Transformasi Digital dan Menyatukan Indonesia di Metaverse

Transformasi Digital dan Menyatukan Indonesia di Metaverse
info gambar utama

Indonesia tidak ingin tinggal diam saja terhadap fenomena arus pertumbuhan teknologi digital yang semakin masif dewasa ini. Menyadari pentingnya transformasi digital sebagai arus utama arah pembangunan nasional di masa depan, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo merumuskan 5 arahan perencanaan transformasi digital sebagai salah satu bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Dalam upaya menjalankan amanat percepatan langkah transformasi digital di Indonesia, Dewan TIK Nasional (Wantiknas) menginisiasi acara bertajuk Digital Transformation Virtual Expo (DTXID) 2022. Seperti namanya, acara ini diselenggarakan 100 persen secara virtual yang dimulai dari tanggal 2 hingga 4 Februari 2022.

Uniknya, DTXID 2022 berhasil menampilkan secara apik konsep metaverse yang saat ini tengah hangat dibicarakan masyarakat. Ilham Akbar Habibie selaku Ketua Tim Pelaksana DTXID 2022 dari Wantiknas menuturkan bahwa acara ini menjadi suatu pembuktian bahwa Indonesia siap untuk melakukan transformasi digital.

Acara webinar DTXID 2022 hari pertama 2 Februari 2022 © DTXID 2022
info gambar
Serba-Serbi Transformasi KTP Digital, Akankah Bawa Perubahan yang Lebih Baik?

Membawa pengalaman baru melampaui batas ruang dan waktu

DTXID 2022 hadir dengan serangkaian kegiatan di antaranya pameran showcase, seminar, dan workshop terkait transformasi digital. Menawarkan pengalaman baru dibandingkan pameran konvensional, DTXID 2022 dapat diikuti secara virtual melalui gadget masing-masing.

Menerapkan konsep metaverse, tampilan situs DTXID 2022 memiliki visual yang ciamik seperti layaknya suasana expo konvensional. Pengunjung dapat bebas mengeksplorasi berbagai menu dan layanan yang disediakan dalam situs. Terdapat 3 fasilitas utama yang dapat diakses saat berada di lobi situs DTXID 2022 yakni exhibition hall, information center, dan conference.

Tampilan lobi pada situs DTXID 2022 © DTXID 2022
info gambar

Pada exhibition hall, pengunjung dapat mengunjungi berbagai virtual booth dari berbagai institusi secara virtual dan mendapatkan beragam informasi mengenai institusi bersangkutan. Total sebanyak 25 institusi bergabung dalam pameran showcase virtual booth DTXID 2022.

Tampilan virtual booth milik Wantiknas dalam DTXID 2022 © DTXID 2022
info gambar

Beberapa institusi yang terlibat dalam pameran di antaranya institusi pemerintah pusat dan daerah, perusahaan baik BUMN maupun swasta, perguruan tinggi, serta lembaga komunitas lainnya. Selain itu, terdapat hall khusus digital services Jawa Barat dengan 4 virtual booth.

Sementara itu, information center memuat informasi penjelasan mengenai kegiatan DTXID 2022 dan pada menu conference para pengunjung dapat mengikuti kegiatan webinar dan workshop mengenai transformasi digital yang diselenggarakan selama 3 hari berturut-turut.

Tampilan conference hall yang digunakan untuk kegiatan webinar dan workshop DTXID 2022 © DTXID 2022
info gambar

DTXID 2022 menghadirkan sejumlah kepala daerah serta tokoh berkompeten untuk mengisi sesi webinar serta workshop sectoral session. Topik webinar berfokus pada akselerasi perluasan akses dan peningkatan infrastruktur digital, percepatan integrasi pusat data nasional untuk mendukung pengambilan keputusan berdasarkan data-driven, serta kolaborasi multi-stakeholder untuk memenuhi kebutuhan talenta digital.

Kemudian paparan materi dalam sectoral session dikerucutkan ke dalam 3 sektor, yakni perdagangan dan industri, pendidikan dan kesehatan, serta pemerintahan.

Tidak perlu khawatir kehabisan slot, kuota pengunjung DTXID 2022 tidak terbatas oleh karena kegiatan dilangsungkan secara virtual sehingga tidak perlu menghabiskan tempat. Selain itu, masyarakat bisa mengakses situs DTXID 2022 kapan saja selama 24 jam.

Peran Platform Edukasi dalam Mendukung Proses Mengajar Guru di Era Digital

Visi dan tantangan Indonesia dalam upaya transformasi digital

Tak dapat dipungkiri, Covid-19 menjadi chief transformation officer paling sukses sejagad raya yang berhasil memaksa seluruh dunia untuk mempercepat gerak transformasi digital. Dampak dari pandemi ini pun memengaruhi pencapaian sasaran RPJMN 2020-2024.

Akselerasi transformasi digital terus bergerak secara agresif oleh karena mobilitas masyarakat melakukan kegiatan tatap muka terbatas akibat pandemi. Hal ini dilakukan tak lain oleh karena agar berbagai kegiatan khususnya di sektor ekonomi dapat terus berjalan dan tetap bertahan di tengah masa-masa sulit pandemi Covid-19.

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian PPN/Bappenas, Josaphat Rizal Primana mengungkapkan bahwa teknologi mampu menciptakan efisiensi terhadap waktu, biaya, ruang, dan lainnya pada penyelenggaraan kegiatan di pemerintahan, pendidikan dan layanan masyarakat.

Transformasi digital tidak melulu hanya soal teknologi, tapi mencakup aspek yang jauh lebih luas dan menyeluruh, transformasi digital adalah kebutuhan bersama. Salah satu strategi utama yang dapat diupayakan untuk mendorong pemulihan ekonomi pasca terdampak pandemi ialah dengan melakukan transformasi digital khususnya pada sektor ekonomi.

Lebih lanjut, ia mengutarakan transformasi digital mengoordinasikan perencanaan dan penganggaran pembangunan 10 sub major project yaitu akses dan infrastruktur, layanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, perdagangan, perdesaan, koperasi dan UMKM, digitalisasi bantuan sosial, industri 4.0, literasi digital masyarakat, sumber daya digital Indonesia, dan keamanan siber.

Terdapat 3 pilar utama dalam transformasi digital yakni infrastruktur digital, pemanfaatan digital, dan penguatan pendukung atau enabler. Sarwoto Atmosutarno, Ketua Umum Masyarakat Telematika selaku Anggota Tim Pelaksana Wantiknas mengungkapkan bahwa pada tahun 2022, pembangunan infrastruktur digital direncanakan tercapai 20 persen dari total keseluruhan target dan saat ini sektor telematika sudah berperan sebagai enabler of livings.

Ia kemudian menjelaskan bahwasanya terdapat beberapa hal yang menjadi tantangan dalam pelaksanaan implementasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Tantangan tersebut di antaranya ialah penerapan digital leadership, beban regulasi, serta dibutuhkannya organisasi komando atau national chief information officer (NCIO).

Adiwijaya selaku Rektor Telkom University juga mengungkapkan hal yang senada bahwa tantangan dalam transformasi digital ialah membangun regulasi dalam memanfaatkan momentum digital yang muncul saat ini untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang signifikan. “Peluang digital business cukup signifikan dan kita harus mengambil kesempatan itu,” pungkasnya.

Tantangan lainnya diutarakan oleh Muhamad Arif Angga selaku Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bahwa pengembangan connectivity di Indonesia masih sulit oleh karena keunikan geografisnya. Pengguna internet terbesar saat ini ada di Pulau Jawa yakni sebesar 41,7 persen kemudian diikuti oleh Sumatra sebesar 16,2 persen.

Pertumbuhan yang pesat tersebut masih menyisakan berbagai masalah utamanya mengenai pemerataan akses akibat kendala geografis dan sebaran populasi yang tidak mencapai skala ekonomi.

Firlie H. Gunanduto, Wakil Ketua Umum Bidang Komunikasi dan Informatika (KADIN) menegaskan 3 tantangan utama dalam melaksanakan transformasi digital. Pertama ialah infrastruktur dan keamanan informasi dengan beberapa hambatan seperti disrupsi informasi, penipuan, hoax, dan sebagainya.

Tantangan berikutnya ialah keamanan siber dan kejahatan. Berbagai ancaman yang dapat timbul di antaranya potensi penyalahgunaan jaringan secara tidak sah, peningkatan malware seluler, potensi ransomware dalam menargetkan pelaku bisnis, dan lainnya.

Terakhir, tantangan yang dihadapi ialah terkait talenta digital. Rendahnya tingkat literasi digital serta keterbatasan tenaga kerja di bidang ini menjadi beberapa ancaman terkait dengan talenta digital dalam upaya transformasi digital.

Melihat beragam tantangan yang timbul dari berbagai sisi dalam upaya menggencarkan transformasi digital, seluruh stakeholder baik itu pemerintah, pelaku industri, tenaga profesional, maupun masyarakat harus bekerja sama untuk mewujudkan transformasi digital yang prima dan mampu memberikan dampak positif secara signifikan bagi seluruh pihak.

UMKM Bersaing di Era Transformasi Digital, Kenapa Tidak?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Diva Angelia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Diva Angelia.

DA
IA
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini