Enrique de Malacca, Kisah Pria yang Pertama Kali Mengelilingi Dunia

Enrique de Malacca, Kisah Pria yang Pertama Kali Mengelilingi Dunia
info gambar utama

Sampai abad 15, mayoritas orang Eropa masih mempercayai bahwa bumi itu datar di mana pada ujung dunia ada monster yang bisa menelan kapal laut. Ketika itu seorang Christopher Colombus dengan keyakinannya bahwa bumi itu bulat, mulai berlayar melintasi Atlantik dalam rangka mencari India.

Semua orang mengetahui risikonya, Colombus bisa saja ditelan oleh monster atau terjatuh ke dalam jurang tanpa dasar di Samudra Atlantik. Colombus tidak mendapati keduanya, dia malah berhasil sampai ke tempat yang dirinya percayai sebagai India.

Fakta bahwa bumi bulat sebenarnya telah dilakukan oleh manusia sejak 2.000 tahun yang lalu. Para ilmuan-ilmuan dari Mesir, Yunani dan berbagai wilayah di Mediterania yang bekerja di Perpustakaan Alexandria telah mengetahuinya.

Eratosthenes dari Cyrene (276-194 SM) menggunakan pengamatan perbedaan bayangan matahari dalam sumur vertikal di Alexandria dan Syene yang berjarak 750 km. Dirinya berkesimpulan bahwa bumi itu bulat dan sinar matahari itu pararel.

"Entah mengapa pengertian bahwa bumi itu bulat hilang di Eropa sampai pada masa Colombus. Boleh jadi keyakinan agama jadi penyebabnya," tulis Helmy Yahya dan Reinhard R Tawas dalam buku Pengeliling Bumi Pertama adalah Orang Indonesia: Enrique Maluku.

Hantu Laut dari Timur dan Jalur Kayu Manis Rekam Jejak Kejayaan Bahari

Keyakinan bahwa bumi itu bulat menjadikan navigator-navigator Eropa mencari jalan-jalan ke Kepulauan Maluku. Mereka ingin mencari rempah-rempah dari sumber aslinya yang diketahui telah masuk ke Timur Tengah dan Mesir sekitar 2.000 tahun sebelumnya.

Ketika itu perjalanan rempah-rempah menuju Eropa sangatlah jauh, padahal bumbu-bumbu ini sangat digandrungi di Benua Biru. Karena itu pernah pada suatu masa, timbangan rempah-rempah sama dengan emas.

Usaha untuk menemukan Maluku inilah yang kemudian melahirkan penjelajah-penjelajah besar seperti Colombus, Bartholomeus Dias, Vasco da Gama, Ferdinand Magellan dan lain-lain. Tidak puas hanya berdagang, mereka lalu menaklukkan Goa, Sri Lanka, Malaka dan Maluku.

Magellan seorang penjelajah Portugis bahkan diakui sebagai orang pertama yang menjelajah dari Eropa ke arah Barat, melayari Samudra Atlantik dan Pasifik hingga mencapai Asia. Tetapi dia gagal menjadi pelaut Eropa pertama yang mengelilingi dunia.

Pasalnya dia terbunuh dalam perang antarsuku yang terjadi di Pulau Mactan, Filipina. Namun, perjalanan ini menyimpan satu sosok nama Enrique de Malacca atau Enrique Maluku yang diyakini sebagai orang pertama yang telah mengelilingi bumi.

Enrique merupakan budak dari Magellan, tetapi dirinya bukan hanya sembarang budak. Kemampuan pemuda ini membuatnya dipercaya seorang Magellan sebagai tangan kanannya dalam perjalanan bersejarah itu.

Enrique Maluku dan perjalanan mengelilingi dunia

Enrique diketahui merupakan budak yang diperoleh Magellan dari Malaka pada 1511. Ketika itu Magellan turut dalam penaklukan Malaka oleh Portugis yang dipimpin Alfonso de Albuquerque.

Magellan lalu membawa budak itu kembali ke Spanyol dan dibaptis dengan nama Enrique de Malacca. Dirinya lalu dibawa oleh Magellan dalam ekspedisi mencari kepulauan rempah melalui jalur barat.

Tidak ada data bagaimana dan kapan Enrique tiba di Malaka, tetapi dipercaya ketika itu umurnya masih 18 tahun. Enrique meninggalkan Ambon pada usia 10 tahun untuk bekerja di kapal sebagai pengangkut biji pala dan cengkih.

Selama perantauan 7-8 tahun inilah Enrique terpapar dengan bahasa di tempat-tempat yang dirinya kunjungi. Dirinya fasih menggunakan bahasa Melayu, Ambon, Portugal, Spanyol, Jawa, Bugis dan Palembang.

Enrique memang lama tinggal di Palembang, sehingga Magellan lebih suka menyebutnya datang dari Sumatra, walau kala itu kulitnya hitam. Baginya disebut sebagai orang Palembang pun lebih bergengsi karena Sriwijaya berabad-abad menguasai Semenanjung Malaka.

Selanjutnya Enrique pergi ke Singapura lalu ke Malaka untuk bekerja menjadi hamba Sultan Mahmud Syah. Sebelum Pengepungan Malaka, Enrique kemudian diambil sebagai budak oleh Magellan.

John Lie, Sang Pelaut Penyelamat Nasib Indonesia

Enrique adalah orang yang diperlukan oleh Magellan untuk menjadikan impiannya menemukan Maluku dari rute barat terwujud. Seorang Enrique yang menguasai berbagai bahasa ketika itu sangat dinilai tinggi jasanya.

Awalnya Kerajaan Spanyol menolak rute perjalanan Magellan yang dianggap terlalu spekulatif. Akhir Oktober, Magellan bertemu dengan Raja baru Spanyol, Charles I yang mendukung rencananya.

Secara khusus proyek yang diusulkan Magellan adalah mencari rute komersial menuju Maluku dengan berlayar ke arah barat mengitari Amerika Selatan. Dia yakin hanya diperlukan dua tahun untuk melakukan perjalanan mencapai Maluku dan kembali ke Spanyol.

Agar menyakinkan Charles I, Magellan membawa Enrique yang sangat paham rute di Hindia, adat istiadat dan bahasa. Enrique menjadi salah satu alasan Magellan bisa meyakinkan Raja Spanyol untuk mendanai ekspedisinya.

”Raja terpesona oleh warna kulit Enrique dan kemampuannya untuk berbicara beberapa bahasa yang berbeda dengan lancar." tulis Antonio Pigafetta seorang rekan yang ikut dalam ekspedisi Magellan.

Perjalanan legendaris yang dikenang tiga negara

Magellan kemudian diangkat sebagai kapten armada dengan kekuatan mutlak di Samudra. Kerajaan mempersiapkan lima kapal yang relatif tidak terlalu besar supaya mudah bermanuver tetapi juga diperkirakan cukup kuat melayari ombak dan badai.

Armada Maluku -- sebutan untuk Armada Magellan -- ini berangkat dari Sevilla pada 10 Agustus 1519 dengan melayari sungai Guadalquivir menuju pantai di San Lucar di Barrameda. Kapal-kapal ini lalu memasuki Samudra Atlantik pada 20 September 1519.

Mayoritas awal kapal adalah orang-orang Spanyol tetapi ada juga yang berasal dari Portugal, Italia, Yunani, Prancis, Moor (Arab Afrika Utara) dan juga Maluku, yaitu Enrique. Ikut juga dalam pelayaran itu Duarte Barbosa, ipar Magellan dan Pigafetta seorang pencatat perjalanan.

Menurut catatan Pigafetta jarak pelayaran yang mereka tempuh adalah 14.460 league atau kira-kira sekitar 80.340 km. Kedelapan belas pelaut itu melakukannya selama tiga tahun kurang dua minggu (20 September 1519 - 6 September 1522).

Tentunya dengan persinggahan di berbagai tempat di mana Magellan, Enrique dan semua awak kapal mengalami peristiwa-peristiwa yang dramatis. Hari demi hari mereka tidak menemukan pulau, kekurangan air, tikus, serbuk gergaji serta kulit sebagai makanan.

Sementara itu dari lima kapal yang berangkat dari Spanyol, hanya tiga yang berhasil sampai ke Samudra Pasifik. Sang pemimpin ekspedisi, Magellan dinyatakan meninggal di Filipina pada tanggal 27 April tahun 1521.

Melihat Perkembangan Kapal Pinisi dan Budaya Maritim di Nusantara

Kala itu, Magellan terjebak dalam pertikaian dengan masyarakat setempat. Dirinya diyakini tak pernah tiba di Malaka yang bisa membuatnya dijuluki sebagai manusia pertama yang mengelilingi dunia.

Sosok Enrique malah dianggap yang paling tepat mendapat gelar tersebut, walau belum jelas apakah dia menyelesaikan setidaknya 1.000 mil sisa perjalanan yang harus ditempuh.

Sayangnya, catatan mengenai Enrique, terutama dari Pigafetta, hanya sampai pada hari kematian tuannya, Magellan, di Mactan. Banyak yang menyebut Enrique kecewa dan melarikan diri karena statusnya sebagai budak tidak berubah.

Tetapi cerita itu mengilhami penulis Malaysia Harun Aminurrashid menggubah novel berjudul Panglima Awang (1958). Panglima Awang adalah nama yang diyakini sebagai nama asli Enrique sebelum dibaptis. Malaysia juga telah membuat patung Panglima Awang di Museum Maritim mereka di Melaka.

Sementara itu, Filipina juga punya klaim sendiri. Enrique disebut merupakan pemuda asal Cebu, Filipina yang dijual sebagai budak di Malaka. Di Filipina juga dibuat sebuah novel berjudul Enrique el Negro (2002) yang dikabarkan akan dijadikan sebuah film.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini