Perdana, Produk Olahan Kelapa dari Bintan Tembus Pasar Amerika Serikat

Perdana, Produk Olahan Kelapa dari Bintan Tembus Pasar Amerika Serikat
info gambar utama

“Tanah airku aman dan makmur. Pulau kelapa yang amat subur.” Begitulah yang dikatakan dalam sepenggal lirik lagu “Rayuan Pulau Kelapa” ciptaan Ismail Marzuki. Lirik tersebut rasanya tak berlebihan mengingat Indonesia, Tanah Air kita, memang memiliki perkebunan kelapa yang amat luas dan subur.

Menurut data Kementerian Pertanian, luas areal kelapa pada 2017-2021 di seluruh Indonesia mencapai 3.364.99 hektare. Indonesia juga berada di urutan pertama sebagai negara produsen kelapa terbesar di dunia. Rata-rata produksi mencapai 18,04 juta ton kelapa butir dan berkontribusi sebesar 29,69 persen terhadap total produksi kelapa dunia.

Seperti yang kita pelajari sejak di sekolah dasar, pohon kelapa merupakan tanaman yang seluruh bagiannya dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan. Daunnya bisa jadi pembungkus makanan atau kerajinan, batangnya bisa diolah jadi furnitur, daging dan airnya untuk dikonsumsi, akarnya bisa dimanfaatkan untuk pewarna, sabutnya diolah jadi bahan baku tali, nira kelapa bisa diproses menjadi gula, dan tempurungnya untuk dijadikan arang.

Dengan banyaknya olahan dari kelapa membuatnya memiliki potensi besar untuk diekspor. Membahas soal eskpor kelapa, baru-baru ini produk olahan kelapa dari PT Bionesia Organic Foods (BOF) Bintan, Kepulauan Riau, dikabarkan menembus pasar Amerika Serikat untuk pertama kalinya di awal tahun 2022.

Potensi Minyak Kelapa Murni sebagai Olahan Pangan hingga Antivirus

Ekspor produk kelapa ke Amerika Serikat

Coconut chips | @Brent Hofacker Shutterstock
info gambar

Pada awal tahun ini, Karantina Pertanian Tanjung Pinang mendampingi produk olahan kelapa milik PT BOF menembus pasar Amerika Serikat berupa dessicated coconut dan coconut chips atau kelapa parut kering dan keripik kelapa. Ekspor perdana ini tak main-main, jumlah kelapa parut kering mencapai 12,4 ton dan keripik kelapa sebesar 5,6 ton dengan nilai ekonomi Rp819,4 juta.

“Ini adalah terobosan awal tahun 2022, semoga menjadi awal yang baik dan ekspor terus meningkat tahun ini,” ujar Raden Nurcahyo Nugroho, Kepala Karantina Pertanian Tanjungpinang.

Menurut penjelasan Shipping PT BOF, Yovita, pengiriman ini adalah permintaan pertama mereka yang dikirim dalam satu kontainer dengan standar food grade. Pasar produk olahan kelapa di luar negeri pun sangat terbuka dan tidak hanya olahan daging, tetapi juga olahan sabut kelapa.

“Dengan terbukanya pasar USA, ini merupakan angin segar bagi petani kelapa di Indonesia, sehingga para petani tak perlu resah lagi akan serapan pasarnya. Menanam kelapa merupakan investasi jangka panjang yang sangat menguntungkan, karena dari bunga, buah, daun bahkan batang kelapa semua memiliki nilai jual, ” jelas Raden.

Raden pun menjelaskan bahwa Menteri Pertanian menyampaikan bahwa usaha di bidang pertanian sangatlah menjanjikan dan terbukti dapat menopang perekonomian Tanah Air di masa pandemi. Untuk usaha di bidang pertanian ini bisa dari budidaya tanaman, pengolahan, pengepakkan, hingga transportasi.

Pada bulan September 2020, Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Tanjungpinang telah melakukan pelepasan ekspor perdana olahan kelapa yang diproduksi oleh PT BOF sebanyak 178 ton ke India dan Jerman. Olahan kelapa itu terdiri dari santan bubuk dan tepung kelapa dengan nilai ekonomis Rp2,8 miliar.

Menurut penjelasan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pada bulan Januari-September 2020, dari Bintan saja sudah mengekspor santan, tepung, dan bubuk kelapa sejumlah Rp263 ribu ton senilai Rp6,10 miliar ke Jerman.

Selain itu, pada tahun 2019, Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian telah melepas ekspor olahan kelapa asal Sumatra Barat sebanyak 108,4 ton ke mancanegara. Tak hanya santan dan kelapa parut, bahkan air kelapa asal Sumatra Barat juga sudah menembus pasar Eropa dan Amerika Serikat.

Dari ekspor tersebut, ada 35,2 ton santan kelapa senilai Rp612,7 juta dengan tujuan Belanda dan Inggris, 32,7 ton kelapa parut senilai Rp827 juta tujuan Jerman dan Norwegia, dan 36 ton air kelapa senilai Rp308 juta tujuan Inggris.

Pada tahun 2018, total ekspor olahan kelapa ini mencapai 8.615 ton senilai Rp111,92 miliar dan pada tahun 2019 mencapai 6.221 ton senilai Rp. 82,85 miliar.

Ternyata, Indonesia adalah Negara Penghasil Kelapa Terbesar di Dunia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini