Menyusuri Kota Lama Semarang, Little Netherland dengan Beragam Bangunan Khas Eropa

Menyusuri Kota Lama Semarang, Little Netherland dengan Beragam Bangunan Khas Eropa
info gambar utama

Kota Lama Semarang menjadi salah satu destinasi favorit bagi masyarakat untuk berwisata sekaligus belajar sejarah. Tempat ini merupakan saksi sejarah akan peradaban yang terjadi beberapa waktu silam.

Sama halnya dengan Kota Tua Jakarta, tempat ini memiliki beragam bangunan berasitektur Eropa. Hal ini membuat tempat ini menjadi lokasi favorit para pecinta fotografi untuk mengambil beberapa gambar dengan gaya vintage.

Sementara itu fasilitas publik di lokasi ini juga cukup baik karena terdapat mushola, jalan, toilet, sampai tempat sampah. Hal ini membuat lokasi ini cukup cocok untuk menjadi tempat wisata.

Kota Lama Semarang sering disebut sebagai Little Netherlands. Pasalnya di kawasan yang memiliki luas 31 hektare ini berdiri sekitar 50 bangunan kuno peninggalan kolonialisme Belanda.

Perkembangan Kota Lama atau Oudstadst ini terjadi mulai abad ke 18. Pada masa itu benteng Vijhoek mengelilingi dan melindungi kota lama. Pada abad ke 19 hingga 20, Kota Lama Semarang menjadi pusat perdagangan.

Sejarah dari Kota Lama Semarang bermula dari kesepakatan antara Kerajaan Mataram dengan pihak VOC. Di mana saat itu Kerajaan Mataram harus menyerahkan Semarang sebagai pembayaran akan bantuan VOC dalam menghadapi pemberontakan Trunojoyo.

Hopjes, Permen Kopi Jadul Peninggalan Belanda yang jadi Pendahulu Kopiko

Kesepakatan yang terjadi pada tanggal 15 Januari tahun 1678 silam. Ini menjadikan lokasi ini langsung dibangun beragam bangunan mulai dari gedung pemerintahan, rumah-rumah warga, dan kanal.

Selain itu di kawasan Kota Lama juga terdapat jalan-jalan yang bisa berfungsi untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang. Jalan utamanya dahulu dikenal dengan nama Heeren Staart yang saat ini bernama Jln Letjen Suprapto.

Merujuk dari DPAD Jogjgaprov, selain pemukiman bercorak Eropa, kawasan ini juga terdapat perkantoran, perdagangan dan hotel. Kawasan yang berdekatan dengan Stasiun Tawang itu memiliki landmark berupa Gereja Blenduk.

Kawasan Kota Lama Semarang ini memiliki keragaman bangunan arsitektur yang berlanggam art deco, renaisance, barouqe, dan Semarangan. Hal ini menjadikannya mendapat julukan sebagai Little Netherland.

Kota Lama ini sudah ramai sejak abad ke-17. Ketika itu kawasan ini menjadi salah satu pusat perdagangan di Indonesia. Lalu memasuki abad ke 18 hingga abad ke-19, banyak pedagang Cina dan Arab yang memenuhi kawasan ini.

Wisata sejarah di Kota Lama Semarang

Para wisatawan bisa berkeliling menyusuri wilayah Kota Lama Semarang menggunakan sepeda sesuai jalur yang telah ditetapkan. Nantinya perjalanan melalui berbagai tempat yang menjadi landmark dari tempat ini

Dipaparkan dari Katadata, para wisatawan akan menemukan beberapa gedung bersejarah dan bangunan unik. Di awali dengan jalan utama, yaitu Jl. Pemuda, di sana terdapat Kantor Pos Besar dan di seberangnya Semarang Nol Kilometer.

Menelusuri jalan sejauh 100 kilometer, wisata akan menemukan jembatan di atas Sungai Semarang. Tempat ini dahulu dikenal dengan nama Gouvernementsbrug atau masyarakat setempat menyebutnya sebagai Brug.

Pada saat ini masyarakat menyebutnya dengan nama Jembatan Berok atau Mberok. Dahulu untuk menuju kawasan Kota Lama, penduduk hanya bisa melalui jembatan ini. Mberok ini dahulunya merupakan jembatan gantung lalu diubah menjadi jembatan permanen.

Ketika melewati jembatan ini ada beragam pemandangan yang akan anda bisa saksikan, seperti gedung kantor dengan model khas Belanda. Kawasan ini dahulunya dikenal dengan nama Westenwal Straat.

Beragam bangunan tua mengelilingi kawasan ini, seperti Bank Mandiri, PT. Phapros, PT. Pelni, GKBI, dan bangunan bersejarah lainnya.

Sejarah Gereja Blenduk, Sebuah Ikon Kota Lama Semarang

Ketika anda berjalan lurus ke arah timur, maka anda akan sampai pada kawasan hereen straat atau sekarang dikenal dengan nama JL. Letjen Suprapto. Kawasan ini merupakan kutha lawas yang memiliki salah satu gereja Belanda yang cukup terkenal.

Gereja Protestan Indonesia Barat atau GPIB “Immanuel” ini sudah berdiri sejak 1753. Sementara itu di depan gereja ini ada tanaman kota bernama Sri Gunting yang dahulu disebut Parade Plein.

Di belakang gereja yaitu di dekat Taman Garuda terdapat bangunan dari PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia. Kini bangunan ini sudah direvitalisasi menjadi Galeri Industri Kecil Menengah atau Galeri Industri Kreatif dan sebagian digunakan untuk penampung PKL yang menjual barang-barang antik.

Pada area Kota Lama Semarang ini juga wisatawan bisa melihat beberapa gedung yang telah direvitalisasi. Seperti Gedung bekas Javasche Bank yang saat ini menjadi Semarang Kreatif Galeri, Gedung Marba, Gedung Spiegel yang saat ini digunakan untuk bar dan bistro, dan lain-lain.

Terancam dengan banjir rob

Di kawasan Kota Lama Semarang sedikitnya ada 102 bangunan tua. Sayangnya kawasan yang dahulu dikenal dengan Little Netherland ini sebagian tidak terawat. Selain ditinggal oleh pemiliknya, fondasinya harus berjuang melawan ganasnya rob.

Pemerintah Kota Semarang melalui Surat Keputusan Wali Kota Semarang Nomor 646/50/tahun 1992 telah menetapkan 101 bangunan kuno sebagai cagar budaya. Yang terkenal, selain Gereja Bleduk adalah Lawang Sewu, Pasar Johar, Gedung Papak, Toko Oen, Pasar Johar, dan Rumah Kopi.

Merujuk dari buku Kota Lama Semarang, Keindahan Salah Satu Arkeolog di Pusat Budaya Jawa terbitan Tempo menyebut kawasan ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Walau memang tidak semua bangunan kuno bisa dinikmati sesempurna Gereja Bleduk.

Sedangkan bangunan lain yang awalnya merupakan rumah tinggal para meneer Belanda, hanya bisa dinikmati sisa ketuaannya. Selebihnya sebagian tembok terlihat tergerogoti oleh ganasnya rob atau daun jendela yang terpendam tanah.

Menurut guru besar arsitektur perkotaan yang sekaligus Ketua Dewan Pembangunan Kota Semarang, Eko Budiharjo menyebut sebagian kawasan Kota Lama Semarang masih bisa diselamatkan. Tetapi penetapannya sebagai kawasan cagar budaya saja tak cukup.

Menikmati Kopi Nusantara dengan Wisata Tematik Kopi

"Harus ada kebijakan rill pemerintah untuk melindunginya," kata Eko.

Eko melihat kebijakan pemerintah untuk menyelamatkan kawasan ini masih parsial, seperti pemerintah membangun polder (kolam raksasa) di depan Stasiun Tawang yang diharapkan mampu menyedot air rob di kawasan itu.

Mestinya bila rob surut, polder akan kering karena air disalurkan ke laut. Tetapi menurut Eko, walau tidak ada rob pun polder akan tetap penuh dan bau.

Karena itulah dirinya berharap pemerintah harus mulai melarang eksploitasi air bawah tanah yang menyebabkan menurunya permukaan tanah. Karena itulah dirinya menilai pemerintah Kota Semarang telah gagal untuk merevitalisasi kawasan itu.

Mestinya, kata Eko, kawasan cagar budaya bisa difungsikan dengan tetap melestarikan bangunannya. Misalnya menjadikannya galeri, pertokoan, perkantoran, kafe atau hotel.

"Inilah makna filosofi old is gold," tuturnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini