Kosmologi Burung Rangkong Sebagai Penghubung Roh Manusia ke Surga

Kosmologi Burung Rangkong Sebagai Penghubung Roh Manusia ke Surga
info gambar utama

Rangkong atau dalam bahasa Inggris disebut Hornbill merupakan sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk sapi tetapi tanpa lingkaran. Nama ilmiahnya Buceros merujuk pada bentuk paruh, dan memiliki arti "tanduk sapi" dalam Bahasa Yunani.

Burung yang juga memiliki nama lain seperti enggang, julang, kangkareng ini tergolong dalam familia Bucerotidae yang memiliki 57 spesies. Pada awalnya burung ini mempunyai habitat cukup tersebar di seluruh dunia, mulai dari Afrika hingga Asia Tenggara.

Di Indonesia terdapat 14 spesies bahkan melekat menjadi filosofi di kehidupan suku Dayak khususnya. Bagi Suku Dayak, sifat dan perilaku rangkong dianggap suri teladan dalam berkehidupan.

Dipaparkan dari Tirto, burung ini memiliki suara keras dan melengking yang menjadi pertanda ketegasan, keberanian dan budi luhur. Sifat luhur dan jiwa kepemimpinan ditunjukan dalam perilakunya yang selalu hinggap di pohon tinggi.

Rangkong juga ketika mencari makan tidak mau mengambil buah yang telah jatuh. Perilaku ini diartikan, sebagai kesucian dan sifat tidak serakah. Kesetiaan burung ini kepada satu pasangan selama hidup menunjukkan loyalitas dan tanggung jawab.

Menjaga Burung Endemik Sumba dari Kepunahan

“Dalam masyarakat Dayak secara umum, burung—termasuk enggang—berkaitan dengan penciptaan manusia. Dia sarat nilai sakral dan spiritual. Jadi, bagi kami, mereka wajib dilindungi," tutur Direktur Eksekutif Institut Dayakologi Krissusandi Gunui.

Bukan saja dilindungi, orang Dayak Iban bahkan menyebut rangkong gading sebagai panglima burung karena dianggap keramat dan sakti. Burung ini menjadi simbol perlawanan dari dunia atas, sementara dunia bawah dilambangkan pada sosok naga.

"Dia juga dianggap sebagai jelmaan pencipta, wadah pengetahuan dan adat yang diturunkan pada manusia," tulis Aditya Widya Putri dalam artikel Rangkong Gading, Maskot Kalimantan Barat yang terlupakan.

Kosmologi burung rangkong

Burung rangkong dalam bahasa Dayak disebut burung Alo. Sementara itu kosmologi masyarakat Dayak menceritakan bahwa burung rangkong dipercayai sebagai hewan yang diciptakan pertama kali oleh Tuhan (Jubata).

Burung rangkong memiliki beberapa jenis, yaitu rangkong besar yang disebut sebagai alo rangkong, sedangkan jenis kecil disebut alo ehe’k. Rangkong gading (alo rangkong) memiliki ukuran fisik yang lebih besar, memiliki balung atau tungkuk seperti tanduk pada bagian atas kepalanya.

Sebagai makhluk hidup yang diciptakan pertama, maka burung ini bertanggung jawab untuk kehidupan yang disimbolkan dengan hutan. Burung rangkong juga memberi makna bahwa hidup di dunia hanya sementara.

Masyarakat Dayak juga mengakui spesies istimewa ini adalah pemancar biji terbaik di hutan dan menjadi pengawal pelestarian hutan secara natural. Karena itulah, perilaku dari burung rangkong harus menjadi cerminan bagi manusia.

“Bagi masyarakat Dayak perilaku burung rangkong merupkan nilai etis moral yang patut diteladani oleh manusia. Nilai etis moral yang tercermin dari perilaku burung rangkong yaitu tanggung jawab, setia, semangat, langok (kebesaran), kamulia’an (kemuliaan), gaha (kemegahan) dan pakasa (keperkasaan),” tulis Claudya Ingrid Sahertian dalam jurnal ilmiah berjudul Sakralitas Burung Enggang dalam Teologi Lokal Masyarakat Dayak Kanayatn.

Melihat Burung Migrasi di Ujung Utara Jakarta

Sebagai spesies yang diciptakan pertama, maka burung rangkong juga diberi kewenangan khusus untuk menembus jalur subayan (surga) dan dunia dengan bebas tanpa batasan. Kewenangan khusus untuk menembus jalur surga-dunia ini memiliki makna mendalam bagi suku Dayak.

Misalnya saja simbol burung rangkong muncul dalam adat kematian Dayak Kanayatn yang disebut Karana. Masyarakat Dayak Kanayatn menyakini bahwa ketika seseorang wafat, yang meninggal hanyalah tubuh saja, tetapi roh bersifat abadi.

Karana sebagai adat kematian adalah sarana untuk menghantar orang yang meninggal menuju tempat abadi yang akan dibawa oleh burung rangkong. Bagi masyarakat Dayak Kanayatn, burung rangkong yang diberi kewenangan untuk mengantar roh.

“Inilah yang dikatakan sebagai teologi lokal masyarakat Dayak Kanayatn, ketika burung rangkong dipandang sebagi mediator relasi antara manusia dengan Allah, yang membawa roh orang mati/pidara masuk ke surga,” jelasnya.

Simbol rangkong dalam masyarakat

Burung rangkong sangat melekat dalam kultur masyarakat Dayak sebagai simbol identitas, penjaga keberlangsungan hutan, dan simbol pemersatu. Sementara itu masyarakat Dayak mengungkapkan narasi tentang burung rangkong dalam medium simbol.

Walaupun tidak semua orang mampu menarasikan eksistensi burung rangkong, tetapi kehadiran ini sudah tercermin dalam simbol-simbol. Simbol ini tercermin dalam pakaian, rumah adat, tarian, dan ukir-ukiran dayak.

Rumah adat yang disebut betang (rumah panjang) merupakan simbol identitas masyarakat Dayak Kanayatn. Di rumah ini berkumpul keluarga dari satu keturunan. Dalam tradisi masa lampau, di rumah adat betang, dapat berdomisili empat sampai lima keluarga bahkan lebih.

Mereka hidup secara damai dan rukun. Jika terdapat masalah keluarga, maka diselesaikan secara musyawarah keluarga besar di rumah betang. Itulah fungsi rumah betang untuk merawat kesatuan dan menjaga harmonitas.

Sementara itu pada bumbungan rumah adat betang di Pontianak atau di Lingga, dipasang simbol burung rangkong, sebab burung ini memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Dayak, sebagai pemersatu dan keharmonisan.

Indonesia, Surga Si Burung Rangkong

"Sekalipun saat ini masyarakat Dayak Kanayatn tidak lagi membangun rumah dengan desain seperti rumah betang, namun falsafah rumah betang tetap mewarnai perjalanan kehidupan rumah tangga mereka," papar Claudya.

Claudya juga mencatat simbol burung rangkong juga ditemukan dalam kelengkapan pakaian adat. Misalnya dayung atau pemimpin ritual akan mempergunakan kepala burung rangkong yang dipasang pada bagian topi.

Bulunya juga akan digunakan sebagai topi, tetapi hanya boleh digunakan oleh dayung serta bangsawan saja. Pada zaman dahulu, pemimpin suku Dayak akan berburu rangkong untuk mendapatkan berbagai aksesoris.

Namun, masyarakat Dayak dilarang berburu rangkong untuk keperluan lain diluar tradisi. Terlebih bukan atas perintah dari pemimpin suku. Apabila ada yang melanggar perintah ini akan dikutuk dengan penyakit kuning dan bengkak.

Pada masa modern ini, simbol burung rangkong banyak ditemukan pada lukisan di batik Dayak dengan berbagai jenis kain, katun, woll, tissue dan lainnya. Batik ini kemudian menerima nilai yang mempresentasikan budaya Dayak.

Narasi tentang burung ini juga ditemukan dalam tarian masyarakat yang menceritakan relasi Suku Dayak, Jubata dan hutan sebagai sinergitas kehidupan. Tarian-tarian ini dilakukan hanya dalam waktu-waktu tertentu dan diciptakan sesuai dengan situasi seperti gawai adat.

“Selain itu narasi tentang burung rangkong juga diungkapkan pada ukiran-ukiran Dayak, baik pada perisai maupun ukiran sebagai ornamen-ornamen adat,” ucapnya.

Namun, konsep budaya ini ternyata tidak sejalan dengan kenyataan, Pada survei yang dilakukan Rangkong Indonesia bersama Kehati, YRJAN, dan TFCA (2018-2020) menyebut mayoritas responden tidak mengetahui nilai budaya dan nilai adat dari rangkong.

Tercatat ada 86 persen responden mengaku tidak tahu bahwa maskot Provinsi Kalbar adalah rangkong gading. Bahkan sebagian besar (74 persen) menyebut enggang cula sebagai maskot resmi daerah mereka.

Survei ini juga mengungkap bahwa 52 persen responden pernah berburu rangkong. Mirisnya lagi, rangkong gading menjadi jenis yang paling banyak diincar (80 persen). Krisis rangkong gading karena diburu untuk keperluan pasar gelap global.

Survei itu dilakukan terhadap 513 orang di beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu. Di antara para responden itu, 84 persennya adalah suku Dayak. Walau memang suku Dayak memiliki keberagaman yang tidak sederhana.

Di Kalbar saja terdapat 151 sub suku Dayak dengan 168 bahasa. Setiap suku Dayak memiliki pemahaman dan filosofi yang berbeda. Karena itu tidak bisa menafikan adanya perbedaan sejarah di setiap suku Dayak lainnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini