Kolaborasi Multi-Stakeholder Penuhi Kebutuhan Talenta Digital

Kolaborasi Multi-Stakeholder Penuhi Kebutuhan Talenta Digital
info gambar utama

Dari total 270 juta penduduk Indonesia, terbilang masih relatif sedikit yang memiliki kecakapan digitalisasi. Oleh karenanya, Presiden Joko Widodo berinisiatif mendorong peningkatan sumber daya manusia, khususnya talenta digital, sebagai kunci akselerasi transformasi digital nasional. Hingga 2030 mendatang, targetnya akan lahir 9 juta talenta digital.

Sejalan dengan itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) begitu mendukung dengan program peningkatan kualitas dan kapasitas SDM agar mampu memanfaatkan infrastruktur yang tersedia. Program pelatihan akan mengenalkan keterampilan literasi digital dalam berbagai tingkatan, mulai dari tingkat dasar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD), tingkat menengah Program Digital Talent Scholarship (DTS), dan tingkat atas Program Digital Leadership Academy (DLA). Menurut Johnny G. Plate selaku Menteri Kominfo, pihaknya akan menargetkan 12,5 juta peserta pada 2022.

Dalam mencapai target luar biasa itu, pemerintah tentu tidak bisa sendirian. Pemerintah ingin memperluas kolaborasi dan kerja sama dengan para multi-stakeholder dari kementerian, lembaga, swasta, akademisi, dan ekosistem lainnya di Indonesia.

Webinar DTXID 2022 - Session 3 © DTXID 2022
info gambar
Menilik Perkembangan Digital Marketing di Indonesia serta Tren Masa Kini

Konsep team of teams tingkatkan pelayanan publik

Antisipasi perkembangan zaman, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat telah memulai mekanisme kerja baru. Mereka menyederhakan birokrasi guna meningkatkan kualitas pelayanan dan memudahkan masyarakat. Bahkan, negara maju di dunia sudah membuktikan strategi ini efektif membuat kinerja pemerintahan lebih cepat.

Penataan berkonsep Team of Teams (ToT’s) ditindaklanjuti dengan pengoptimalan struktur organisasi untuk menciptakan organisasi pemerintahan yang lebih agile. Prioritas lainnya, penyetaraan jabatan administrasi ke dalam jabatan fungsional berbasis keahlian. Terhitung sudah ada 7.334 fungsional di lingkup Pemprov Jabar.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Setiawan Wangsaatmadja dalam acara Digital Transformation Virtual Expo (DTXID) 2022 berharap, mekanisme ToT’s berbasis penugasan tim dalam organisasi ataupun lintas organisasi akan membentuk mind set, skill set, dan culture set, yang agile dalam organisasi pemerintah.

CEO Good News From Indonesia Wahyu Aji (kiri) sebagai moderator dan Sekda Pemprov Jawa Barat Setiawan Wangsaatmadja (kanan) sebagai narasumber © DTXID 2022
info gambar

Pemprov Jabar sudah melalui perjalanan dengan struktur organisasi tradisional dan organisasi agile. Kini, mereka telah mengadopsi organisasi design centric, meski pegawai bekerja sesuai jabatan fungsionalnya, mereka tetap bisa saling bantu saat bertugas.

Menurut penuturan Iwan, mereka memiliki Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) yang akan mengukur indikator keberhasilan mekanismenya, ia mengatakan, “Setelah melihat sistem penilaian kinerja otomatis, kami akan mengevaluasi organisasi atau sumber daya manusianya. Apabila ada masalah dalam hal sumber daya manusianya, kami akan memperkuatnya.”

UMKM Bersaing di Era Transformasi Digital, Kenapa Tidak?

Peran Kominfo dukung transformasi digital

Data Google, Temasek, dan Bain & Company pada 2020 menunjukkan, Indonesia memiliki perkembangan ekonomi internet terbesar dan tercepat di kawasan. Kepala Badan Litbang SDM Kominfo Hary Budiarto menuturkan, “Melihat potensi digital tersebut, Menteri Kominfo membuat Roadmap Indonesia Digital 2021-2024 untuk melaksanakan akselerasi transformasi digital sesuai arahan pemerintah. Kami bertanggung jawab di 4 (empat) sektor, yaitu infrastruktur digital, pemerintahan digital, ekonomi digital, dan masyarakat digital.”

Hary menilai masyarakat tidak akan bisa berkembang jika aksesnya tertutup. Beranjak dari hal itu, Kominfo berupaya agar talenta digital di berbagai penjuru daerah bisa mengambil peluang. Kominfo mengembangkan jaringan backbone, middlemile, dan lastmile.

Dalam jaringan backbone, Kominfo telah membangun palapa ring sepanjang 12.229 kilometer dan menghubungkan 57 kabupaten di Indonesia. Middlemile, akan meluncurkan Satelit Indonesia Raya atau SATRIA 1 (150 Gbps), SATRIA 2 (300 Gbps), dan SATRIA 3 (500 Gbps) pada 2023 mendatang, khusus untuk mengakses internet cepat (WiFi) di layanan publik. Lastmile, melalui BAKTI akan memasang 7.904 Base Transceiver Station (BTS) di perdesaan pada daerah 3T dan di perkotaan.

“Di sektor pemerintah digital, kami mendorong e-government dengan Gerakan Menuju 100 Smart City dengan 6 pilar pengembangan sebagai dasar pelaksanaan program pengembangan, yaitu smart governance, smart infrastructure, smart economy, smart living, smart people, dan smart environment. Kami akan memprioritaskan 50 kota/kabupaten, 10 kawasan pariwisata, dan 1 kawasan Ibu Kota Negara (IKN) yang baru,” ungkap Hary pada Jumat (4/2/2022).

Optimasi Layanan Digital Melalui Integrasi Data

Link and match talenta digital untuk penuhi kebutuhan SDM SPBE

Menanggapi proyeksi World Economic Forum bahwa 5 tahun ke depan separuh dari pekerjaan yang ada akan tergantikan oleh mesin, Ketua Umum APTIKOM Zainal A. Hasibuan mengatakan, apapun jenis pekerjaan saat ini, butuh keterampilan baru agar bisa berdaya saing. Sederhananya, seseorang dapat disebut ‘digital talent’ apabila mampu beradaptasi dengan teknologi digital.

Begitu banyak jenis teknologi pada Revolusi Industri 4.0 ini, seperti Artificial Intelligence, Blockchain, Internet of Things, Augmented Reality, Virtual Reality, 3D Printing, Drones, dan Robotics. Kita memang tidak bisa menguasai semua teknologi, tetapi setidaknya kita memiliki kemampuan andalan yang ada kaitannya dengan teknologi tersebut. Jadi, NKRI bisa bermuara ke penguatan SDM talenta digital.

Sudah saatnya Indonesia memperbaiki sistem penggalian kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja (link and match) agar tak ada kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia pekerjaan. Zainal merasa kita harus memiliki seni tersendiri untuk mempertajam linkandmatch.

Akar masalahnya, dosen dan pengajar belum mengikuti perubahan zaman di era digital dalam hal materi ajar; mahasiswa belum menerima sistem pembelajaran yang proaktif (problem solving, project based learning, dan research based learning); sarana kurang mendukung skill set era digital; hingga prasarana kurang mendukung pembelajaran kolaboratif dan kerja sama tim.

Solusinya, kita bisa bahu membahu memperkuat pengembangan SDM, memberdayakan kebijakan transformasi digital, mendorong kampus untuk mencetak talenta digital secara masif, mendukung program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) sepenuhnya, menerapkan pembelajaran berbasis computational thinking, dan melengkapi ijazah dengan sertifikasi kompetensi.

Credit Tulisan: Rifdah Khalisha

Transformasi Digital dan Menyatukan Indonesia di Metaverse

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Diva Angelia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Diva Angelia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini