Menikmati Keindahan Pulau Tidore dari Benteng Tahula

Menikmati Keindahan Pulau Tidore dari Benteng Tahula
info gambar utama

Menurut catatan sejarah, Indonesia memang pernah menjadi negara jajahan bangsa Eropa mulai dari Belanda, Portugis, Inggris, hingga Spanyol. Setelah Indonesia merdeka, masih banyak saksi bisu dari zaman penjajahan tersebut lewat peninggalan-peninggalan seperti bangunan tua, gereja, penjara, museum, rumah sakit, dan yang juga banyak ditemukan di beberapa daerah adalah benteng.

Benteng sendiri memang bukan sesuatu yang asing ditemukan di Tanah Air. Bangunan ini identik dengan kebutuhan pertahanan dalam peperangan sekaligus menjadi bagian dari strategi penyerangan. Benteng juga berfungsi untuk mencegah bahaya yang mengancam harta dan jiwa. Sejak ribuan tahun lalu, benteng sudah dibangun dalam berbagai bentuk yang begitu kompleks.

Indonesia diketahu memiliki ratusan benteng peninggalan bangsa asing. Salah satunya adalah Benteng Tahula di Tidore, Maluku Utara, yang dulu didirikan untuk pertahanan Spanyol dalam mengusir bangsa Portugis dari Indonesia.

Benteng Van der Wijck, Objek Wisata Bersejarah Peninggalan Belanda

Sejarah Benteng Tahula dari masa penjajahan

Benteng Tahula, yang juga sering disebut Tohula dibangun pada tahun 1609 oleh bangsa Spanyol untuk melindungi pasukannya. Benteng ini berlokasi di Jalan Sultan Saifudin 2, Kelurahan Soa Sio, Kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan.

Ide pembangunan benteng ini datang dari dari Gubernur Spanyol pertama di Maluku yaitu Juan de Esquivel. Sempat tertunda karena kekurangan tenaga kerja, akhirnya benteng berhasil dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Spanyol berikutnya yang bernama , Cristobal de Azcqueta Menchacha.

Benteng Tahula baru selesai dibangun tahun 1615 dan diberi nama Santiago de los Caballeros de Tidore atau Sanctiago Caualleros de los de la de ysla Tidore. Spanyol berhak atas kepemilikan benteng sampai tahun 1662 dan setahun kemudian Spanyol dijauhkan dari Maluku dan Tidore, benteng pun diambil alih oleh VOC.

Saat itu VOC mengizinkan Sultan Saifudin menghuni benteng sebagai tempat tinggal. Pada tahun 1799, Sultan Kaicil Nuku dari Tidore meningkatkan dan memperkuat benteng dengan beberapa meriam dan amunisi lain untuk persiapan dalam rencana melawan VOC dengan menyerang bersama para prajurit Ternate.

Sebagai tempat pertahanan militer, posisi benteng ini memang dibangun begitu strategis. Posisinya berada di atas bebatuan karang dan dari tempat dengan ketinggian 35 meter bisa memantau Tidore dari wilayah daratan hingga perairan. Benteng Tahula juga jadi titik strategis untuk mengawasi lalu lintas perdagangan rempah.

Melihat Benteng Peninggalan Kolonial Belanda yang Tak Lekang oleh Zaman

Menjelajahi bangunan Benteng Tahula

Benteng Tahula memiliki denah persegi empat dan terdiri dari empat bangunan yang terbuat dari susunan batu alam. Ada beberapa elemen yang bisa dilihat di bangunan benteng ini, yaitu bastion, makam, halaman dalam, ruangan dalam benteng, tangga-tangga, dan kolam.

Pada bagian dalam benteng terdapat ruangan dengan pintu setengah lingkaran. Juga ada tiba buah bastion yang berbentuk segitiga dan lingkaran. Di area halaman, pengunjung akan menemukan banyak tangga. Bentuk benteng sebenarnya kurang jelas karena tertutup semak belukar dan posisinya curam. Namun, yang pasti benteng ini begitu dekat dengan laut sehingga pemandangannya sangat indah.

Meski sudah berusia ratusan tahun, benteng ini cukup terawat. Pada masa pemerintahan Sultan Tidore Hamzah Fahroedin memang bangunan ini tidak ingin dihancurkan dan menjadi tempat tinggal keluarga Kesultanan Tidore.

Berwisata ke benteng ini akan membawa para pengunjung menyaksikan langsung salah satu saksi bisu kedatangan para penjajah di Tidore. Dari benteng ini pun panorama alamnya sungguh memanjakan mata.

Kini terdapat tangga yang dicat warna-warni dan pintu masuk menuju benteng. Mengingat posisi benteng memang berada di atas bukit, maka pengunjung harus menaiki tangga terlebih dahulu yang jumlahnya sekitar 100 anak tangga.Walau bangunan benteng tampak tua dan usang, tetapi sudah banyak pemugaran yang dilakukan, misalnya diisi dengan taman dan berbagai tanaman perdu.

Untuk mengunjungi benteng ini, pengunjung dari luar kota harus melakukan penerbangan terlebih dahulu ke Bandar Udara Baabullah, Ternate. Dari bandara, bisa menyeberang ke Pulau Tidore dari Pelabuhan Ferry Bastiong menuju Pelabuhan Rum. Setelah sampai, bisa melanjutkan perjalanan dengan naik mikrolet atau becak motor sampai ke kawasan benteng.

Benteng Terakhir Keragaman Alam yang Unik, Satu-satunya yang Tersisa di Dunia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini