Menilik Sebaran Produksi Kayu Bulat di Indonesia

Menilik Sebaran Produksi Kayu Bulat di Indonesia
info gambar utama

Kayu bulat menjadi salah satu bentuk kekayaan alam hutan Indonesia. Pada tahun 2020, produksi kayu bulat di Indonesia mencapai 61,02 juta meter kubik (m3). Kayu bulat atau sering disebut gelondongan dapat dijadikan sebagai bahan baku produksi pengolahan kayu hulu.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kayu bulat mengalami fluktuasi pada tiap triwulan tahun 2020. Produksi kayu bulat sempat mengalami penurunan pada triwulan II dari total produksi sebesar 14,58 juta m3 pada triwulan I menjadi 13,87 juta m3.

Namun pada triwulan III dan IV produksi kayu bulat di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan mencapai 16,41 juta m3 pada triwulan III dan 16,16 juta m3 pada triwulan IV tahun 2020.

Sebagai negara dengan sumber daya alam kehutanan yang melimpah, beragam jenis kayu bulat tumbuh dan dibudidayakan di berbagai daerah dari seluruh penjuru Indonesia. Setiap pulau di Indonesia memiliki jenis produksi kayu bulat unggulan tersendiri dan berbeda antara satu pulau dengan pulau lainnya.

Penting Bagi Kehidupan, Inilah Fungsi dan Fakta Hutan Mangrove

Sumatra daerah penghasil kayu bulat terbesar

Sebesar 68,39 persen produksi kayu bulat di Indonesia berasal dari Pulau Sumatra. Pulau paling barat di Indonesia ini sanggup menghasilkan 41,73 juta m3 pada tahun 2020.

tahun 2020
info gambar

Adapun jenis kayu bulat yang paling banyak diproduksi di Sumatra ialah jenis Akasia dengan persentase 69,32 persen. Selain itu, kayu bulat dari kelompok Rimba Campuran menyumbang sekitar 28,27 persen total produksi, kelompok Meranti sebesar 0,50 persen, kelompok Indah hampir mendekati 0,00 persen dan jenis lainnya sebesar 1,91 persen.

Sementara Pulau Kalimantan yang dijuluki sebagai daerah hutan hujan tropis Indonesia menjadi penghasil kayu bulat terbesar ke-2 dengan jumlah sebesar 9,71 juta m3. Angka ini menyumbang 15,91 persen dari total produksi kayu bulat di Indonesia. Jenis kayu bulat yang dominan diproduksi di Kalimantan ialah kelompok Meranti dengan persentase sebesar 36,05 persen.

Selain itu, Kalimantan juga memproduksi kayu bulat jenis Akasia sebesar 31,89 persen, kelompok Rimba Campuran sebesar 31,72 persen, kelompok Indah sebesar 0,10 persen, kelompok Eboni 0,00 persen, serta jenis lainnya 0,23 persen.

Posisi ke-3 ditempati oleh pulau dengan jumlah penduduk terpadat yakni Pulau Jawa dengan jumlah produksi kayu bulat sebesar 7,76 juta m3 dalam 1 tahun. Sekitar 12,72 persen produksi kayu bulat di Indonesia berasal dari Pulau Jawa dengan kelompok Rimba Campuran sebagai jenis yang paling banyak diproduksi sebesar 67,22 persen.

Pulau Jawa juga memproduksi kayu bulat jenis kelompok Indah sebesar 5,97 persen, akasia 1,16 persen, kelompok Meranti 0,22 persen, serta jenis lainnya 25,43 persen.

Tambrauw, Daerah yang Perlakukan Hutan Layaknya Ibu

Akasia mendominasi jenis kayu bulat di Indonesia

Sementara bila meninjau jenis kayu bulat yang paling banyak diproduksi di Indonesia, jenis Akasia menyumbang persentase terbesar yakni 52,63 persen. Adapun pada tahun 2020 jumlah kayu bulat Akasia yang dihasilkan mencapai 32,114 juta m3. Pulau Sumatra menjadi penyumbang kayu bulat jenis Akasia terbesar di Indonesia.

2020
info gambar

Akasia mulanya merupakan jenis tanaman yang berasal dari Afrika dan Australia dengan 1.300 jumlah spesies. Akasia banyak ditemukan di Indonesia dan sering dimanfaatkan oleh karena pertumbuhan tanaman jenis Akasia yang tergolong cepat.

Posisi ke-2 ditempati oleh kelompok Rimba Campuran dengan persentase sebesar 33,85 persen dari total produksi kayu bulat di Indonesia. Adapun jumlah produksi kayu jenis kelompok Rimba Campuran mencapai 20,655 juta m3.

Sementara itu, kayu bulat jenis Meranti menempati posisi ke-3 dengan total produksi mencapai 4,975 juta m3 yakni sebesar 7,86 persen. Selain ketiga jenis tersebut, Indonesia juga memproduksi kayu bulat jenis kelompok Indah, kelompok Eboni, serta beberapa jenis lainnya yang belum terklasifikasikan secara spesifik.

Produksi kayu bulat yang masif setiap tahunnya menyebabkan kelestarian sumber daya kehutanan di Indonesia terancam. Pemerintah dan institusi lainnya perlu mengambil langkah serius serta konsisten untuk mengupayakan program pelestarian hutan dengan tujuan memerangi penggurunan, menghentikan dan membalikkan degradasi lahan, serta menghentikan ancaman hilangnya keanekaragaman hayati.

Program penghijauan kembali dan pengawasan terhadap berbagai aktivitas yang melibatkan kekayaan hutan Indonesia perlu dilakukan secara tegas untuk menjaga kelestarian alam hutan Indonesia hingga masa yang akan datang.

Melihat Potret Reboisasi Hutan di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Diva Angelia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Diva Angelia.

DA
IA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini