Kampung Tobati, Desa Wisata di Jayapura dengan Keunikan Hutan Perempuan

Kampung Tobati, Desa Wisata di Jayapura dengan Keunikan Hutan Perempuan
info gambar utama

Kampung Tobati di Distrik Jayapura Selatan merupakan salah satu desa wisata di Papua yang memiliki keunikan tersendiri. Nama Tobati diambil dari kata tab yang berarti matahari dan badic (naik atau terbit). Suku Tobati yang mendiami kampung tersebut memiliki kepercayaan pada leluhur mereka bahwa orang-orang tua masa lalu menyatu dengan alam dan matahari dianggap sebagai Tete Manis atau Yang Maha Kuasa.

Kampung ini seringkali disebut-sebut mirip dengan Bora-Bora di Polinesia yang amat tersohor. Siapa sangka bila di Indonesia Timur juga ada tempat yang tak kalah indahnya? Kampung Tobati berada di Teluk Youtefa dan di kampung ini wisawatan dapat melakukan berbagai aktivitas, dari ekowisata bakau, mengunjungi situs prasejarah, mengunjungi beberapa objek wisata, menyaksikan aktivitas masyarakat, dan tak lupa mencicipi kuliner yang khas.

Kuala Kencana, Pemukiman Modern Pertama Indonesia yang Ada di Papua

Ekowisata Bakau dan Hutan Perempuan

Memasuki area Kampung Tobati, Anda akan melihat bangunan rumah yang terdiri dari tiga golongan yaitu rumah permanen, semi permanen, dan temporer. Ketiga rumah tersebut digolongkan berdasarkan komposisi bangunan rumah. Rumah-rumah temporer biasanya dibangun untuk kebutuhan mendesak atau darurat.

Kampung Tobati juga terkenal dengan sebutan kampung nelayan karena lokasinya memang berada di teluk. Anda bisa melihat rumah-rumah dibangun di permukaan air dan disangga oleh kayu-kayu. Karena banyak rumah didirikan di atas air, Tobati juga dikenal dengan nama kampung terapung.

Meski terletak di Teluk, kampung ini juga dikelilingi daratan yang indah. Masyarakat pun tak melulu mengandalkan sumber daya laut untuk kehidupan sehari-hari, tapi mereka juga membudidayakan sayur, bunga, dan buah secara hidroponik. Tak heran bila di halaman rumah warga setempat sering ditemukan pot-pot sayur dan buah tersusun rapi.

Wisatawan juga bisa mencoba kuliner unik yang ada di Kampung Tobati, yaitu bio noor dan fodfod. Namanya mungkin belum sepopuler papeda, tetapi tak ada salahnya untuk mencoba dua makanan tersebut. Bio noor adalah molusca atau siput cangkang putih yang biasa dimasak sederhana dengan dioseng kemudian disantap bersama nasi. Sedangkan fodfod terbuat dari singkong yang dibentuk bulat-bulat seperti bakso untuk teman makan nasi atau sagu. Fodfod juga biasa disantap bersama bia noor.

Ada cerita unik di balik kuliner bia noor. Siput tersebut biasanya diambil dari hutan bakau di sekitar Teluk Youtefa. Kawasannya biasa disebut Hutan Perempuan karena memang hanya kaum perempuan yang boleh berada di sana. Para laki-laki tugasnya melaut dan dilarang masuk dan mendekati Hutan Perempuan atau akan mendapat sanksi bila melanggar.

Di Kampung Tobati, perempuan punya peran penting dalam merawat lingkungan, termasuk hutan bakau dengan sumber daya hayati yang melimpah. Dari hutan bakau sebenarnya para perempuan tak hanya mengambil bia noor, tapi juga kepiting, udang, ikan, kayu bakar, dan tumbuhan jamu.

Kawasan bakau di Kampung Tobati juga dijadikan sebagai tujuan ekowisata pertama di Jayapura. Selain menyajikan pemandangan Teluk Youtefa, wisatawan perempuan juga dapat masuk Hutan Perempuan dan berinteraksi dengan masyarakat yang sedang berkegiatan.

Wisata Bahari di Kampung Namatota yang Tersembunyi di Papua

Objek wisata di Kampung Tobati

Di Kampung Tobati ada sebuah area yang disebut Lapangan Timbul Tenggelam. Keunikannya adalah area tersebut akan tertutupi oleh air saat pasang dan kembali muncul ketika air surut. Pada saat muncul, tentunya pengunjung bisa berjalan-jalan dan berkegiatan di area berpasir putih tersebut. Tak jauh dari sana, ada Pulau Metu Debi yang jadi destinasi wisata rohani, sejarah, dan alam. Kampung Tobati sendiri merupakan pusat penyebaran agama Kristen Protestan di Jayapura.

Selanjutnya, Anda bisa melihat-lihat bangunan rumah adat yaitu Kariwari yang berbentuk limas dengan tinggi 20-30 meter. Rumah adat ini dulunya berfungsi sebagai kantor kepala adat. Sedangkan untuk tempat tinggal, ada rumah adat Sway. Meski keduanya memiliki bentuk serupa, pada bagian dalam rumah Sway terdiri dari ruangan untuk kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan halaman belakang.

Kemudian, ada Situs prasejarah Gunung Srobu yang memiliki kondisi alam berupa bukit berkontur mulai dari landai hingga terjal dan terbentuk dari batu gamping koral. Di situs ini banyak ditumbuhi tanaman beringin, kayu besi, matoa, sarang semut, anggrek, kayu besi, dan kelapa.

Ada beberapa peninggalan megalitik yang ditemukan di situs ini, yaitu menhir, dolmen, punden berundak, batu temugelang, dan struktur batu bekas pemukiman. Banyak pula ditemuakan fragmen gerabah dan cangkang kerang di beberapa titik.

Balai Arkeologi Papua juga menemukan beberapa arca peninggalan manusia prasejarah. Arca berukir motif manusia ditemukan di areal pemakaman. Penemuan arca tersebut menunjukkan peradaban yang sangat tinggi pada masanya. Dari detail setiap motif ukiran, diperkirakan masyarakat Srobu telah hidup pada 1.720 tahun yang lalu atau sejak abad ke-3 atau ke-4.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini