Nusa Khatulistiwa, Motor Listrik Garapan Lokal dengan Klaim Tercepat di Asia Tenggara

Nusa Khatulistiwa, Motor Listrik Garapan Lokal dengan Klaim Tercepat di Asia Tenggara
info gambar utama

Di tengah semakin gencarnya kemunculan berbagai macam inovasi kendaraan listrik (EV) terutama yang berjenis sepeda motor, harus diakui jika selama ini berbagai bentuk produk atau karya EV yang banyak terungkap ke publik justru berasal dari tangan-tangan para komunitas atau industri kecil. Bahkan, ada juga yang digarap oleh kalangan kelompok mahasiswa.

Meski bukan kali pertama, belakangan kabar mengenai kehadiran motor listrik yang digarap secara lokal oleh inovator dalam negeri kembali muncul. Sedikit berbeda dibanding motor listrik sebelumnya yang hadir dengan ukuran lebih kecil atau bahkan spesifikasi inti berupa kecepatan standar, yang berada di kisaran 40-80 km/jam, motor listrik kali ini menawarkan experience yang bisa dibilang berbeda baik dari segi tampilan dan kecepatan.

Adalah Nusa Khatulistiwa, motor listrik dengan wujud kekar yang dihadirkan oleh Nusa Motors yang berbasis di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Seperti apa detail dari inovasi motor listrik yang dihadirkan kali ini?

Mengintip Inovasi Motor Listrik Berbekal IoT Garapan Mahasiswa UII Yogyakarta

Motor listrik di segmen sport

Motor listrik Nusa Khatulistiwa
info gambar

Jika dilihat secara seksama, Nusa Khatulistiwa yang dilabeli sebagai lini K Series oleh Nusa Motors sendiri memang mengusung bodi gagah atau moge alias motor gede layaknya KTM Super Duke. Karena desain tersebut pula, pihak pengembang mengonfirmasi jika motor Nusa Khatulistiwa memang menyasar segmen motor sport.

Mengutip Autofun, diketahui jika proses pengembangan sampai dengan motor Nusa Khatulistiwa dapat rampung hingga menjadi produk yang utuh seperti saat ini memakan waktu hingga dua tahun.

Sementara itu jika membahas mengenai spesfikasi lebih detail, motor listrik berbodi kekar tersebut dihadirkan dalam dua versi yaitu varian Basic yang memiliki kecepatan maksimal mencapai 150 km/jam, dan varian TooFast yang dapat dipacu hingga kecepatan 200 km/jam.

Dengan kecepatan itu pula, Nusa Khatulistiwa diklaim sebagai motor listrik tercepat yang ada di kawasan Asia Tenggara untuk saat ini.

Membahas mengenai baterai, permesinan yang tersemat pada varian Basic didukung baterai lithium-ion cell 10 kWh dan mampu menyelesaikan jarak tempuh hingga 180 kilometer dalam sekali pengisian daya. Sementara itu varian TooFast dibekali baterai lithium-ion cell 14 kWh yang membuatnya sanggup dipakai berkendara hingga jarak 250 kilometer dalam sekali pengisian daya.

Di dalam proses penggarapan, pihak Nusa Motors menyatakan bahwa mereka sepenuhnya mempekerjakan tenaga kerja dalam negeri. Meski di saat bersamaan, mereka juga tak menampik jika baterai dan motor penggerak menjadi komponen terbesar yang saat ini masih mengandalkan keran impor.

Walau begitu, Nusa Motors menyatakan jika pihaknya akan memfokuskan agar berbagai komponen terutama sasis dan lain sebagainya dapat semakin ditingkatkan dari segi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

Masuk ke bagian yang paling menyita perhatian yakni harga, motor berspesifikasi kecepatan tinggi ini dibanderol dengan harga mulai Rp140 juta untuk varian Basic, dan Rp180 juta untuk varian TooFast.

Kabarnya, pemesanan untuk motor listrik yang menyasar pasar premium ini sudah bisa dilakukan mulai bulan Februari 2022. Keputusan tersebut diambil karena menurut pengamatan pasar, untuk saat ini memang belum ada pemain besar yang masuk ke ranah kendaraan berupa motor listrik premium dengan kecepatan tinggi di kawasan Asia Tenggara.

"Kami lebih memilih untuk membuat pasar niche di kategori premium seperti Tesla, tetapi kendaraan roda dua," terang pihak Nusa Motors, menukil Tempo.

Garap Inovasi EV, Niko Questera: Fokus Kita Membuat Orang Kenal Motor Listrik dengan Baik

Pikul harapan untuk industri otomotif listrik

Sekadar informasi, Nusa Motors sendiri nyatanya merupakan usaha otomotif yang didirikan secara bersama oleh Domex Mandey dan Tomi Gunawan. Meski tak memiliki pengalaman di industri otomtif, Domex sendiri dikenal memiliki pengalaman di industri teknologi selama 20 tahun, dan menjadi bagian yang tak kalah penting dari kehadiran suatu inovasi motor listrik.

Berbeda dengan Domex, Tomi Gunawan lebih dikenal sebagai sosok yang cukup berpengalaman di industri otomotif tanah air selama kurun waktu yang sama, terlebih lewat kepemilikannya atas bengkel Tomi Airbush, yang biasa melayani sejumlah kalangan pemilik deretan mobil mewah di kelas supercar dan hypercar.

“Industri otomotif berada di puncak perubahan besar yang mengandalkan penggerak listrik. Kami percaya bukan hanya produk dan teknologi yang harus berubah, tetapi bagaimana orang menggunakan produk ini dan seluruh pengalaman mengendara yang berbeda,” ujar Tomi, dalam Berita Satu.

Lain itu, Domex juga meyakini jika Nusa Motors yang mereka bangun akan menjadi titik baru bagi industri otomotif di tanah air. Menariknya, nama Nusa sendiri dipilih karena kedua pendirinya ingin merek tersebut dikenal sebagai merek Indonesia, sebagaimana nama Nusa yang memang mengandung makna tanah air.

“Nusa kami bangun untuk menjadikan suatu titik baru dari industri otomotif yang didirikan oleh dua anak bangsa Indonesia untuk menjelajahi dunia,” pungkas Domex.

Ambisi dan Tantangan Besar Indonesia dan Thailand Menjadi Pusat Kendaraan Listrik ASEAN

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini