Wisata Bahari di Kampung Namatota yang Tersembunyi di Papua

Wisata Bahari di Kampung Namatota yang Tersembunyi di Papua
info gambar utama

Di Papua Barat rupanya ada sebuah kampung tersembunyi yang menyimpan keindahan alam luar biasa dan masih memegang teguh adat istiadat serta kearifan lokal hingga saat ini. Namanya adalah Kampung Namatota di distrik Kaimana, Kabupaten Kaimana. Kampung ini merupakan pulau sendiri yang terpisah dari pulau utama Papua.

Mayoritas suku asli yang tinggal di sana antara lain Suku Kuripasai, Miereh, Maerasi, Irarutu, Koiway, Oburau, Madewana dan Kuri. Ada pula para pendatang dari Buton, Bugis, dan Jawa. Kebanyakan masyarakat setempat berprofesi sebagai nelayan dan beragama Islam.

Uniknya, Kampung Namatota masih mengenal pemerintahan administratif yang dipimpin oleh Kepala Kampung dan pemerintahan adat oleh Raja dari keturunan Ombaier. Ini menjadi bukti bahwa Kampung Namatota memang berfungsi sebagai pusat Kerajaan Namatota yang sudah ada sejak abad ke-16.

Dalam kunjungan ke Kampung Namatota, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, menyebut kampung ini sebagai The Hidden Gem dan merupakan gerbang pariwisata bagi wisatawan yang menyuguhkan daya tarik wisata bahari.

Untuk mencapai kampung ini, wisatawan dapat melakukan penyeberangan dari Pelabuhan Kaimana menggunakan kapal cepat dengan waktu tempuh sekitar 30-45 menit. Tak hanya menawarkan keindahan alam, Kampung Namatota juga dikenal dengan nilai sejarah dan mempertahankan tradisi secara turun-temurun.

Taman Laut Olele Tawarkan Keindahan Koral Salvador Dali

Wisata bahari di Kampung Namatota

Kampung Namatota | Dok. Kemenparekraf
info gambar

Kampung Namatota membuka diri untuk menerima kunjungan wisatawan tidak semata-mata demi mendapatkan keuntungan. Mereka juga memiliki tujuan utama untuk menjaga kelestarian alam, lingkungan, budaya, dan adat istiadat setempat.

Meski banyak mendapatkan kunjungan dari wisatawan dengan latar belakang budaya yang berbeda, masyarakat Namatota tetap mempertahankan jati dirinya sebagai orang Papua dan mengharapkan pengunjung bisa belajar menjaga alam, terutama laut yang menjadi kehidupan bagi masyarakat Namatota.

Menyelami keindahan perairan Namatota merupakan kegiatan yang wajib dilakukan. Anda bisa memilih antara snorkeling atau diving dan menikmati panorama bawah laut yang mengagumkan. Di perairan Namatota ada beberapa jenis ikan unik dan merupakan spesies baru Papua, seperti belut kebun mercy (Heteroconger mercyae), Pentapodus numberii, Pseudochromis jace, Siphamia stenotes, Paracheilinus nursalim, hiu berjalan di pasir (Hemiscyllium henryi), dan Pomacentrus fakfakensis.

Selain itu, Anda bisa melihat Paus Bryde’s, hiu paus, pari manta, dan lumba-lumba bungkuk Indopasifik. Tentunya akan menjadi pengalaman menyenangkan bila Anda berhasil berenang bersama hiu paus.

Wilayah perairan Namatota juga merupakan bagian dari taman laut dan segitiga karang dunia. Menyelami bawah lautnya, wisatawan bisa bertemu penyu sisik dan penyu hijau yang sering berada di antara padang lamun. Di sana juga banyak pilihan spot menyelam dengan karang lunak warna-warni.

Selain berenang dan menyelam, wisatawan juga bisa berkeliling perairan dengan perahu tradisional. Aktivitas di darat pun tak kalah seru karena Anda bisa berjalan-jalan ke puncak bukit menunggu matahari terbit dan berkeliling kampung dan melihat kegiatan masyarakat setempat, misalnya para perempuan yang sedang menganyam tomang atau noken khas Papua Selatan.

Anda juga bisa menyusuri hutan bakau, mengamati burung, melihat soa-soa, mengunjungi laguna tersembunyi, dan melihat situs prasejarah berupa lukisan di dinding batuan karst. Tentunya Anda juga bisa bersantai menikmati keindahan pemandangan kampung ini sambil minum kelapa muda di tepi pantai.

Untuk penginapan, di Kampung Namatota terdapat lima rumah warga yang dijadikan homestay dengan harga terjangkau dan ada pula bungalow di Pantai Raja. Anda juga bisa berkemah di Pantai Temaumum.

Menikmati Keindahan Pulau Tidore dari Benteng Tahula

Tradisi sasi

Salah satu cara masyarakat Kampung Namatota memegang teguh adat istiadatnya adalah mempertahankan tradisi sasi. Sasi merupakan larangan untuk mengambil hasil sumberdaya alam tertentu sebagai upaya pelestarian demi menjaga mutu dan populasi sumberdaya hayati di alam.

Larangan tersebut biasanya berlangsung selama berbulan-bulan. Sasi juga dilakukan di darat, laut, sungai, dan pantai. Selama masa larangan, masyarakat dilarang mengambil sumber daya alam termasuk menangkap ikan dan udang, menebang pohon, mengumpulkan pasir dan kerikil, mengambil rumput laut, berburu burung, mengambil hasil hutan bakau dan hasil dari pohon liar seperti buah-buahan.

Tradisi ini juga dilakukan di hampir seluruh pulau di Maluku termasuk Halmahera, Ternate, Buru, Seram, Ambon, Banda, dan Papua seperti Raja Ampat, Sorong, Manokwati, Nabire, Biak, Fakfak, dan Kaimana. Di Kampung Namatota, penyelenggaraan sasi akan menutup suatu daerah selama waktu yang sudah disepakati.

Pada pentutupan area tersebut akan dilakukan ritual dengan simbol buah kelapa. Upacara adat ini melambangkan ucapan terima kasih kepada Sang Pencipta atas berkah hasil laut, serta simbol pembayaran kepada alam.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini