Tsunami Ready, pihak UNESCO dan IOC setidaknya memiliki 12 indikator dalam penetapannya.

Untuk memenuhi indikator tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat KK Hidrografi ITB tengah melakukan pendampingan di Desa Pangandaran. Diketuai oleh Dr.rer.nat Wiwin Windupranata, pendampingan dilakukan dengan skema Pengabdian Masyarakat Bottom-Up ITB.

Untuk tahapan awal, telah dilakukan survei lapangan pada November 2020 dan Maret 2021 yang bertujuan untuk mengakuisis data lapangan, termasuk foto udara, data kependudukan, data inventaris desa, dan kebutuhan lain. Pada September 2021 juga telah dilakukan sosialisasi kepada pihak pemerintah desa dan instansi terkait mengenai hasil suvei lapangan dan pengolahan data.

Dari hasil survei tersebut, terbukti bahwa Desa Pangandaran telah berhasil memenuhi semua indikator Tsunami Ready dari UNESCO dan IOC. Apa saja indikatornya?

Pertama adalah wilayah bahaya tsunami harus ditetapkan dan masyarakat memiliki peta bahaya tsunami. Desa Pangandaran telah memiliki peta rendama tsunami dengan pemodelan numerik, yang dirilis instansi pemerintah berdasarkan penelitian ahli.

Indikator kedua ialah perkiraan jumlah penduduk di wilayah bahaya tsunami yang telah didapatkan dari data desa tahun 2021. Kemudian, indikator ketiga ialah masyarakat harus menempatkan informasi publik tentang tsunami yang berisi mengenai rute evakuasi tsunami. Selanjutnya, indikator keempat adalah adanya inventarisasi sumber daya ekonomi, infrastruktur, politik, dan sosial yang terkait dengan pengurangan risiko bencana tsunami.

Pemerintah setempat telah menyiapkan beberapa infrastruktur seperti titik pengungsian sementara, seperti wilayah Cagar Alam dan shelter evakuasi lima lantai di perbatasan Desa Pangandaran dan Desa Pananjung. Juga ada tujuh rekomendasi hotel untuk tempat evakuasi.

Lanjut ke indikator kelima ialah pembuatan peta evakuasi tsunami harus mudah dipahami. Badan Nasional Penang gulangan Bencana (BNPB), BPBD dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah membuat beberapa peta evakuasi tsunami di Desa Pangandaran. Peta-peta tersebut harus memiliki informasi seragam agar masyarakat dan wisatawan tidak kebingungan.

Pada indikator keenam tercantum bahwa pengembangan, sosialisasi, dan pendidikan kepada masyarakat adalah hal penting selain berbagai sumber daya yang telah disiapkan pemerintah daerah. Dalam hal ini, BPBD Pangandaran dan Forum Kesiapsiagaan Dini Masyarakat (FKDM) Desa Pangandaran memberikan edukasi mengenai kebencanaan pada siswa sekolah di wilayah Pangandaran.

Kemudian pada indikator ketujuh adalah adanya kegiatan sosiali sasi atau pendidikan yang diadakan setidaknya tiga kali dalam satu tahun. Di indikator kedelapan, diperlukan adanya latihan komunitas tsunami setidaknya dua tahun sekali.

Sementara itu, yang tertera dalam indikator sembilan adalah Emergency Operation Plan (EOP) dan sepuluh adalah adanya kapasitas untuk mendukung pelaksanaan tanggap darurat tsunami. Untuk indikator kesebelas dan dua belas adalah tersedianya alat untuk menerima dan menyebarluaskan informasi mengenai gempa dan peringatan dini tsunami.

Desa Pangandaran telah memiliki Command Center dan CCTV untuk memantau tsunami, juga ada sirene dan pengeras suara untuk menyebarluaskan informasi. Desa Pangandaran juga memiliki kemampuan menerima informasi bahaya tsunami 24 jam penuh dengan media komunikasi seperti media sosial BMKG, BPBD, pemerintah desa, dan FKDM, serta penggunaan Warning Receiver System.

Banyuwangi Adakan Simulasi Bencana Tsunami

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini