Garap Inovasi EV, Niko Questera: Fokus Kita Membuat Orang Kenal Motor Listrik dengan Baik

Garap Inovasi EV, Niko Questera: Fokus Kita Membuat Orang Kenal Motor Listrik dengan Baik
info gambar utama

"Mengubah mindset orang yang sudah pakai motor (konvensional) puluhan tahun atau belasan tahun untuk berpindah menggunakan kendaraan listrik itu jauh lebih susah dibandingkan orang yang bahkan belum pakai sepeda sekalipun, itu jauh lebih gampang."

---

Industri kendaraan listrik berjenis motor yang digeluti oleh penggarap lokal semakin ramai. Belakangan, salah satu perusahaan yang menghadirkan kendaraan listrik dengan wujud motor mini mencuri perhatian karena menghadirkan konsep berbeda, yakni Quest Motors.

Berbeda dengan kehadiran kendaraan listrik yang langsung menyasar segmen transportasi massal dan bisa digunakan di jalan besar, kendaraan listrik milik Quest Motors yang diberi nama Atom Alpha v1 justru diperuntukkan bagi penggunaan ringan, dan mengedepankan prinsip untuk memperkenalkan kendaraan listrik dengan baik ke berbagai kalangan.

Niko Questera, sebagai pendiri dari Quest Motors sendiri tak dimungkiri menjadi sosok yang paling menyita perhatian, karena dirinya diketahui pernah menjadi bagian dari perusahaan kendaraan listrik terbesar di dunia, yakni Tesla.

Menariknya, Niko yang selama bekerja di Tesla berperan sebagai Senior Firmware Integration Engineer, ternyata sempat berada di masa jenuh dan sempat vakum dari dunia otomotif selama dua tahun, sebelum akhirnya kembali dan mendirikan perusahaan pembuat kendaraan listriknya sendiri di tanah air.

Pada Selasa (18/1/2022), GNFI berkesempatan untuk berbincang bersama Niko mengenai pembentukan Quest Motors dan prinsip pengembangan dari kendaraan listrik yang dihadirkan. Berikut rangkuman pembicaraannya.

Indonesia 2050: Kendaraan Listrik, dan Ambisi Besar Nol Emisi Karbon

Hal apa yang mendorong pembentukan Quest Motors setelah berhenti dari Tesla dan sempat vakum di bidang otomotif terutama EV?

Berhenti dari Tesla waktu itu sebenarnya dilatarbelakangi kondisi saya yang burn out, dan saya bukan tipe orang yang suka pergi ke psikiatris atau melakukan pengobatan untuk menyelesaikan apa yang saya alami pada saat itu.

Alternatifnya saya memilih mencoba dan bergabung dengan ajakan teman di bidang baru untuk menggarap startup Human Resources, tapi setelah dijalani ternyata ada beberapa hal yang menyentil dan menyadarkan kalau saya engga bisa kontribusi banyak.

Beberapa hal yang menurut saya sensitif salah satunya adalah kepuasan bekerja, awalnya saya kira bidang yang dijalani itu bisa sesuai dengan apa yang saya suka dan memberikan kontribusi, tapi ternyata kenyataannya engga sejalan dengan berbagai hal yang saya punya mulai dari latar belakang pendidikan, skill, dan mimpi saya.

Di titik itu saya menyadari kalau saat sebelumnya berhenti karena burn out di Tesla, itu bukan semata-mata karena saya benci bidang otomotif, tapi memang saat itu ternyata saya engga bisa mengontrol diri sendiri untuk bekerja dan menikmati hidup secara lebih balance.

Hal itu akhirnya dijadikan prinsip untuk merintis dan mengembangkan Quest. Karena sebelumnya di Tesla saya asal kerja serabutan yang penting sibuk, meskipun saya engga menyesal pernah menjalani masa itu tapi kalau dilihat-lihat ternyata engga ada kemajuan dan kontribusi untuk keseimbangan hidup saya, di Quest Motors ini akhirnya semua lebih terukur, lebih seimbang, dalam setahun Puji Tuhan terlihat sesuatu untuk perkembangan diri saya sendiri.

Seperti apa konsep EV yang sebenarnya dihadirkan oleh Quest Motors?

Kita buat Atom Alpha v1 sebenarnya sesederhana saya tidak mau membatasi penggunaan motor listrik hanya kepada pemilik sim C, karena saya rasa motor listrik di Indonesia itu salah satu kendaraan yang mungkin bisa menjadi penetrasi utama bagi masyarakat untuk mengenal lebih lanjut tentang kendaraan listrik.

Zaman sekarang orang kita siapa yang mau beli mobil merek atau buatan Indonesia, apalagi brand-nya baru tapi harganya ratusan juta, jadi kalau saya langsung mencoba penetrasi di jenis itu jelas tidak akan mampu.

Atau mungkin muncul pertanyaan kenapa tidak memunculkan EV yang jenisnya lebih umum seperti sepeda listrik? Saya sebenarnya engga terlalu setuju dengan konsep sepeda listrik, karena naik sepeda harusnya itu keringetan, kalau sepeda sudah dibantu dengan mesin atau robot ya apa gunanya, mending naik motor sekalian.

Kenapa dihadirkan Alpha v1 yang punya bentuk sekecil itu dan kita sebut mini motor listrik, fokus kita membuat orang mengenal motor listrik dengan baik yang akan jadi budaya di tahun 2030, mereka ingin tahu soal itu tapi mereka belum berani atau yakin untuk beli karena berbagai macam alasan.

Jadi kita menggunakan konsep desain sederhana supaya orang-orang tertarik untuk mencoba, dan lebih affordable juga. Jadi sasaran yang dimiliki oleh Alpha v1 ini memang bukan orang-orang yang sudah punya minat atau ketertarikan terhadap motor, tapi justru mengarah ke orang-orang yang bukan pemotor, supaya suatu hari dia bisa mengajak kerabatnya untuk coba dan pindah ke motor listrik.

Karena untuk mengubah mindset orang yang sudah pakai motor puluhan tahun atau belasan tahun untuk berpindah menggunakan kendaraan listrik itu jauh lebih susah dibandingkan orang yang bahkan belum pakai sepeda sekalipun, itu jauh lebih gampang.

Untuk tim sendiri, ada berapa banyak orang terlibat dalam Quest Motors saat ini?

Untuk tim hanya ada 10 orang, kita mulai dari bulan Januari (2021) awalnya hanya berlima, lalu pelan-pelan ke arah produksi dan menambah beberapa orang. Kalau ditanya apakah perusahaan otomotif hanya punya 10 orang tentunya pasti kurang, tapi untuk sekarang memang kondisi dan jumlah tim yang dimiliki masih berjalan sesuai kapasitas.

Karena saat ini fokus kita lebih ke experience yang belum pernah orang lihat sebelunya, experience mempunyai, membeli, dan buat jadi unik. Jadi untuk saat ini memang kita lebih fokus ke pengenalan produk dan branding, bukan ke penjualan.

Mobil Listrik Buatan Lokal Siap Melantai di KTT G20

Berapa lama dan bagaimana proses penggarapan mulai dari R&D sampai dipasarkan ke publik?

Kurang lebih totalnya itu sekitar sembilan bulan sampai kita menawarkan ke publik untuk dibeli. Dimulai dari bulan Desember 2020 kita mulai bahas konsep yang memakan waktu sekitar tiga bulan, sudah mewakili sketching dan sebagainya.

Sedangkan untuk market riset memang sedikit minim karena tujuan utama kita bukan untuk melakukan replacement atau dalam artian bukan untuk membuat orang pergi dari motor konvensional. Yang ingin kita lakukan adalah perkenalan dan edukasi dulu bahwa kendaraan listrik bisa menjadi opsi yang cukup baik ke depannya.

Setelah itu baru kita loncat ke masa tiga bulan yang kedua, di situ sudah mulai menggarap prototipe di mana gagal sekitar lima sampai enam kali. Baru di bulan Juli dan Agustus kita lakukan soft launch, itu pun engga ada event-event yang bagaimana, tapi sebatas di media sosial kita publish kalau Alpha v1 sudah bisa di pre-order.

Dalam kurun waktu pre-order itu, selama tiga bulan juga sambil mempersiapkan manufaktur dan vendor sampai akhirnya di bulan November 2021 melakukan pengiriman 30 unit pertama ke konsumen.

Proses pembuatan satu unit motor memakan waktu berapa lama, dan berapa orang yang terlibat?

Dalam satu bulan kita mampu buat sekitar 30-50 unit kapasitasnya, berarti dalam satu hari bisa satu unit atau lebih dari itu. Yang merakit di bengkel atau lapangan langsung itu empat orang, dua bagian mekanik dan dua bagian elektronik.

Komponen yang digunakan menggunakan material lokal atau ada yang diimpor?

Kalau hitungan kalkulasi kita mengenai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) itu sekitar 70 persen. Untuk baterai kita membeli cell dari luar, tapi untuk perakitan menjadi baterai pack dan pengintegrasian dengan komputer baterai itu terjadi di Bandung.

Dinamo dan controller kita masih mendatangkan dari luar, sisanya untuk frame, jok kulit, ban, ban dalam, setang, semuanya sudah dari lokal.

Mengintip Motor Listrik ''Wayang'' Buatan Tangerang

Seperti apa spesifikasi Alpha v1 secara detail?

Untuk spesifikasi utama memang ada beberapa yang dibedakan tapi lebih ke kapasitas baterainya. Jadi dari yang paling murah di Rp12,9 juta untuk menempuh jarak sekitar 8 kilometer dalam satu kali cas, yang termahal ada di Rp16,9 juta untuk menempuk jarak 24 kilometer sekali cas.

Kemudian ada juga yang populer di tengah-tengah, bisa menempuh jarak 16 kilometer di harga Rp14,9 juta. Untuk durasi cas sendiri sekitar 2,5-3,5 jam dan tegangan yang dibutuhkan kecil sekali hanya 200 watt, lebih kecil daripada microwave dan bisa dicolok di mana saja. Untuk sisi performa, kecepatannya bisa mencapai 40 kilometer per jam.

Soal bobot sekitar 36-38 kilogram, dan daya angkut penumpang maksimal bisa sebesar 100-110 kilogram, untuk tinggi karena kita sebenarnya memang dipersiapkan untuk para remaja tapi sebenarnya bisa dinaiki oleh orang yang tingginya mencapai 180 sentimeter, jadi sebenarnya limit untuk ketinggian itu engga ada.

Cuma memang kendalanya ketika bagian setang akan menabrak paha bagi mereka yang tinggi, sebagai gambaran saya dengan tinggi 178 sentimeter ketika pemakaian masih dibilang cukup nyaman.

Bagaimana dengan layanan purna jual? Setelah pengiriman 30 unit kemarin apa ada kendala yang disampaikan konsumen?

Pasti ada, setelah pengiriman kemarin memang ada banyak masukan atau beberapa hal yang mungkin kelupaan bagi mereka. Kebetulan yang menangani itu saya sendiri, jadi sekitar satu sampai dua bulan saya coba keliling ke 30 kendaraan tersebut sekalian kenalan dengan pengguna dan pembeli.

Contoh masalahnya yang disampaikan sejauh ini ada beberapa keluhan yang mengatakan motornya terlalu kencang, terlalu pelan juga ada, ada yang bilang bisa sampai 45 kilometer tapi di sisi lain ada yang pelan banget.

Hal-hal seperti itu akhirnya memang harus ditangani dengan saya datang sendiri dan melakukan revisi ulang ke software-nya si motor dengan menggunakan koneksi ke laptop.

Kalau hal-hal mekanikal lain biasanya seperti rem terlalu pakem, baut yang kendor dan sebagainya, tapi sudah ditangani dengan baik.

Ketika Vespa Klasik Berubah Jadi Skuter Listrik

Prinsip atau konsep apa yang dibawa dari selama bekerja di Tesla dan diterapkan dalam mengembangkan Quest Motors terutama menggarap Atom Alpha?

Secara garis besar ada dua segi mungkin ya, pertama dari segi leadership dan produk. Kalau dari segi leadership itu dibagi lagi jadi tiga hal, yang pertama fokus dalam artian terkadang orang lebih sulit mengurangi dan membedakan mana yang noice (gangguan) dan mana yang good signal.

Yang kedua adalah kondisi permasalahan leader yang tidak memberikan timnya kesempatan untuk berkarya, karena di Tesla semua orang harus berani untuk mencoba, sebagian besar di sini kan masih kental kultur ‘takut’, jadi takut bereksperimen, takut dimarahi bos, takut dipecat, dan sebagainya, itu yang saya ingin kurangi.

Lalu ketiga lebih bersifat impact, maksudnya bagaimana membuat perusahaan yang tujuan utamanya memang originalitas dan memberikan dampak sosial ke orang yang bekerja dengan kita. Dalam artian orang yang bekerja dengan kita memang harus bisa lebih pintar, berbeda dengan sistem misal buruh yang bekerja untuk perusahaan otomotif luar.

Jadi kita engga semata-mata seperti perusahaan otomotif luar datang ke sini bawa gambar kerja lalu meminta tenaga dari orang kita untuk membuat produk tersebut sebanyak misal satu juta unit. Kalau ditanya apakah orang kita tahu maksud dan cara dari pembuatan produk yang mereka kerjakan tujuan dan fungsinya seperti apa? Belum tentu.

Jadi saya ingin memberi inspirasi bahwa kita itu tidak selalu harus jadi negara buruh, tenaga yang bekerja di kita juga bisa dan harus punya ilmu serta pemahaman yang baik soal apa yang mereka buat.

Sementara kalau dari sisi produk prinsip yang terus dipegang adalah untuk melahirkan ide harus berani mengambil risiko, jadi bukan semata-mata mengikuti tren pasar seperti wujud motor listrik ini tapi belum tentu akhirnya menghasilkan produk yang terbaik.

Prinsipnya dalam menghasilkan ide atau inovasi itu bukan hanya mengedepankan inovasi yang berbeda, karena berbeda itu belum tentu jadi yang terbaik. Tapi kalau kita menghasilkan produk yang terbaik biasanya pasti membuat apa yang kita punya jadi berbeda.

Hal lain adalah soal self reliance atau kemandirian, selama ini Tesla dikenal sebagai perusahaan yang terlalu control freak karena mau semua komponennya dibuat sendiri, tapi ternyata hal itu juga yang bikin selama ini banyak banget orang-orang Tesla suka diambil kompetitor.

Karena banyak pihak yang engga mau mengakui dan melakukan R&D seperti yang dilakukan Tesla, pikirannya R&D itu mahal dan buang waktu, akhirnya mereka mau ngambil jalan gampang atau shortcut dengan cara mengambil orang Tesla.

Dan itu menjadi salah satu hal yang harus diakui masih dialami di Indonesia, ibaratnya benci untuk R&D dan enggan mencoba karena seringnya gagal, paling enak itu ya potong jalan. Itu juga yang ingin coba saya kembangkan, bahwa sebenarnya eksprimen itu engga harus mengerikan dan engga harus lama.

Bagaimana tanggapan mengenai penggarapan kendaraan listrik berjenis motor di Indonesia yang banyak dibuat oleh komunitas atau bengkel skala kecil?

Justru segala sesuatu pada dasarnya memang harus dimulai dari hal yang kecil dulu, itu proses yang mungkin belum tentu bisa dihargain oleh perusahaan besar. Perusahaan atau bengkel kecil katakanlah yang menggarap kendaraan atau motor listrik di Indonesia ini ibaratnya udah nothing to loose.

Ibaratnya laku engga laku atau gagal paling nyesel atau nangis, hal itu kan yang engga bisa dilakukan perusahaan besar. Jadi ya bagus ada brand-brand kecil ini, yang penting gimana caranya kita yakin supaya yang kecil-kecil ini bisa dilihat sama perusahaan besar dan engga menutup kemungkinan untuk bekerja sama atau mungkin dicaplok untuk membantu penggarapan produk di perusahaan besar.

Ke depannya apa Quest Motors sudah punya rencana untuk menghadirkan motor listrik yang benar-benar bisa dipakai untuk mobilitas sehari-hari?

Memang nanti ada rencana ke sana bertahap, tapi untuk saat ini saya engga merasa nyaman karena belum cukup mahir untuk membuat suatu motor yang akan dipakai oleh jutaan orang, apalagi untuk dipakai ke jalan-jalan besar.

Hadirnya Atom Alpha v1 yang cukup sederhana karena mengincar lapangan untuk bisa belajar dan penggunanya adalah hobbies yang memang suka dan terkoneksi layaknya teman, jadi ketika ada masalah yang memang saya engga bermaksud untuk melakukan, pasarnya akan bersifat memaafkan dan lebih mendukung untuk memberikan masukan-masukan.

Berbeda kalau langsung masuk ke pasar yang sifatnya massal, akan mempengaruhi tangki optimis kita ibaratnya, karena optimis itu satu-satunya modal kita untuk terus berjuang, kalau itu habis biasanya engga berlangsung dengan baik.

Mengintip Inovasi Motor Listrik Berbekal IoT Garapan Mahasiswa UII Yogyakarta

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini