Musa Ingens, Pohon Pisang Raksasa Endemik Papua

Musa Ingens, Pohon Pisang Raksasa Endemik Papua
info gambar utama

Tanaman pisang bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Memiliki buah dengan daging berwarna putih kekuningan dan rasanya yang manis, pisang menjadi salah satu buah favorit di seluruh penjuru Nusantara. Selain bisa dimakan langsung, pisang juga dapat dikreasikan menjadi berbagai jenis olahan.

Ada berbagai jenis tanaman pisang yang dikenal di Indonesia, seperti pisang raja, pisang susu, pisang ambon, pisang kepok, pisang cavendish, pisang mas, pisang tanduk, hingga pisang uli. Baik pohon dan buahnya mudah ditemukan di berbagai daerah karena pisang bisa beradaptasi di wilayah dataran tinggi dan dataran rendah sehingga tidak diperlukan lahan khusus.

Pada umumnya, pohon pisang tumbuh dengan ketinggian sekitar 2-3 meter serta daunnya memiliki lebar antara 40-50 cm. Namun, tahukah Anda bahwa di Papua ada pisang musa ingens yang ukurannya sangat besar bahkan disebut sebagai pisang raksasa. Bahkan, tinggi pohonnya saja bisa mencapai 30 meter.

10 Negara Penghasil Pisang Terbesar di Dunia (1965-2018)

Berkenalan dengan musa ingens, pisang raksasa dari Papua

Keberadaan pisang raksasa dari Papua ini sempat viral beberapa waktu lalu di media sosial. Yuyu Suryasari, peneliti di Pusat Penelitian Biologi, bagian penelitian dan pemuliaan pisang Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membenarkan kabar tersebut.

Kata Yuyu, seperti dilansir Kompas.com, pohon itu memang betul adanya dan memang tinggi-besar. Ia mengaku pernah melihatnya saat berkunjung ke Papua. Namun, ia sendiri meragukan kebenaran foto-foto buah pisang yang beredar. Menurutnya, buah itu tidak benar karena pisang musa ingens itu buahnya berbiji.

Musa ingens berasal dari famili Musaceae dan termasuk pisang liar. Meski ukurannya tidak biasa, musa ingens bukan hasil dari rekayasa genetik. Berasal dari famili dan genus yang sama dengan pisang lain, yang membedakan musa ingens adalah section dan kromosom dasarnya.

"Kalau musa ingens ini belum pernah kami teliti tapi dia pisang liar dan jumlah kromosom dasarnya X=7. Beda dengan pisang budidaya, Musa acuminata dan Musa balbisiana memiliki kromosom X=11," jelas Yuyu.

Dalam bahasa lokal, pisang raksasa ini disebut ndowin atau apit sepoh. Dilihat dari penampilannya, memang jenis pisang ini sangat berbeda. Tinggi pohonnya bisa mencapai 25-30 meter, sekitar enam sampai tujuh kali lipat tinggi pohon pisang pada umumnya. Selain itu, diameternya pun bisa mencapai 95 cm.

Pada pohon pisang biasa, normalnya pelepah pisang tidak lebih dari 2,5 meter, sedangkan musa ingens memiliki panjang pelepah sampai lima meter dan lebarnya satu meter. Untuk ukuran buahnya memiliki panjang hingga 20 cm dengan diameter 4-6 cm dan buahnya memiliki biji seperti pisang batu. Dalam satu tandan, beratnya bisa sampai 69 kilogram. Sama seperti pisang lain, kulit buah pisang musa ingens saat muda pun berwarna hijau dan berubah kuning ketika masak.

Salah satu ciri lain dari musa ingens adalah pohonnya tidak tumbuh berumpun dan tidak ada tunas yang timbul di bagian bonggolnya. Ini membuat pisang raksasa ini sulit berkembang biak.

Musa ingens biasanya tumbuh di daerah pegunungan dengan ketinggian 1.000-1.700 mdpl. Menurut penuturan Hari Suroto, peneliti dari Balai Arkeologi Papua, musa ingens merupakan pohon pisang terbesar di dunia. Meski buahnya besar, jenis pisang ini rupanya tidak disukai masyarakat setempat karena memiliki banyak biji.

Dikatakan Hari, warga setempat memanfaatkan daun pisang ini untuk atap rumah sementara di hutan, alas duduk, hingga alas untuk makanan. Sedangkan bagian pelepahnya digunakan untuk menyimpan hasil kebun dan hasil buruan.

Pisang endemik Papua

Musa ingens dengan segala keunikannya merupakan salah satu tanaman endemik Papua. Keberadaannya dapat ditemukan Kampung Kwau, Distrik Mokwam, Kabupaten Manokwari yang berbatasan dengan Pegunungan Arfak.

Sebarannya pun sangat terbatas, yaitu Pulau Papua meliputi Manokwari (Cagar Alam Pegunungan Arfak), Kaimana, Teluk Wondama, dan Fak-Fak (Cagar Alam Fak-Fak Tengah). Kemudian, di Kabupaten Yapen (Cagar Alam Yapen Tengah) dan di Kabupaten Tambrauw (Banfot dan Esyom Muara Kali Ehrin).

Pisang raksasa ini pertama kali menjadi koleksi sebagai spesimen oleh Womersley, J.S dan Simmonds N.W. pada 22 Desember 1954 di New Guinea. Spesimennya disimpan sebagai spirit colection pada Herbarium Kew Inggris.

Menurut Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manokwari, jenis pisang ini termasuk langka dan belum dibudidayakan karena pemanfaatannya belum diketahui secara pasti. Selama ini, musa ingens tumbuh begitu saja tanpa budidaya, tetapi keberadaannya tak lepas dari ancaman karena maraknya pembangunan.

Asal-Usul Pisang Tongka Langit yang Kini Masih Menjadi Misteri

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini