Siat Yeh, Tradisi Perang Air Sebagai Sarana Penyucian Diri di Bali

Siat Yeh, Tradisi Perang Air Sebagai Sarana Penyucian Diri di Bali
info gambar utama

Pernah mendengar istilah Siat Yeh? Nama salah satu tradisi yang berasal dari Bali ini mungkin tidak sepopuler tradisi umum yang selama ini sudah cukup banyak dikenal masyarakat luar Bali seperti Ngaben, Omed-medan, atau Perang Pandan.

Karena kenyataannya, tradisi ini sempat terlupakan dan tidak pernah lagi dilangsungkan dalam kurun waktu yang cukup lama tepatnya sejak tahun 1983, padahal menurut masyarakat lokal Siat Yeh merupakan salah satu tradisi yang sudah ada sejak lama.

Dibangkitkan pada tahun 2018 silam oleh masyarakat di Banjar Teba, Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Badung. Dua tahun berselang Siat Yeh kemudian ditetapkan oleh Kemdikbud sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), dan telah mendapatkan sertifikat tercatat sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kemenkumham pada awal bulan Februari 2021 lalu.

Kembali dihidupkan dengan tujuan menjaga keberadaan tradisi yang dilahirkan oleh para leluhur, seperti apa sebenarnya makna Siat Yeh yang pelaksanaannya lebih dikenal lewat kegiatan perang air?

Tenganan Pegringsingan, Desa Bercorak Bali Kuno dan Perang Pandan

Sarana penyucian diri sekaligus menyatukan kekuatan alam

Mengutip penjelasan yang diberikan oleh Ketua Panitia Pengarah Siat Yeh yakni I Gusti Ketut Gede Yusa Asana Putra dalam Merdeka.com, Siat Yeh berasal dari dua kata yakni Siat atau perang, yang dimaknai sebagai kondisi manusia yang setiap harinya berperang dengan diri dan pikiran sendiri dalam menentukan berbagai keinginan antara hal yang baik dan kebalikannya.

Sementara itu Yeh mengandung makna air yang dipandang sebagai salah satu sumber kehidupan manusia dan harus dijaga serta dihormati. Menilik kondisi yang ada di wilayah Jimbaran sendiri, diketahui terdapat dua sumber air utama yakni air yang berasal dari pantai timur di wilayah Suwung dan pantai atau pesisir di sebelah barat Jimbaran.

Konon, dulu saat pembangunan pariwisata belum semaju saat ini kedua sumber air tersebut akan bertemu dan menyatu jika dalam keadaan pasang. Namun seiring dengan pembangunan yang semakin tinggi, kedua sumber air tersebut tidak lagi menyatu secara mandiri, sehingga di situlah peran manusia yang melakukan pembangunan diharuskan untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dibangun.

"Karena sekarang pembangunan pariwisata seperti ini, ketemunya tidak secara langsung, sehingga manusia yang membangun maka manusia yang harus mempertemukan kembali air itu. Kalau dua sumber bisa ketemu maka kemakmuran akan tercapai. Itu harapan kami," jelas Yusa.

“Dahulu di Jimbaran sumber penghidupan hanya dua, yakni menjadi nelayan di pantai barat atau menjadi petani garam di pantai timur. Sehingga inilah yang kami satukan,” tambahnya.

Sementara itu jika bicara kaitannya dengan kegiatan perang air, perang untuk menyucikan diri dengan bermandikan lemparan air nantinya akan berasal dari air yang telah diambil dari dua sumber yang telah dimaksud.

Sehingga saat perang air berlangsung, dua makna Siat Yeh yang terlaksana adalah sarana penyucian diri oleh masyarakat setempat dengan memanfaatkan pertemuan dua sumber air sekaligus untuk menyatukan kekuatan alam dan memberikan kemakmuran bagi mereka yang terlibat.

Mengenal Tradisi Melukat, Ritual Penyucian Diri Khas Masyarakat Bali

Pelaksanaan siat yeh

Mengenai waktu pelaksanaannya, siat yeh biasa dilangsungkan pada saat Hari Raya Ngembak Geni, atau lebih tepatnya sehari setelah perayaan Nyepi, di mana masyarakat yang berpartisipasi biasanya didominasi oleh kalangan pemuda-pemudi Banjar Teba.

Sementara itu untuk tata caranya, dijelaskan bahwa prosesi diawali dengan mendak (menjemput) air suci yang diambil dari dua sumber berbeda yang dimaksud sebelumnya.

Dalam pengambilan tersebut, digunakan sejumlah kendi dari masing-masing wilayah yang kemudian dipertemukan di depan Balai Banjar Teba, Jimbaran, dengan disambut pertunjukan Tari Rejang. Setelahnya, dua tirta atau sumber air tersebut kemudian disatukan dan digunakan untuk ritual panglukatan agung bagi seluruh warga Banjar Teba.

Sementara itu sisanya, baru digunakan untuk pelaksanaan perang air yang dilakukan oleh kalangan masyarakat atau anak-anak muda yang dibagi ke dalam dua kubu bersebrangan, untuk saling menyiramkan air antara satu kelompok ke kelompok lainnya.

Saat ini, kegiatan perang air dalam tradisi Siat Yeh bisa dilakukan oleh siapapun termasuk para wisatawan dan tidak terbatas bagi masyarakat setempat saja.

Selain dijadikan sebagai sarana untuk menghilangkan segala jenis kekotoran duniawi bagi setiap orang yang terlibat, kembali dihidupkannya tradisi Siat Yeh juga diharapkan dapat terus dilakukan dengan penuh suka cita dan kegembiraan setiap tahunnya untuk melestarikan warisan para leluhur.

Genjek dan Gambuh, Seni Pertunjukan Tradisional Warisan Budaya Bali

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini