Pesona Puncak Suroloyo, Singgasana Para Dewa di Kulon Progo

Pesona Puncak Suroloyo, Singgasana Para Dewa di Kulon Progo
info gambar utama

Suroloyo dalam cerita pewayangan merupakan tempat tinggal Batara Guru, pemimpin para dewa di langit kayangan. Melalui reproduksi mitos ini, Puncak Suroloyo di Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta banyak dikunjungi oleh orang.

Puncak Suroloyo merupakan salah satu puncak tertinggi di Perbukitan Menoreh, Yogyakarta. Perbukitan yang memiliki ketinggian kurang lebih 1.019 mdpl ini membentang sepanjang Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Bahkan bedasarkan kepercayaan, Puncak Suroloyo merupakan titik pusat Pulau Jawa. Sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa jika ditarik garis lurus dari barat ke timur, dan dari utara ke selatan, maka bertemunya di Puncak Suroloyo.

Suroloyo memiliki arti “berani mati”, pasalnya untuk mencapai tempat ini para pengunjung harus menaiki setidaknya sekitar 300 anak tangga. Dengan kecuraman tertentu, perjalanan agar sampai ke puncak memang membutuhkan kekuatan fisik dan juga mental sebagaimana perjuangan “berani mati”.

Tetapi bila sudah mencapai puncak, wisatawan bisa melihat Yogyakarta dari atas awan dan bisa melihat langsung keindahan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dari Puncak Suroloyo ini pula kita bisa menikmati pemandangan Gunung Merbabu, Merapi, Sindoro, dan Sumbing, yang bersanding dengan eloknya.

Cerita Para Kombatan Jelang Jepang Menyerah

Di pendopo ini terdapat arca Batara Guru atau dikenal sebagai Dewa Syiwa yang berdiri di atas nandi (arca sapi), yang menurut kepercayaan masyarakat Hindu, nandi merupakan hewan kesayangan Dewa Syiwa. Tetapi arca batu ini sudah tidak utuh lagi, pada wajahnya sudah rusak, sedangkan kedua tangan di atas dada sudah patah.

Pada masa Hindu, masyarakat percaya bahwa Kayangan atau tempat bermukim para dewa berada di Gunung Himalaya. Tetapi ketika itu memang cukup sulit membayangkan seperti apa puncak Himalaya sebagai tempat tinggal para dewa.

Karena itulah para pendeta Hindu di Nusantara menjadikan puncak Suroloyo sebagai peraga kayangan. Pada masa itu, Suroloyo telah menjadi bagian dari Kerajaan Mataram Islam.

Memang tempat ini tidak bisa lepas dari legenda seorang Raden Mas Rangsang--kemudian hari bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo--bertapa untuk menjalankan wangsit yang datang padanya. Raden Mas Rangsang harus berjalan kaki dari keraton di wilayah Kotagede menuju ke arah barat.

Setelah berjalan dengan jarak sekitar 40 kilometer di wilayah Pegunungan Menoreh, dia jatuh pingsan karena kelelahan. Dalam pingsannya ini, dirinya mendapatkan wangsit kedua yang memerintahkan agar kelak saat memerintah menggunakan gelar Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Upacara Jamasan Pusaka

Setiap tanggal 1 Suro di Puncak Suroloyo--tepatnya di Sendang Kawidodaren--diadakan upacara Jamasan Pusaka (pencucian) yang merupakan pemberian dari Keraton Yogyakarta berupa tombak Kiai Manggolo Murti dan Songsong Kiai Manggolo Dewo.

Menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata, Marjo menyebut dua pusaka ini merupakan pemberian dari Sultan Hamengkubuwono IX. Pemberian pusaka kepada masyarakat Desa Keceme tahun 1986, atau dua tahun sebelum Ngarsa Dalem meninggal pada tahun 1988.

Tetapi menurut Marjo, ada juga versi lain yang menyatakan dua pusaka keramat ini berhubungan dengan Sultan Agung. Terutama ketika sultan terbesar Mataram Islam ini melakukan pertapaan.

"Raden Mas Rangsang sebelum menjadi raja Mataram dengan gelar Sultan Agung, pernah bertapa dan mendapat wangsit di Puncak Suroloyo. Karena itu dirinya memberikan dua pusaka kepada warga sekitar Suroloyo," jelasnya yang dinukil dari buku Legenda dan Mitos Tempat Wisata di Pulau Jawa terbitan Kompas.

Kisah Makhluk Misterius Budaya Dayak Penjaga Hutan Kalimantan

Upacara Jamasan Pusaka dan kirab Suroloyo masih berlangsung hingga kini. Menurut ahli filsafat CA van Peursen, hal ini karena terbukti menjamin kehidupan masa kini.

Masyarakat sekitar mempercayai dengan melakukan upacara ini panen di ladang diyakini akan bertambah baik. Bahkan bebarapa komoditas seperti teh dan kopi yang dahulunya meredup di Kulon Progo, kini mulai mendapat pasarnya kembali.

Prosesi Jamasan Pusaka diawali dengan kirab pusaka Tombak Kiai Manggolo Murti, Songsong Kiai Manggala Dewa, dan gunungan hasil bumi. Kirab dimulai dengan berjalan dari rumah Dukuh Keceme Desa Gerbosari.

Pada pagi hari, puluhan warga yang kebanyakan kaum muda telah berdandan seperti bregada (prajurit) Keraton Yogyakarta. Bila upacara di keraton diikuti lebih dari sepuluh bregeda, di sini hanya ada dua bregeda.

Kemudian Tombak Kiai Manggolo Murti dan Songsong Kiai Manggala Dewa diarak keliling desa dengan diiringi tabuhan alat musik tradisional. Kirab berakhir di Sendang Kawidodaren di mana kedua pusaka dimandikan/jamasan dan gunungan yang merupakan simbol syukur pada Yang Mahakuasa diperebutkan oleh warga.

Setiap Jamasan Pusaka di Suroloyo ini, antusias warga masyarakat untuk berkunjung sangatlah tinggi. Mereka berbondong-bondong datang untuk menyaksikan ritual Jamasan Pusaka dan juga ngalap berkah pada ritual ini.

"Warga percaya yang bisa membawa satu atau dua potong hasil bumi gunungan itu akan mendapat berkah."

Wisata religi di kompleks dewa

Marjo menyebut untuk kehidupan sehari-hari, adanya mitos Puncak Suroloyo sebagai tempat tinggal para dewa tampaknya makin berperan dalam mengembangkan kawasan itu.

Masyarakat yang berkunjung ke kawasan ini mengenal tiga tempat yang berhubungan dengan kehidupan para dewa. Selain Puncak Suroloyo, ada pertapaan Sariloyo, dan Kaendran.

Secara lebih detail, Marjo menjelaskan bangunan dan situs Suroloyo sebenarnya saling berhubungan terutama dengan kehidupan para dewa atau penguasa alam kelanggengan setelah manusia meninggal.

"Suroloyo itu rumah para dewa. Repat Kepanasan yang terletak di sisi kanan itu tempat rapat para dewa, lalu ada Sariloyo artinya tempat inti dan sarinya orang setelah meninggal. Lalu Kaendran itu tempatnya Batara Indra," jelas Marjo.

Enrique de Malacca, Kisah Pria yang Pertama Kali Mengelilingi Dunia

Selain itu, masih ada Sendang Kawidaderan yang menjadi tempat turunnya para bidadari. Kemudian bila turun ke bawah ada Sendang Kedewan, sendangnya para dewa dan terakhir ada pertapaan Mintorogo yang belum banyak dikunjungi.

Sejak 2015, halaman parkir di pintu utama menuju Puncak Suroloyo dihiasi patung dan lukisan pahatan yang menggambarkan adegan Batara Guru sedang berbicara dengan Batara Narada bersama dewa-dewa lainnya.

"Kalau patung punakawan ini, Gareng, Petruk, Bagong dan Semar, semua jelmaan para dewa. Saya sendiri yang membuat," ujar Marjo.

Pada 2016, pengunjung tempat wisata ini hanya mencapai 500 orang, tetapi menurut catatan Kompas pada tahun 2020--hanya dalam waktu sebulan--pengunjung bisa mencapai 2.600 orang. Reproduksi mitos untuk meningkatkan kesejahteraan warga tampaknya memiliki masa depan yang cerah.

Sementara itu pada Oktober 2017, Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo meresmikan Pusat Pengelolaan Teh Menoreh di Ngalihan, Ngargosari, Samigaluh. Selain teh, juga terhampar perkebunan kopi robusta dan arabika terutama di Nglinggo dekat kawasan Suroloyo.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini