Menjaga Burung Endemik Sumba dari Kepunahan

Menjaga Burung Endemik Sumba dari Kepunahan
info gambar utama

Kawan GNFI, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan salah satu kawasan dengan jumlah keragaman endemik burung terbesar di Indonesia. Sedikitnya ada 215 jenis burung di pulau itu. Jumlah itu ikut menyumbang dalam 1,794 ragam jenis burung yang ada di Indonesia.

Akan tetapi dari jumlah itu, Indonesia menempati peringkat pertama dengan jumlah burung endemik terbanyak di dunia, yakni sebanyak 527 jenis.

Artinya, 527 jenis burung itu hanya ada di Indonesia. Bahkan burung-burung tertentu hanya ada di satu pulau, seperti halnya di Sumba. Ironisnya, sebagian besar burung itu terancam punah dan bahkan sebagian besar sudah di ambang kepunahan.

Jumlah spesies burung di Indonesia
info gambar

Upaya pegiat konservasi burung

Salah satu upaya pencegahan hilangnya burung endemik Sumba dilakukan oleh para pegiat konservasi burung, yakni Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Burung Indonesia. Berdiri sejak 1997, secara garis besar Burung Indonesia cabang Sumba yang berkantor di Jalan Trans Waibakul Waingapu, Desa Wairasa, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat, Kabupaten Sumba Tengah, memiliki program kerja dengan kerangka tujuan pengelolaan habitat dan konservasi spesies.

Pengelolaan habitat yang dilakukan meliputi aspek teknis tata kelola kawasan hutan, pemberdayaan dan partisipasi masyarakat, serta kolaborasi pelbagai pihak. Kegiatan difokuskan di kawasan Taman Nasional Manupeu Tanadaru, serta Laiwangi Wanggameti, dan 27 desa di sekitarnya.

Sedangkan konservasi spesies adalah program yang menyorot secara langsung perlindungan spesies burung kunci di Pulau Sumba. Burung kunci yang dimaksud adalah delapan burung endemik dan lima burung paruh bengkok.

Burung Indonesia juga beberapa kali mencegah perdagangan burung endemik ke luar pulau Sumba. Data yang mereka catat menunjukkan, bahwa jenis burung yang seringkali diselundupkan oleh para pemburu dan kemudian ditadah adalah jenis spesies Kakatua kecil jambul kuning.

Kakatua kecil jambul kuning
info gambar

Dampak luas hutan bagi habitat burung

Burung Indonesia juga mencatat penurunan luas area hutan di Pulau Sumba sejak 1927 sehingga berdampak langsung pada kelestarian habitat burung khas di Sumba.

Pada 1927, luas area hutan di Pulau Sumba adalah 610,470 hektare atau 50 persen dari dataran Sumba. Hingga 1992, hutan di Sumba tersisa 107,100 hektare. Bahkan data terakhir per 2000 menunjukkan luas hutan hanya 69,615 atau 6,5 persen dari total wilayah Sumba.

Dengan penyusutan jumlah area hutan tersebut dipastikan jumlah ekosistem burung menyusut tajam. Padahal 10 dari 215 jenis burung khas Sumba punya habitat dan penyebaran terbatas.

Dalam catatan Burung Indonesia, 10 jenis burung endemik Pulau Sumba itu adalah;

  • Julang Sumba,
  • Madu Sumba,
  • Gemak Sumba, Punai Sumba,
  • Punggok Sumba,
  • Sikatan Sumba,
  • Mizomela Sumba,
  • Sikatan cokelat Sumba,
  • Walikrawananu,
  • Punggok Wengi, dan
  • Kakatua kecil jambul kuning.

''Dari 10 jenis burung endemik tadi, untuk menjaga kebanggaan Pulau Sumba dan sebagai warisan untuk anak cucu, perlu kiranya semua pihak bekerjasama untuk saling menjaga dan mendukung dalam upaya konservasi jenis dan habitat burung-burung tersebut,'' kata Yohanis Balla Djawarai, koordinator fauna Burung Indonesia di wilayah Sumba, pada penulis beberapa waktu lalu.

Burung, jadi barometer kelestarian hayati

Bagi Burung Indonesia, sambung Anis--sapaan akrabnya, satwa burung merupakan sebuah barometer keragaman ekosistem. Melalui burung, tumbuh pohon-pohon baru yang secara berkesinambungan menjadi hutan dan tempat tinggal beragam satwa.

Anis juga menyebut bahwa bukan hanya kewajiban pihaknya untuk menjaga habitat serta kelestarian burung-burung khas di Pulau Sumba, tapi juga harus dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat Sumba. Baik yang berada di lingkup perkotaan maupun di pelosok.

''Oleh karena itu kami tak segan untuk melakukan kunjungan untuk memberikan dan berbagi informasi ke mereka perihal kelestarian burung. Mungkin bagi sebagian masyarakat burung tidaklah penting, tapi bagi kami, burung merupakan barometer pertumbuhan hutan dan ekosistem satwa unggas,'' pungkasnya.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini