Barong Ider Bumi, Upacara Adat Masyarakat Osing untuk Menolak Bala

Barong Ider Bumi, Upacara Adat Masyarakat Osing untuk Menolak Bala
info gambar utama

Seperti suku bangsa lain yang ada di Indonesia, Suku Osing yang merupakan penduduk asli Banguwangi juga memiliki karakteristik unik. Mereka memiliki bahasa sehari-hari yang mendapatkan pengaruh dari bahasa Bali dan turunan langsung bahasa Jawa kuno.

Sering juga disebut sebagai orang Jawa Osing atau Wong Blambangan, suku yang satu ini dikenal dengan kesenian yang unik dengan unsur mistis. Misalnya, jaranan, janger, kendang kempung, kuntulan, tari barong, angklung caruk, jaran kincak, patrol, jedor, dan gandrung Banyuwangi.

Selain kesenian, masyarakat Suku Osing juga masih mempertahankan tradisi dan upacara adat yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Salah satunya adalah barong ider bumi sebagai upacara adat kepercayaan masyarakat Osing di Desa Kemiren untuk menolak bala, terhindar dari bencana, sarana silaturahmi antar masyarakat, sekaligus ungkapan rasa syukur atas berkah yang didapatkan.

Passiliran, Tradisi Suku Toraja Memakamkan Bayi di Batang Pohon

Sejarah Upacara Barong Ider Bumi dan Peristiwa Pageblug

Dalam mitologi Jawa dan Bali, barong atau barongan digambarkan memiliki penampilan dalam berbagai bentuk samaran binatang, seperti memiki kaki empat atau dua dengan kepala singa serta bersayap. Masyarakat Osing di Desa Kemiren meyakini barong sebagai penjaga desa dan dianggap sebagai wujud dari nilai-nilai kebaikan dan keadilan.

Upacara ider bumi sendiri diartikan sebagai kegiatan mengelilingi desa dan dipercaya sebagai ritual penyucian diri. Tradisi ini juga juga memiliki hubungan erat dengan keyakinan masyarakat akan keberadaan Danyang Dusun Kemiren yaitu Buyut Cili.

Buyut Cili merupakan mitos yang diceritakan turun-temurun dan selalu ada dalam kepercayaan masyarakat Osing. Keyakinan tersebut juga dijadikan pedoman hidup untuk selalu berbuat baik dan menjadi pengingat bahwa di luar sana ada kekuatan yang lebih besar.

Upacara ider bumi dimulai pada tahun 1800-an dan berawal dari sebuah peristiwa di Desa Kemiren. Saat itu, desa terserang pageblug atau blindeng, yaitu bencana yang terjadi tiba-tiba dan merupakan hal menakutkan bagi masyarakat. Peristiwa tersebut menyebabkan tanaman terserang hama hingga menyebabkan sebagian warga meninggal dunia.

Ketika pageblug terjadi, suasana mencekam pun menyelimuti Desa Kemiren. Kemudian, para sesepuh menginisiasi untuk melakukan ziarah ke makam Buyut Cili dengan harapan mendapatkan petunjuk cara mengatasi pageblug.

Konon, para sesepuh ini mendapatkan wangsit lewat mimpi setelah beberapa hari ziarah tersebut. Isi wangsit tersebut adalah isyarat bagi masyarakat Desa Kemiren untuk melakukan upcata selametan dan arak-arakan mengelilingi jalanan desa.

Tak lama, masyarakat menyelenggarapan upacara adat dari petunjuk tersebut dan pageblug pun hilang. Setelah itu, upacara adat ider bumi pun selalu dilakukan dari tahun ke tahun untuk melindungi masyarakat.

Menengok Tradisi Ziarah Kubur Masyarakat Adat Kampung Naga

Pelaksanaan upacara adat

Barong ider bumi biasa dilaksanakan setiap tanggal 2 Syawal dalam kalendar Islam, tepatnya hari ke dua Idul Fitri. Upacara adat ini dibuat begitu meriah, semacam karnaval dan melibatkan arak-arakan dari ujung timur hingga ke ujung barat Desa Kemiren.

Dalam pelaksanaannya, arak-arakan barong ini dimeriahkan oleh berbagai kesenian khas Banyuwangi. Akan ada sepasang pembawa umbul-umbul khas Desa Kemiren, seorang modin yang menaburkan sesajen, ibu-ibu yang menggendong bokor kuningan sesaji, pembawa tumpeng, dan pitik-pitikan atau ayam-ayaman yang berjalan sambil diiringi musik.

Kemudian, ada kelompok jebeng-tulik yaitu muda-mudi Osing yang memakai busana adat Banyuwangi, penari macan-macanan, kelompok jaran kecak, kelompok musik rebana, barong menari, dan kelompok musik kuntulan. Seluruh masyarakat dari anak-anak sampai sesepuh bersama-sama mengikuti upacara ini tanpa memandang status sosial.

Rangkaian upacara adat akan diawali dengan kegiatan bersih desa kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan barong dan diselingi oleh pertunjukkan kesenian. Arak-arakan barong sendiri menjadi simbol untuk mengusir kejahatan, hawa nafsu, dan segala keburukan yang dapat menghalangi datangnya keberuntungan dan kemakmuran bagi warga desa.

Sepanjang perjalanan arak-arakan juga akan dibacakan macapan atau tembang Jawa Kuno yang merupakan bentuk doa kepada Tuhan dan roh nenek moyang.

Pada akhir acara akan dilakuakn ritual sembur uthik-uthik yaitu saweran uang koin yang sudah dicampur beras kuning dan bunga. Uang koin akan ditebar di sepanjang jalan desa sebagai lambang rasa syukur atas rezeki yang berlimpah. Sebagai penutupan, akan digelar acara makan bersama dengan menu khas Osing yaitu pecel pithik.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini