Lestarikan Lingkungan dengan Cara Illegal Planting, Hery Heriyanto: Tanam Saja Dulu

Lestarikan Lingkungan dengan Cara Illegal Planting, Hery Heriyanto: Tanam Saja Dulu
info gambar utama

"Kita jangan sakiti alam dengan cara yang kita bisa lakukan yaitu mengelola sampah, memilah sampah, menanam pohon, jangan kotori sungai, hutan, lautan, dan jurang-jurang, juga hindari penebangan pohon."

---

Setiap tanggal 10 Januari diperingati sebagai Hari Gerakan Satu Juta Pohon Sedunia sebagai salah satu upaya pelestarian lingkungan dan mewujudkan lingkungan yang asri, sejuk, dan pastinya sehat. Peringatan ini juga menjadi momen untuk mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya melestarikan pohon untuk kehidupan manusia.

Kita tentu tahu bahwa pohon dapat menjaga kestabilan iklim, menghasilkan oksigen yang berguna bagi manusia, hingga mencegah banjir.

Hari ini tentunya dimanfaatkan banyak orang untuk menanam pohon di berbagai tempat. Melalui gerakan menanam pohon tentu diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang nyata saat ini yaitu pemanasan global. Kita bisa menanam pohon mulai dari lingkungan tempat tinggal dan terus menjaganya sebagai bentuk kepedulian terhadap bumi.

Salah satu sosok pegiat lingkungan yang terus aktif dalam menanam pohon adalah Hery Heriyanto dari Bogor, Jawa Barat. Ia dikenal melakukan illegal planting dan tidak memedulikan lahan, yang penting bisa menanam pohon sebanyak-banyaknya.

Hery pun berbagi kisahnya pada GNFI, Minggu (9/1/2022), mengenai upaya melestarikan lingkungan dan kegiatan tanam pohon yang dilakukannya.

Gerakan Satu Juta Pohon dan Cara Pandang Soeharto Melihat Lingkungan

Apa saja kegiatan yang Anda lakukan terkait upaya-upaya melestarikan lingkungan?

Pertamanya saya dan teman-teman lama kumpul di warung kopi dan berpikir untuk melakukan sesuatu untuk bumi. Saat itu mau menanam pohon tapi kayak punya lahan saja. Tapi ya sudah akhirnya kita tanam saja yaitu ilegal planting. Tanam saja dulu enggak usah mikir itu punya siapa.

Akhirnya ketemu eks TPA, tempat pembuangan sampah kota bogor tahun 80-an yang memang sudah benar-benar gunungan sampah. Akhirnya kita tanam terus, kita libatkan RT, RW, dan masyarakat untuk ikut menanam.

Awalnya kita tanam pertama itu 5.000 pohon dengan pola tumpang sari, ada cabai, tomat, mentimun, dan kacang-kacangan yang ternyata subur. Sampai saat ini masih terjaga dan pohonnya tumbuh tinggi.

Tapi ya karena lahan pemerintah Kementerian Keuangan, akhirnya tumbuh juga bangunan liar dan pohonnya agak kalah sedikit. Paling tersisa 400 pohon besar.

Setelah itu kita juga berupaya menanam pohon di pinggir kali Cisadane yang rawan longsor. Di kali Cisadane, pohonnya tidak terganggu dan masih ada sampai saat ini.

Untuk lokasinya itu di daerah Kota Bogor, dan saat ini sekretariat kita ada di Kelurahan Ranggamekar.

Sejak kapan memulai aksi menanam pohon tersebut?

Aksi ini dimulai tahun 2011. Jadi kita lihat sungai, lihat hutan, kayaknya enggak sesejuk dulu waktu kecil dan dari situlah dimulai. Padahal saya dan teman-teman juga bukan petani. Tapi itu usaha kita melestarikan lingkungan dengan tanam aja dulu.

Mengapa tertarik pada kegiatan pelestarian lingkungan?

Ketertarikan pada permasalahan lingkungan tuh gini, rasanya enggak adil kita menghirup udara bebas yang dihasilkan oleh pohon, enggak adil kalau kita enggak berbuat sesuatu untuk lingkungan dan bumi yang kita tinggali. Ini juga buat kita sendiri dan keluarga.

Diawali dari keluarga, kita tanam misalnya 10 pohon per keluarga dan bisa menanam di halam rumah, apapun jenisnya berarti kita sudah menyumbang untuk diri sendiri dan menyumbang untuk apa yang kita hirup.

Selama ini bagaimana kriteria pemilihan lahan untuk ditanami?

Kriteria pemilihan lahan untuk ditanam itu sebenarnya enggak ada, yang penting lahan-lahan yang berpotensi kritis dan rawan bencana.

Tanpa adanya latar belakang pertanian, bagaimana awalnya bisa berhasil menanam pohon?

Latar belakang itu enggak perlu, yang penting kita yakin sebenarnya. Kalau tanaman itu yang dibutuhkan perawatan, kalau tanam tinggal ya enggak bakalan tumbuh.

Jadi kalo tanaman keras itu mudah, perawatan sampai enam bulan itu intensif dicek setiap bulannya apakah tanahnya subur dan dikasih pupuk. Lewat enam bulan itu aman.

Mengenal Pohon Ulin, Si Kayu Besi yang Dibanggakan oleh Suku Dayak

Lalu, dari mana mendapatkan bibit pohon untuk ditanam?

Untuk bibit kita itu ada tempat pengolahan sampah 3R sampah organik. Dari rumah tangga itu biasanya ada biji-bijian, lalu untuk biji-bijian pohon keras biasanya cari ke hutan. Ada pohon endemik, saya bawa pulang bijinya untuk ditanam sampai berbuah.

Contohnya di sini ada buah matoa yang sudah berbuah dan setelah dinikmati masyarakat itu bijinya dikumpulkan lagi dan ditanam.

Adakah edukasi yang dilakukan untuk masyarakat setempat terkait isu lingkungan?

Untuk edukasi kita lebih mengajak gimana caranya pemilahan sampah dan menamam pohon keras yang di bawahnya bisa ditanami sayuran. Ini disebut tumpang sari atau agroforestry.

Tantangan apa saja yang dihadapi selama ini?

Tantangan banyak banget, apalagi soal lahan. Kita kalau mau menggunakan lahan itu harus urus sana-sini, belum lagi ada sengketa dengan orang-orang yang enggak peduli lingkungan itu pasti bertentangan. Kita enggak peduli dan tanam aja dulu. Setelah pohonnya besar baru orang-orang itu menyadari.

Kalau soal lahan ini kita sudah sampai perang golok. Kalau misalnya ada pohon ditebang atau waktu awal menanam itu pasti ada penggarap dan mereka belum paham.

Dampak yang diharapkan aksi tanam pohon ini?

Dampaknya yang diharapkan sama kita sebenarnya sangat banyak ya, bagaimana caranya kita tidak mencemari air, tanah, udara. Sekarang kalau dilihat banjir dan bencana alam di mana-mana.

Harapannya jangan sampai alam mengingatkan kita dengan cara yang sadis, makanya kita cukup mempertahankan menanam dan mengelola sampah.

Kita juga membuka Kebun Bibit Nusantara dan ada sekitar 50 ribu bibit pohon. Saat ini sudah tertanam 20 ribu pohon di area Gunung Salak. Setiap hari kita menanam kalau ada lahan, kita juga setiap hari ada pembibitan. Dulu itu namanya Lembaga Nusa Tani dan sekarang saya mengelola Yayasan Bumi Selaras Sejahtera.

Musa Ingens, Pohon Pisang Raksasa Endemik Papua

Boleh diceritakan tentang Kebun Bibit Nusantara?

Kebun Bibit Nusantara itu sebetulnya dari hutan organik, salah satu tim dan penasehat. Ada Paguyuban Bumi Asih suka bagi-bagi pohon dulu. Kita ini Nusa Tani dari situ menanam terus dikasih belajar cara menanam, menyemai, dan bikin bibit.

Dari hasil pemilahan sampah organik itu biji-bijian kita kumpulkan, semai, stek, dan ovulasi, sampai sekarang ada 50 ribu bibit tersedia.

Kebun Bibit Nusantara itu untuk siapa saja, kalau ada acara penaman pohon mau dari dinas atau masyarakat. Bukan gratis, tapi ada uang penggantian biji atau ada juga yang tukar dengan pohon.

Yayasan Bumi Selaras Sejahtera itu kegiatannya apa saja?

Yayasan Bumi Selaras Sejahtera itu berawal dari kelompok swadaya masyarakat namanya KSM yang bergerak di bidang pengolahan sampah yaitu TPS 3R Bank Sampah Rumah Kreatif. Di situ kita bingung mau KSM terus enggak ada badan hukumnya dan hanya kelompok swadaya.

Kita kemudian merangkul anak-anak jalanan, daripada mengamen atau parkir, kita ajak ke rumah kreatif dan bank sampah. Mereka dijamin untuk makan, tempat tinggal, dan diberikan insentif.

Ada saran untuk masyarakat supaya menjaga lingkungan di kehidupan sehari-hari?

Hidup kita cuma beberapa puluh tahun. Kalau kita mau merasakan kenyamanan alam ini, yuk kita jaga bareng-bareng. Kita jangan sakiti alam dengan cara yang kita bisa lakukan yaitu mengelola sampah, memilah sampah, menanam pohon, jangan kotori sungai, hutan, lautan, dan jurang-jurang, juga hindari penebangan pohon.

Ayo kita lakukan ilegal planting, dan mudah-mudahan banyak masyarakat lebih paham kalau bumi kita itu memasuki zona berbahaya karena pemanasan global.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini