Misteri Intan Danau Raja dari Negeri Berlian di Barat Kalimantan

Misteri Intan Danau Raja dari Negeri Berlian di Barat Kalimantan
info gambar utama

Nama Tanjungpura di wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) telah berulang kali termuat dalam beragam tulisan dari masa Hindu Buddha. Bangsa Portugis menyebut daerah ini sebagai penghasil berlian terbaik.

Kata Tanjungpura diperkirakan berasosiasi dengan pohon tanjong yang banyak tumbuh di pinggir sungai di Kalimantan. Beberapa ahli sejarah menyebut Tanjungpura merupakan kerajaan tertua yang berada di Kalbar.

Faustinus Hadi dalam esai berjudul Menelusuri Jejak Kerajaan Tanjungpura yang dimuat di Tempo menyebut pada abad ke 14, kerajaan ini diketahui menguasai wilayah di antara dua semenajung: Tanjung Dato dan Tanjung Puting.

“Ini luar biasa mengingat kondisi alam Kalimantan, karena jika ditarik dengan pembatasan wilayah modern, artinya dia menguasai sebagian wilayah Sambas (Malaysia), Kendawangan di pesisir selatan, serta Sukamara di Kota Waringin Barat di Kalimantan Tengah,” tulisnya.

Hal yang unik dari Tanjungpura adalah kebiasaan mereka untuk “bertahan hidup” diwujudkan dengan seringnya ibu kota berpindah. Di mulai dari Negeri Baru, Sukadana, Sungai Matan, Kertapura di Nanga Tayap, Tanjungpura di Kecamatan Sungai Awan Kiri, sampai terakhir di Mulia Kerta di Kota Ketapang.

Menurut Faustinus, perpindahan ini diperkirakan akibat seraangan dari bajak laut atau dikenal sebagai lanon dan perompak di Selat Karimata. Tetapi karena seringnya perpindahan itu, jejak-jejak masa lalu, seperti makam raja-raja, tersebar di mana-mana.

Singkawang, Kota Toleransi dari Kalimantan dengan Panorama Seribu Kelenteng

Tanjungpura yang merupakan sebuah nagari, pernah menjadi wilayah di bawah kekuasaan Kerajaan Singosari dan Majapahit. Pengajar sejarah Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono mengutarakan pasa masa Singosari, wilayah ini dikenal dengan nama Bakulapura

“Dalam Kakawin Nagrakretagama, nagari Malayu, Pahang, Gurun, Bakulapura, Sunda, dan Madhura, seluruhnya tunduk di bawah kekuasaan Kertanegara,” kata Dwi yang dinukil dari Historia.

Dalam Serat Pararaton terutama Sumpah Palapa yang digaungkan oleh Gajah Mada, nama Tanjungpura juga muncul. Kemudian dalam Prasasti Waringinpitu pada tahun 1447, tertulis pada masa Dyah Kertawijaya di Majapahit setidaknya ada 14 negara, termasuk Tanjungpura.

Tanjungpura juga pernah menjadi wilayah kekuasaan dari Demak pada abad ke 16. Dalam Suma Oriental, penjelajah dari Portugis Tome Pires bercerita waktu itu penguasanya adalah Pate Rodim (Raden Patah) yang merupakan penguasa tertinggi di Jawa.

Diceritakan mula-mula penaklukan ini dilakukan dengan cara melawan Tanjungpura, tetapi kemudian semua wilayah itu tunduk padanya. Tome Pires juga menyebut Pate Unus yang pernah menguasai Tanjungpura, sosok ini merupakan penguasa Jepara yang merupakan saudara tiri Raden Patah.

Tetapi arkeolog Hasan Djafar dalam Masa Akhir Majapahit menyebut lokasi Tanjungpura yang terdapat dalam sumber-sumber era Singosari dan Majapahit sebetulnya belum bisa dipastikan. Tetapi menurutnya, semua lokasi oleh para sarjana memang dihubungkan dengan daerah Kalimantan.

Negeri berlian di barat Kalimantan

Walau posisi Tanjungpura masih menuai polemik, nampaknya kekayaan dari daerah ini sudah sangat tersohor. Pires menyebut, di tempat ini terdapat banyak emas, beras, berlian, jung dan bahan-bahan makanan lainnya.

Jenis berlian di Tanjungpura pun terkenal sebagai yang terbaik kedua setelah berlian di Kerajaan Orissa, di dekat Bengal, Bangladesh. Menurut Pires juga selain di daerah ini, berlian tidak ditemukan di tempat lain.

Seperti Pires, seorang Kapten di Maluku Bernama Goancalo Pereira yang pernah berlayar dari Malaka pada Agustus 1530 pernah singgah di Tanjungpura. Dirinya bersaksi bahwa di dekat Kota Tanjungpura atau yang ditulisnya Tanjapura memiliki banyak berlian dengan kualitas lebih tinggi daripada berlian di India.

Perburuan berlian atau intan di Pulau Kalimantan memang sudah di mulai sejak abad ke 6 Masehi. Perburuan ini berlangsung hingga berabad-abad, karena itulah tidak heran hingga kini apabila menyebut Pulau Kalimantan pastinya akan dikenal juga sebagai pulau intan.

Memang nama Kalimantan sendiri konon berasal dari beberapa kata yakni Kali yang berarti sungai, kemudian Ma yang berarti emas, dan Tan yang berarti intan. Sehingga nama Kalimantan artinya adalah sungai yang penuh akan emas dan intan.

Ditulis oleh Miftahul Huda dalam artikel berjudul Kisah Intan Danau Raja, Kerajaan Tanjungpura yang menjadi rebutan menyebut dari beberapa penemuan intan yang ada di Pulau Kalimantan, ada satu yang paling melegenda yaitu penemuan intan danau raja atau yang lebih dikenal dengan intan kobi.

Kemayau, Buah Unik Bercita Rasa Mentega Khas Kalimantan

Intan kobi ini ditemukan di sebuah tambang tertua di Landak pada masa itu. Intan ini kemudian di miliki oleh Keluarga Kerajaan Landak. Kemudian Putri Raja Landak yaitu Ratu Mas Jaintan menikah dengan Panembahan Giri Kesuma yang merupakan penguasa dari Kerajaan Tanjungpura.

Intan kobi yang menjadi pusaka kerajaan langsung tersohor sehingga membuat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1604 mendatangi kerajaan untuk melihat dan membeli intan kobi ini. Tetapi Inggris juga tidak mau ketinggalan dan mendirikan kantor dagangnya di daerah Matan.

Namun di tanah Jawa, Sultan Agung dari Kerajaan Mataram memiliki ambisi untuk menaklukan Nusantara sebagai upaya menghalau kolonial Belanda. Maka pada tahun 1622, Sultan Agung mengirim pasukan untuk menghancurkan Kerajaan Matan. Dengan 80,000 orang pasukan, Kerajaan Mataram berhasil menaklukan kerajaan ini dan menawan Ratu Mas Jaintan.

Setelah kematian Ratu Mas Jaintan, Sultan Agung mengembalikan jenazah sang ratu untuk dimakamkan di tanah kelahirannya. Sedangkan Intan Kobi dikembalikan sehingga namanya diubah menjadi intan danau raja.

Tetapi pada tahun 1700, pada masa pemerintahan Sultan Zainudin terjadi perselisihan antara kerajaan Landak dan Tanjungpura. Salah satu alasannya adalah menuntut untuk dikembalikannya intan kobi. Sehingga terjadi perang saudara antara Tanjungpura dan Kerajaan Landak.

Pada akhirnya antara kerajaan Landak dan Tanjungpura mengadakan perdamaian dan kembali menjalin hubungan kekeluargaan. Dua Meriam yaitu Kiai Sumi dan Ratu Desturi diserahkan oleh Kerajaan Tanjungpura sebagai tanda perdamaian.

Misteri intan danau raja yang menghilang

Intan danau raja kini menjadi simbol kedaulatan atau semacam jimat yang terkait dengan kekuasaan dan kekayaan dinasti yang menjaganya. Berlian intan kobi ini telah memengaruhi perjalanan panjang sejarah Kerajaan Tanjungpura dan Landak serta melibatkan banyak pihak saat itu.

Menurut Miftahul, intan danau raja tersebut memiliki berat 367 karat dengan kulaitas permata terbesar yang pernah ditemukan di Pulau Kalimantan saat itu. Intan danau raja merupakan berlian kualitas permata terbesar kedua yang ditemukan di dunia, setelah berlian Great Mogul yakni 787 karat yang ditemukan pada tahun 1650 masehi.

Intan danau raja memiliki kilau logam kebiruan, begitu juga dengan berlian dengan ukuran lebih kecil juga memiliki khas yang sama. Dijelaskannya, seandainya intan kobi tersebut sampai saat ini masih ada, maka ada kemungkinan hilangnya 50-60 persen dari berat kasar aslinya.

“Berlian intan kobi itu akan diubah menjadi berlian biru dengan berat setidaknya 120 karat yang pasti akan menjadi berlian biru yang terbesar di dunia saat ini,” ucapnya.

Data Danau Diperbarui, Kini Ada 5.807 Danau yang Tersebar di Indonesia

Sejak tahun 1738 masehi, Belanda telah mengekspor intan dan berlian senilai 200.000 hingga 300.000 dolar setiap tahunnya. Berlian yang diakusisi ini lalu diekspor ke Belanda, sehingga membantu meletakkan dasar pembangunan bagi pengembangan kota Amsterdam sebagai pusat perdagangan dan pemotongan berlian.

Belanda juga sangat tertarik untuk memperoleh berlian intan kobi, hal ini terlihat dari beberapa catatan tentang penawaran yang begitu menggoda namun ditolak. Tetapi kini keberadaan berlian legendaris ini mulai kabur dan sulit dilacak. Bahkan hingga saat ini, intan kobi tersebut masih menjadi misteri.

“Sebagian masih mempercayainya di sembunyikan oleh keluarga kerajaan pada masa itu di sebuah tempat yang hingga saat ini tidak dapat diketahui,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini