Keluak, Buah Beracun yang Jadi Makanan Favorit Babi Rusa

Keluak, Buah Beracun yang Jadi Makanan Favorit Babi Rusa
info gambar utama

Sebagai negara tropis, Indonesia kaya akan-buahan. Selain dapat dinikmati secara langsung, buah juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan, seperti membuat pewarna alami, bahan pembuatan wewangian, dikreasikan menjadi makanan dan minuman, dan bisa untuk pakan hewan.

Salah satu jenis buah yang bisa dimanfaatkan untuk banyak hal adalah keluak. Meski namanya lebih dikenal sebagai bumbu masakan, buah ini terbilang punya banyak kegunaan dari kayunya, kulit kayu, daun, sampai buah.

Uniknya, keluak di Indonesia dikenal dengan banyak nama. Ada yang menyebutnya buah pangi, pucung, pamarrasan, lunglai, atau kepayang. Sedangkan nama latinnya sendiri adalah pangium edule. Buah yang identik dengan warna hitam pekat ini ternyata punya banyak keunikan, berikut fakta menarik seputar keluak.

Mangga Kasturi, Flora Ikon Kalimantan Selatan yang Telah Punah di Alam Liar

Memiliki biji beracun

Meski biji keluak aman dikonsumsi untuk makanan, rupanya ketika mentah sangat beracun dan bisa menyebabkan mabuk. Hal ini karena biji keluak mengandung asam sianida dalam konsentrasi tinggi.

Menurut penjelasan Prof Nuri Andarwulan, Peneliti di Southeast Asian Food and Agriculture Science and Technology (Seafast) Center, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University, biji dan buah keluak segar memang mengandung sianida sangat tinggi yaitu sianogenik glikosida.

Senyawa tersebut mudah melepaskan asam sianida ketika daging buah dan biji terluka, tentunya berbahaya untuk dikonsumsi saat masih segar atau mentah.

“Buah ini memang beracun, mematikan orang kalau dikonsumsi segar karena mengandung sianida. Makanya setelah panen, biasanya buah disimpan. Setelah itu bijinya diambil dan dikumpulkan untuk dicuci bersih lalu direbus,” kata Prof Nuri.

Untuk mengonsumsinya dengan aman, masyarakat biasanya menyimpan buah ini sampai busuk untuk jadi bumbu makanan. Bisa juga dengan cara direbus, dibungkus daun pisang, dan dikubur dalam tanah selama beberapa hari.

Melihat Potret Reboisasi Hutan di Indonesia

Morfologi dan pemanfaatan yang beragam

Perlu diketahui bahwa pohon keluak tingginya bisa mencapai 40 meter dan besar batangnya hingga 2,5 meter. Pohon ini baru akan mulai berbuah pada usia 15 tahun dengan musim buah pada awal musim penghujan tiba. Selain bijinya, kulit kayu pohon keluak juga mengandung asam sianida tinggi dan berbahaya.

Pohon keluak bisa tumbuh subur di wilayah tropis sehingga banyak ditemukan di Asia Tenggara sampai ke Pasifik Barat. Keluak dapat tumbuh subur di dataran rendah sampai tinggi, dengan ketinggian 100-1.500 meter di atas permukaan laut.

Keluak sangat banyak manfaatnya. Tanaman ini sering digunakan sebagai bahan korek api, antiseptik, penghilang kutu, memusnahkan hama, mencegah parasit, pengawet daging dan ikan segar, bahkan bisa jadi pengganti minyak kelapa.

Kayunya sering dimanfaatkan untuk bahan bangunan karena tingginya bisa mencapai 60. Sedangkan buahnya paling terkenal dijadikan masakan dan olahannya seperti dodol dan bumbu masakan seperti rawon.

Tanaman keluak memang memiliki nilai ekonomi tinggi, ditambah lagi bermanfaat pula sebagai tanaman rehabilitasi bagi lahan kritis. Tanaman ini juga dapat berdampak baik untuk lingkungan, dari penghijauan, konservasi, hingga pencegahan erosi.

Makanan favorit babi rusa

Selain aneka pemanfaatan tersebut, seperti dikutip dariMongabay.co.id, rupanya di Suaka Margasatwa Nantu Gorontalo keluak merupakan makanan kesukaan hewan endemik Sulawesi, yaitu babi rusa dan anoa. Meski beracun, babi rusa dan anoa punya semacam trik khusus. Ia akan menetralisir racun tersebut di kolam adudu yang memiliki kandungan garam mineral di kawasan hutan Nantu.

Dijelaskan Abdul Haris Mustari, peneliti dari Institut Pertanian Bogor dalam buku “Ekologi, Perilaku, dan Konservasi Anoa” sering ditemukan jejak-jejak hewan tersebut di bawah pohon keluak yang sedang berbuah. Setelah makan keluak, babi rusa akan langsung pergi ke mata air dan tempat mengasin untuk mendapatkan garam mineral untuk membantu pencernaannya.

Dalam sebuah penelitian oleh Diah Irawati Dwi Arini dan Nurlita Indah Wahyuni dari Balai Penelitian Kehutanan Manado, keluak merupakan pakan anoa pada di tiga habitat anoa di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Matoa, Varietas Unggul dan Tanaman Identitas dari Tanah Papua

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini