Pulau Rambut, Surga bagi Burung-Burung Air Langka di Dunia

Pulau Rambut, Surga bagi Burung-Burung Air Langka di Dunia
info gambar utama

Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) turut melaksanakan kegiatan Sensus Burung Air atau Asian Waterbird Census (AWC) 2022 yang digelar di berbagai negara di Benua Asia dan Australia tiap tahun.

Program ini melibatkan anggota organisasi non-pemerintah (NGO) Burung Indonesia, Yayasan Lahan Basah dan masyarakat umum yang dilaksanakan di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Sabtu (29/1/2022).

"AWC adalah kegiatan citizen science yang dilakukan di lokasi-lokasi basah untuk melakukan perhitungan burung air penetap dan burung air migran," ungkap Achmad Ridha Junaid yang menjabat sebagai Biodiversity Conservation Officer, Burung Indonesia.

Kegiatan ini sendiri telah dilakukan sejak tahun 2017, tetapi karena pandemi, pada tahun 2021 kegiatan ini urung dilakukan. Pada tahun ini mereka pun kembali melaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat.

Menurut Ridha, pengamatan ini juga dilakukan sebagai upaya agar masyarakat memiliki alternatif untuk melestarikan burung. Masyarakat bisa melakukan pengamatan langsung tidak hanya memeliharanya.

"Selain melakukan perhitungan, para peserta AWC nantinya akan belajar tentang habitat dan ancaman yang sedang terjadi kepada burung dan habitatnya," jelasnya.

Dari pengamatan ini, Burung Indonesia mendapatkan banyak spesies yang baru mereka lihat. Walau begitu banyak juga burung yang tidak mereka temukan pada kegiatan kali ini.

Cenderawasih, Burung Surga yang Tak Pernah Turun ke Bumi

Beberapa burung seperti ibis rokoroko, beberapa jenis bangau dan dua jenis cikalang tidak ditemukan. Padahal dalam database yang mereka miliki spesies ini pernah ditemukan.

Bedasarkan data yang ada, spesies burung di Pulau Rambut juga mengalami peningkatan yang cukup bagus. Hal ini terlihat dari jumlah spesies yang ditemukan semakin bertambah.

Tercatat sudah ada 100 lebih spesies secara keseluruhan yang ditemukan. Selanjutnya dari data ini akan dikompilasikan oleh ACW yang nanti akan digabungkan dengan belahan dunia lainnya.

Sementara itu dipilihnya Pulau Rambut karena menjadi salah satu dari 228 daerah penting bagi burung dan keragaman hayati di Indonesia, juga kewasan penting bagi pelestarian dan fungsi lahan basah di dunia.

Pulau yang bersebelahan dengan Pulau Untung Jawa ini juga menjadi tempat singgah bagi burung migran asal Pulau Christmas, Australia, yakni cikalang christmas yang berstatus kritis oleh Badan Konservasi Dunia atau International Union For Concervation of Nature (IUCN).

Selain itu, pulau yang memiliki luas 45 hektare ini juga menjadi tempat berkembang biak bagi salah satu burung yang sangat langka, yakni bangau bluwok. IUCN menetapkan burung ini memiliki status genting.

Diperkirakan, populasi bangau bluwok secara global berjumlah sekitar 1.500 induvidu, sekitar 100 induvidu di antaranya dapat dijumpai di Pulau Rambut.

"Pulau ini secara umum memiliki peranan penting dari sekian persen populasi global dari spesies burung yang akan punah," tegasnya.

Burung di Pulau Rambut

GNFI berkesempatan untuk mengikuti kegiatan AWC bersama Burung Indonesia di Pulau Rambut. Kegiatan ini diawali dengan menaiki kapal yang melintasi perairan Tanjung Pasir.

Ketika melintasi perairan ini, tim bisa melihat burung cikalang yang bertengger di sekitar perairan. Burung ini termasuk kritis (CR/Critically Endangered) berdasarkan IUCN.

Di Indonesia sendiri hanya terdapat tiga jenis cikalang, yaitu cikalang christmas, cikalang besar, dan cikalang kecil. Burung ini digambarkan sebagai perompak laut, karena sering mengambil ikan dari burung lain.

Setelah melihat atraksi dari cikalang, tim lalu sampai di Pulau Rambut yang ketika itu airnya begitu jernih. Tim yang datang pun disambut dengan suara kicau burung yang begitu indah.

Setelah beristirahat, tim lalu dibagi beberapa kelompok untuk melihat suasana burung. Tim ini juga bertugas mensurvei jumlah burung yang ada di Pulau Rambut.

5 Burung Cantik Asli Indonesia yang Sudah Mulai Langka

GNFI juga berkesempatan untuk mengamati para burung yang sedang berkegiatan di nesting ground. Di sana terlihat dengan jelas populasi burung-burung yang ada di Pulau Rambut dari atas ketinggian.

Beberapa burung seperti pucukupadi hitam, cangak abu, kokoan laut, kuntul kerbau, dan bangau bluwok. Selain itu ada juga beberapa biawak yang sedang menunggu santapan.

Setelah itu tim bergeser ke menara sebagai tempat selanjutnya untuk memantau burung. Menara ini memiliki ketinggian 15 meter dan telah dibangun sejak tahun 1983.

Tentunya keindahan yang tidak bisa dibayar bila dibandingkan dengan beragam suara burung yang ada di sangkar. Di sini memang burung dapat beterbangan dengan bebas mengikuti nalurinya sebagai penjelajah udara.

Pulau Rambut dan sejarah perlindungan alam

Pulau Rambut merupakan satu di antara 108 gugus pulau yang terdapat di perairan Kepulauan Seribu, sebuah kabupaten di Teluk Jakarta, dan menjadi bagian dari Provinsi DKI Jakarta.

Pulau Rambut merupakan kawasan konservasi seluas 90 hektare, yaitu 45 ha berupa daratan dan sisanya adalah perairan dengan keindahan terumbu karang alami dan koleksi ikan-ikan hias aneka warna.

Pulau ini lokasinya berdekatan dengan Untung Jawa, pulau berpenduduk terbanyak di Kabupaten Kepulauan Seribu. Hanya perlu perjalanan sekitar 10 menit memakai perahu motor kayu dari Untung Jawa menuju Pulau Rambut.

Sementara itu bila melalui Pantai Marina Ancol, Pantai Kamal, atau Muara Angke, ketiganya di Jakarta Utara, butuh waktu 40-90 menit. Sedangkan bila melalui dermaga Tanjung Pasir, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, Banten, dengan lama perjalanan antara 25--30 menit.

40 Ekor Jalak Bali Dilepasliarkan dari Bali Safari Park

Pengelola di Pulau Rambut, Warsa Jaya menyebut status sebagai kawasan konservasi dilakukan pertama kali pada tahun 1937. Ini berawal dari usulan Direktur Kebun Raya Bogor kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Jakarta, setahun sebelumnya.

Wangsa menjelaskan bahwa pada awal penetapannya sebagai cagar alam, luas Pulau Rambut tak lebih dari 20 ha. Tetapi dalam perjalanannya kondisi dan vegetasi Pulau Rambut yang merupakan tiga tipe ekosistem hutan yaitu hutan mangrove, hutan pantai, dan hutan sekunder campuran, mengalami banyak perubahan.

Pencemaran lingkungan di sekitar daratan dan perairan pulau akibat tumpahan minyak serta aneka sampah yang terseret oleh gelombang laut mengancam ekosistem di dalamnya.

Sebagian tanaman di hutan mangrove seperti bakau (Rhizophora mucronata), pasir-pasir (Ceriops tagal), dan bola-bola (Xylocarpus granatum) banyak yang mati. Akibatnya, selain menimbulkan aberasi karena tidak ada penahan ombak alami pascakematian pohon-pohon di hutan mangrove, luas daratan pulau juga menciut.

Di luar itu, kematian pohon-pohon ekosistem mangrove menjadi ancaman bagi habitat burung-burung yang menjadikan puncak pohon sebagai rumah mereka.

Oleh karena itu, demi menyelamatkan kondisi dan potensi Pulau Rambut, pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan nomor 275/Kpts-II/1999 tertanggal 7 Mei 1999. Melalui surat keputusan tersebut, Pulau Rambut diubah statusnya dari semula sebuah cagar alam menjadi kawasan suaka margasatwa.

Menurutnya ada kurang lebih 50 jenis burung di Pulau Rambut. Sementara ada beberapa burung yang dilindungi seperti bangau bluwok, cikalang, pecuk ular dan beberapa burung kicau yang dilindungi.

Pulau Rambut menjadi favorit burung karena banyaknya pepohonan di daratan dan rapatnya hutan mangrove di tepi perairan. Sehingga membuat banyak ikan berdatangan dan menjadi sumber makanan burung-burung.

Walau menjadi surga burung di wilayah Indonesia. Tidak semua orang bisa datang untuk menikmati kicauan burung di wilayah ini.

Karena bila banyak kunjungan yang datang, akan membuat burung merasa terganggu. Itulah yang membuat perizinan untuk ke pulau ini tidak dibuka untuk umum.

"Bila kunjungan banyak, maka burung itu akan pindah tempat, karena itu pihak pemerintah membatasi pengunjung agar tetap terjaga habitatnya supaya burung tidak terganggu," ucap Warsa.

Menurut Warsa selama pandemi, kunjungan ke Pulau Rambut telah dibatasi 50 persen. Biasanya kunjungan sampai 50 sampai 100 orang. Tetapi sekarang hanya diperbolehkan 25 sampai 50 orang.

Dari catatan sejak Januari sudah ada 100 orang yang mengunjungi Pulau Rambut dari 19 lembaga. Sejak Januari telah ada peneliti LIPI, IPB, ITB dalam rangka penelitian dan observasi burung di pulau ini.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini