Ledakan Petasan, Cara Masyarakat China Usir Setan di Hindia Belanda

Ledakan Petasan, Cara Masyarakat China Usir Setan di Hindia Belanda
info gambar utama

Ketika merayakan sebuah hari penting mungkin tidak akan lengkap tanpa adanya petasan. Hal ini pula yang dirasakan oleh bocah kecil bernama Kusno di Mojokerto.

Ketika itu malam Lebaran, dirinya hanya bisa mengintip melalui lubang kecil pada dinding bambu kamarnya, melihat teman-temannya sedang bermain petasan. Hatinya saat itu pilu.

“Dari tahun ke tahun aku selalu berharap-harap, tetapi tak sekalipun aku bisa melepaskan mercon,” keluhnya yang dimuat dalam buku Bung Karno: penyambung lidah rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

Baru setelah kenalan ayahnya memberikan hadiah berupa petasan, girang sudah hatinya. Itulah hadiah terindah yang pernah dirinya terima. Bocah kecil ini adalah Soekarno, proklamator dan presiden pertama Indonesia.

Pengalaman kecil yang dialami oleh Soekarno seperti dikisahkan buku tadi mengambarkan bahwa petasan sudah lama menjadi bagian tradisi Indonesia. Walau bunyinya yang memekakkan telinga ternyata malah menjadi daya tarik.

Petasan memasuki wilayah Hindia Belanda ketika itu melalui imigrasi orang China ke Batavia pada abad 18. Pemerintah Kolonial memang membuka lebar imigrasi tersebut karena membutuhkan tenaga mereka.

Oei Tiong Ham, Taipan International Asal Semarang yang Berpengaruh pada Masanya

Orang China saat itu dikenal sebagai seorang yang pekerja keras, ulet dan tidak gampang menyerah. Besarnya imigrasi orang China membuat hampir 30 persen penduduk kota Batavia berasal dari etnis ini.

Di wilayah baru ini, masyarakat China tetap mempertahankan identitas dan kebudayaan nenek moyang mereka, salah satunya yang unik adalah membakar petasan. Tidak heran ketika itu, pada siang dan malam kerap terdengar ledakan petasan.

"Dor, der, dor, dar, der, duar, dor, duar...Bunyi petasan itu terdengar keras dari rumah orang China," tulis Zaenuddin HM dalam bukunya Kisah-Kisah Edan Seputar Djakarta Tempo Doeloe.

Bagi masyarakat China membakar petasan tidak hanya sekadar membuat keramaian. Tetapi memiliki tujuan lain yaitu mengusir makhluk halus yang murka kepada manusia dan menimbulkan wabah penyakit.

Tradisi membakar petasan di China memang telah mulai sejak pemerintahan Dinasti Han pada 200 SM, jauh sebelum penemuan bubuk mesiu. Hal ini berhubungan dengan makhluk gunung bernama Nian.

Setiap perayaan tahun baru, makhluk ini selalu muncul untuk menganggu dan hendak memakan manusia. Ketika itu juga banyak masyarakat yang terkena wabah penyakit kerena penanganan kesehatan yang tidak becus.

Untuk mengusirnya, masyarakat lalu membuat suara ledakan dari bambu, yang mereka sebut baouzhu. Sejak itulah petasan dipakai dalam setiap perayaan maupun festival di Cina, termasuk Imlek atau tahun baru Cina.

Masyarakatnya Betawi mulai mengikuti

Awalnya petasan dibuat dalam bentuk bersumbu. sumbu itu lalu dibakar dan apinya akan menjalar ke dalam petasan lalu meledak. Tetapi selanjutnya diciptakan petasan yang dapat dilempat ke berbagai tempat.

Orang China yakin bahwa dengan melempar petasan ini, lalu meledak, setan akan berpindah tempat. Kepercayaan ini tetap dibawa oleh mereka saat datang ke Batavia.

Penduduk Betawi mulai tertarik dengan tradisi ini, mereka pun ikut-ikutan membakar petasan. Bedanya orang Betawi membakar petasan tidak untuk mengusir setan.

Hal ini memang bertentangan dengan ajaran Agama Islam yang dianut masyarakat Betawi saat itu. Orang-orang Betawi membakar petasan dengan tujuan komunikasi untuk menandai atau mengabarkan sesuatu.

"Petasan dibakar biasanya untuk mengabarkan adanya pesta perkawinan, anak dikhitan, acara pindah rumah, atau ada yang pergi dan pulang dari ibadah haji," beber Zaenuddin.

Belajar dari Yap Thiam Hien, Singa Pengadilan yang Mengaum Membela Kemanusiaan

Ketika itu memang belum ada alat komunikasi, hanya petasan dengan ledakannya yang keras, paling mampu menyiarkan kabar ke seantero kampung-kampung. Alhasil membakar petasan menjadi alat komunikasi yang efektif.

Alwi Shahab dalam tulisannya berjudul Alasan Warga Betawi Harus Pasang Petasan Saat Hajatan yang dimuat Republika menyebut dahulu petasan juga menjadi lambang status sosial. Makin banyak memasang petasan, dia akan makin mendapat pujian.

"Oh, si Anu yang mau pegi haji petasannya sampai segerobak,” kata orang yang mendengarnya.

Masa itu menurut Alwi memang sudah ada petasan lokal dan impor. Kalau petasan lokal tidak begitu keras, dan tidak menjadi kebanggaan. Sedang petasan impor, misal dari Jepang, suaranya begitu nyaring, tetapi harganya lebih mahal.

Seorang tokoh Betawi, H Irwan Syafi’ie juga mengutarakan bahwa petasan digunakan oleh orang-orang untuk membangunkan sahur. Warga Betawi juga memasang petasan pada malam Idul Fitri sebagai lambang kagembiraan setelah berpuasa selama sebulan.

Petasan mulai dilarang

Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, petasan yang dibakar ini malah membawa celaka. Banyak rumah yang terbakar dan sejumlah orang terluka.

Dikabarkan dari Historia, lantaran petasan dianggap barang yang berbahaya, membuat penguasa VOC pada tahun 1650 mengeluarkan larangan membakar petasan terutama di bulan-bulan kemarau seperti Desember, Januari, dan Februari.

Pelarangan ini juga terkait dengan keamanan, karena suara petasan sulit dibedakan dengan letusan senjata api. Apalagi orang-orang Cina, pada tahun 1742 pernah menggunakan petasan sebagai senjata perlawanan.

Setelah kemerdekaan, petasan juga pernah menjadi urusan yang pelik. Pada malam Tahun Baru tahun 1971, pemerintah Jakarta membuat acara “pesta petasan". Berton-ton mercon dibakar malam itu.

Gubernur Jakarta Ali Sadikin menyulut petasan sebagai tanda dimulainya “pesta petasan”. Nahasnya banyak korban berjatuhan.

Ditulis oleh Tempo, 13 November 1971, 50-60 orang diangkut ke kamar mayat, bangsal-bangsal bedah, dan poliklinik. Seorang warga Amerika juga menjadi korban dan dilarikan ke rumah sakit.

Bukti Cinta di Balik Kemegahan Mausoleum OG Khouw Petamburan

Merujuk dari Alinea, Presiden Soeharto akhirnya turun tangan untuk melarang kebiasaan menyulut petasan pada malam tahun baru. Alasannya, bukan warisan nenek moyang dan keharusan agama.

Masalah petasan ini bahkan sempat disinggung oleh Soeharto dalam sidang kabinet paripurna pada Oktober 1971. selama nyaris lima jam, Presiden Soeharto memimpin sidang kabinet, membahas salah satunya mengenai pelarangan petasan.

Pada 13 Oktober 1971, kemudian pemerintah hanya mengizinkan petasan buatan dalam negeri untuk dinyalakan. Pemerintah pun melarang impor petasan dari luar negeri.

Soeharto juga menginstruksikan kepada Polri agar mengawasi produksi dan penjualan petasan karena hari raya dan Tahun Baru 1972 makin dekat. Tetapi pada kenyataannya di perayaan tahun baru selanjutnya, penggunaan petasan tetap ada.

Sampai sekarang, meski sudah ada larangan, petasan masih kerap dibakar orang. Terlebih lagi di saat datangnya malam tahun baru, segala jenis petasan akan muncul memeriahkan pergantian tahun.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini